selamat tahun baru guyss, walaupun telat siih
aku harap tahun ini semua hal di hidup kita semakin membaik, begitu juga dengan diri kita. mari sambut tahun baru dengan diri baru yang lebih baiiik:)
____________________________
"Lo kagak usah deket deket deh sama
Jivan, lagipula dia adek kelas, gak usah peduliin," ucap Jay yang merangkul Jemian, menahannya untuk tak mendekati Jivan yang tampak butuh bantuan mengangkat buku buku.
"Hm? Gue cuma mau nolongin?"
Jay mendengus, dengan enteng mendorong kepala Jemian pelan, "Gak usah juga, sok baik amat lo kriminal."
"Gue bukan kriminal, jangan nyebarin rumor jelek gitu, nanti ketenaran gue jatuh."
Tawa Jay mengudara, "Lo tenar karena keliatan cupu tau!"
Jemian mengangkat kedua alis nya, "Oh ya? Berarti gue harus lurusin dulu biar ketenaran gue bener."
Jay berdecak, masih sedikit aneh melihat sisi tengil Jemian seperti ini, Jay pikir lelaki ini cool atau mungkin pendiam dan seorang kutu buku, tapi tak mungkin sih, mana ada kutu buku yang mewarnai rambut sampai semenyala itu?
"Sial, rame banget," keluh Jemian kala melihat kantin, tak rame sih, buktinya tak semua meja dan kursi penuh.
"JAY! JEMIAN!"
Itu Herzy, berteriak dan melambai tanpa malu, yang malu tentu Jay, Jemian? Anak itu malah balik melambai dan melangkah mendekat, tiba tiba saja tingkahnya berubah.
"Lah, itu beneran Jemian? Kok gitu?" Ricky mengernyit aneh, Jemian sepertinya kemarin masih sedikit pendiam dan datar.
Herzy ikutan meringis, "Kayak nya gila nya kita nular?"
Ni-ki mendengus, "Emang, baru sadar kalian?"
_________________________
"Oh my gosh! Lo sama Jemian anak baru itu?"
"Tapi dia kayaknya penjilat gak sih? Liat aja dia di tengah tengah Harvey," Yuna menunjuk meja Jemian dengan dagu nya.
Disana, Jemian tampak berbicara dengan Herzy dan yang lain seolah mereka teman. Winter memilih diam meski tau kenyataan bahwa Jemian juga termasuk anggota keluarga Harvey.
Winter mendengus, "Peduli apa gue, itu urusan dia."
"Ya lo deket sama dia?" sahut Lia seolah bertanya.
"Sejak kapan?"
"Sejak pagi tadi kalian jalan berdua di koridor sampe di anter ke kelas," Yuna mengerling jahil, mengundang tatapan kesal Winter.
"Gue gak deket--"
"Iyaps, jangan deket deket sama temen gue, deh," Ning Ning menyahut saat melewati mereka.
Gadis itu menatap Winter sinis, "Males banget gue ngeliat lo ngedeketin semua orang sama tampang sok cantik lo itu."
Lantas Ning ning melanjutkan langkah nya, "Dasar nenek sihir, lo pasti berencana ngebuat Jemian gila sampe bunuh diri kayak Beomgyu."
"Woah, Ning ning kayak nya suka Jemian? Atau cuma mau di mainin?" tebak Yuna.
Winter diam, ah, benar. Cih, Ning ning menuduhnya, padahal jelas gadis itu yang akan bersikap seperti Siren, memikat lalu membunuh.
Lia memainkan sedotan di gelas nya, menatap Jemian yang lumayan mencolok dengan rambut nyaris putih nya itu, "Tapi Jemian ganteng, apa gue deketin, ya?"
"Palingan bentar lagi juga jadi mangsa bully anak Harvey atau yang lainnya, jangan deketin calon murid buangan kayak dia walaupun ganteng."
Tak lama lagi juga pasti Jemian akan hancur, Harvey memang gila, mendekati kemudian menghancurkan tanpa belas kasih.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE HEIRS
Ficção AdolescenteDunia yang tak pernah Jemian bayangkan, perlakuan yang tak pernah Jemian terima, tugas dan kewajiban yang tak pernah Jemian pikirkan. Semua itu--kini terpampang jelas di hadapannya, menyerang nya tanpa memberi celah sedikitpun.. Dan itu--hanya kare...
