"You okay?" Jackson melirik singkat dari bangku kemudi.
"How am i supposed to be okay, Jack?"
Gumam pelan di balik kepalan tangannya membuat Jackson kembali terdiam memfokuskan pandangannya ke jalan.
"Apa yang terjadi dengan Jimin dan yang lain?" Seokjin melayangkan tatapan pada kerlip lampu di luar kaca jendela mobilnya.
"Mereka sempat keluar setelah aku memberitahunya"
"Kuharap mereka baik-baik saja..." Mini Cooper biru itu berbelok perlahan setelah melewati rumah sakit.
"Apakah semua malaikat maut diajarkan menyetir disana?"
Pertanyaan datar pelan itu mengundang tawa sang pria. Jackson mengusap wajahnya kasar dan menoleh singkat.
"Seokjin, maafkan aku..."
"Namjoon akan baik-baik saja"
"He's stronger than you think..."
Gumpalan darah hitam terlontar dari bibir terbukanya. Namjoon tersungkur memeluk perutnya di hadapan sang algojo.
"Lagi dan lagi kau melindungi apa yang seharusnya menghilang, tentara..." Suara langkah teratur itu terdengar mendekat di belakangnya.
"Berapa kali harus kutekankan bahwa gulungan benang takdir itu mutlak adanya, hmm?"
"Screw that!"
Sebuah pukulan keras kembali melayang mengenai pelipisnya. Kini tubuh lemah itu terguling dan meringkuk di lantai batu dingin.
"Baiklah....." Sang Tetua berjongkok dan mengusap pelan kening sang pria yang sontak menjauh.
"Jika kau terus bersikeras seperti ini, maka aku pun tidak memiliki pilihan lain"
"Tahan dia...." Kaki berbalut kain hitam itu berdiri kemudian mengayunkan jemari berkerutnya pada dua sosok besar yang beberapa waktu lalu memukulinya.
"Mulailah ritual pembukaan penjara terlarang" Duduk di singgasananya setelah Namjoon tak lagi berada di ruang besar itu, sang Tetua memerintahkan beberapa prajuritnya yang hanya terdiam dengan tatapan ngeri.
"T-tapi, yang mulia....."
"Apakah yang mulia yakin...."
"Kau melawan?" Ucap terbata seorang prajurit terhenti oleh tajam manik hijau berkilat yang menatapnya.
"Kalimatmu adalah perintahku, yang mulia" Sang prajurit pun tertunduk melangkah mundur kemudian keluar bersama dengan beberapa orang prajurit lainnya.
Namjoon meringis mengusap sisi abdominalnya, menopang tubuhnya yang lemah dengan siku sebelum lututnya berusaha untuk berdiri.
Sangkar besi beralas batu dingin dan tiang baja itu mengelilinginya. Ia terkekeh pahit lalu membuang saliva hitamnya. Ia seorang penjahat besar sekarang, pikirnya.
Dua algojo dengan kapak besar menatap dingin dari balik penutup kepala. Namjoon bersandar lemah pada dinding lembab di punggungnya yang terasa nyeri.
Malam ini para algojo itu berhasil menghabisi raganya.
"Malaikatku......"
"Apakah Jackson berhasil membawamu pulang?" Ia tertunduk menopang kepala beratnya dengan kedua lengan di atas lutut.
"Apakah para malaikat maut itu mengejarmu?"
"Damnit........" Kembali ia mengusap tulang rusuknya yang sakit. Tubuhnya teramat lelah untuk berdiri. Sosok tegap itu pun terkulai lemah tanpa perlawanan.
"Whoa!" Jackson terseret masuk ke dalam ruang gelap saat tengah mengendap-endap mencari sang sahabat.
"Dimana Namjoon?!"
Sosok polos bermanik bening itu meletakkan telunjuk berkuku panjangnya di bibir.
"Tetua telah kehilangan kesabarannya...."
KAMU SEDANG MEMBACA
Fate
Fiksi Penggemar"I just want a normal life, but then i think of it....what is normal in general?" another [NamJin] story #angst #hurt-comfort #happyending in #anotherlife
