10] Pembunuhan

1.9K 307 42
                                        

Yoona mengernyit kesal, ia dan Siwon berakhir di balkon belakang setelah ia menarik sang suami yang baru pulang kerja untuk berbicara dengannya.

Tentunya setelah Jemian terlelap.

"Kau harus berjanji! Kau harus memastikan bahwa Jemian akan baik baik saja, aku tak mau dia terluka atau--bahkan dihabisi oleh keluarga mu!"

"Kau berjanji kan?! Mereka tak akan membahayakan Jemian, bukan?!"

Siwon menatap Yoona lekat, tampak berpikir sebelum membuka suara, "Harusnya aku yang bertanya, apa semua keponakan ku akan aman dari Jemian?"

Yoona menatap Siwon tak percaya, "Kau--bertanya seolah putra ku adalah pembunuh, berani sekali kau!"

"Aku dan ayah ku membesarkan Jemian dengan baik! Dia anak yang baik, bukan manusia gila seperti yang kau tuduh itu!"

"Aku hanya bertanya--"

"Kenapa? Apa putra ku terlihat seperti berandalan di mata mu? Apa putra ku terlihat seperti akan membunuh saudaranya? Putra ku terlihat seperti pembunuh bagi mu?!" Yoona berseru tak terima.

"Putra ku anak baik baik bukan bajingan pengecut seperti mu dan keluarga mu!"

Siwon berdecih, "Kau--sepertinya lupa, DNA tak pernah berbohong, Yoona."

Senyum miring Yoona terbit, "Tidak, dia bukan lelaki pengecut seperti mu, bukan manusia brengsek seperti keluarga mu. Putra ku berbeda dari kalian--"

Yoona menarik kerah kemeja Siwon, "Itu yang selalu dia katakan pada ku. Mama, aku tak memiliki sedikitpun sifat dari keluarga orang yang harusnya ku sebut ayah."

"Dan aku, aku--melihat sendiri bagaimana putra ku tumbuh dan bagaimana sikap nya."

"Jangan menuduh putra ku dengan pemikiran sempit mu itu."

___________________________

Jemian terpaku, menatap tak percaya pada mayat bersimbah darah di depan kelas mereka.

Gila..

Ini benar benar gila..

Teriakan takut dan heboh terdengar dari semua murid yang berkumpul, sirene polisi mulai terdengar, tubuh Jemian di tarik ke belakang entah oleh siapa.

"Kak? Kakak baik baik aja?" Jivan, lelaki yang menarik Jemian itu menepuk bahu nya berkali kali.

Jemian mengerjap, tampak terdiam ling lung dengan wajah pucat, "Ya, gue baik baik aja.."

Tidak, perut Jemian rasanya seperti di aduk, kepalanya pusing melihat banyak nya darah tadi.

"Monyet, siapa yang buang mayat disitu? Udah kayak buang sampah aja," gumam Jemian amat pelan.

Jivan menyodorkan sebotol air mineral pada lelaki itu, "Nih, minum dulu."

"Sering kejadian gini?" tanya Jemian kala sadar wajah santai Jivan.

"Heem, udah--3 kali?" Jivan tampak tak yakin, tak menoleh juga untuk melihat mayat yang kini tampaknya akan di bawa tersebut.

Jemian meringis, ah disini gila juga..

"Mau aku anterin ke UKS?"

Gelengan Jemian berikan, "Gue fine, thanks."

Jivan memilih mengangguk, menatap lekat Jemian yang kini bersandar pada pilar koridor seraya kembali meneguk air mineral yang Jivan berikan.

"Jemian!"

Teriakan Ning ning terdengar membuat Jivan menoleh dan Jemian mendongak, menemukan gadis itu berlari mendekat.

THE HEIRSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang