"Jemian~" Ning ning muncul, meludah permen karet di mulutnya asal. Ia mendorong gadis tersebut dengan kasar, mendekat dan memeluk lengan Jemian yang kini berdecak kesal.
"Bitch, gue peringatin lo semua. Berani lo pada deketin dan ganggu Jemian, atau ucapin selamat tinggal ke wajah hasil oplas kalian itu."
Jemian melirik Ning ning, gadis ini gila juga..
"Ayo, kita ke kantin. Atau mau keliling sekolah ini?"
Keduanya melangkah, Jemian menyempatkan melempar lirikan tajam pada gadis gadis tersebut.
"Jemian."
"Hm?"
Ning ning menarik senyum manis seraya menatap Jemian, "Selamat datang di keluarga Harvey."
"What--"
PRANGGG
Jemian terdiam, menatap Ning ning yang masih santai setelah mendorong Jemian hingga punggung nya membentur dinding lumayan kuat, menghadirkan nyeri untuk beberapa saat.
Netra hazel Jemian menatap pot yang kini pecah di lantai, ia mendongak, menemukan tak ada siapapun di atas sana.
Sial..merepotkan..
Ning ning terkekeh, "Kaget? Ini bakal jadi makanan lo sehari hari, kalau ini sih cuma serangga kecil."
Jemian lagi lagi berdecak, "Harvey emang sampah.." gumamnya.
"Halo kak," seorang lelaki menyapa, tinggi nya setara dengan Jemian, atau mungkin sedikit lebih tinggi?
"Haii Jivan, mau ke perpus? Mau kakak temenin gak?" tanya Ning ning dengan senyum lebar.
Jivan, lelaki berkulit putih pucat dan mengenakan kacamata itu ikut tersenyum manis, "Gak perlu, ini--kak Jemian?"
"Iya, kenalan dulu dong, anggota keluarga baru kita."
Jivan tersenyum, masih sama manisnya, mengulurkan tangan pada Jemian, "Senang bisa ketemu sama kakak lagi."
Jemian mengernyit, namun Ning ning tampaknya tak mendengar, sudah menjauh kala ada panggilan masuk.
"Kita pernah ketemu?" Jemian membalas jabatan tangan Jivan.
Jivan mengangguk, Jemian bersumpah anak itu benar benar aneh karena terus tersenyum manis dengan raut polos yang bisa menarik perhatian siapa saja.
"Kakak-- jadi beda jauh dari dulu ya?"
Jemian tak mundur kala Jivan mendekat selangkah, "Aku suka topeng kakak."
"Kalau butuh bantuan hubungin aku."
Tau tau Jivan sudah menarik tangan Jemian, menulis nomornya di telapak tangan lelaki itu menggunakan pena hitam yang ia bawa kemanapun.
"Bye, aku duluan ya kak," Jivan melambai singkat pada Ning ning dan segera berlalu setelah gadis itu mengangguk sekilas.
"Beda jauh? Topeng?" Jemian spontan berbalik, menatap punggung Jivan yang kini menjauh.
"Kenapa? Dia gemesin banget, kan? Beda jauh sama kakaknya, Jivan ramah plus baik, rajin juga," papar Ning ning yang kini mendekat.
"Dia kelas berapa?" tanya Jemian penasaran.
"Dia? Kelas 1 SMA, harusnya masih 3 SMP, tapi dia bisa disini karena otak jeniusnya."
Oh, perasaan Jemian jadi tak enak..
_____________________________
"Minggir sana lo, nempel mulu sama Jemian kayak lintah," datang datang Jay sudah menyerobot di tengah Ning ning dan Jemian.
Padahal Jemian sedang tenang mendengar penjelasan Ning ning tentang setiap sudut sekolah.
"Apaan sih lo? Sana godain adik kelas--"
"Gue mau bicara sama Jemian, lagian Herzy sama Ricky juga nungguin kita, sana lo tambal make up lo aja, tuh alis lo hilang setengah."
Jemian hanya pasrah saat Jay merangkulnya, menariknya entah kemana, ia menoleh pada Ning ning yang kini melambai dengan senyum manis.
"Lo kenapa pindah ke sini? Jauh banget dari California."
"Ngeribetin diri," jawab Jemian asal.
Jay berdecak, "Muka lo muka muka kriminal, kabur dari polisi ya lo?"
"Kok tau?"
"...." Jay sontak melepas rangkulan nya, menatap Jemian yang kini menatapnya datar.
"Apa? Gue gak bakal bunuh lo dikoridor, ayo ke kantin, gue laper."
Keduanya tak sadar, atensi murid murid di koridor mulai teralih pada mereka. Jay kembali merangkul Jemian.
"Btw, hati hati ya. Hidup lo mulai bahaya, yaah semua sesuai sama yang lo sandang, besar kekuasaan, besar juga ancaman."
Jemian tersenyum geli, mengangguki ucapan Jay dengan santai.
"Dan satu hal, walaupun lo nyandang marga Harvey, jangan ganggu satu cewe yang rambutnya pirang disini."
"Siapa?" tanya Jemian tak berminat.
"Winter, Winter Athanasia Kyne."
Kyne?
Jemian menoleh, "Why? Dia makan orang?"
"Yaah semacam itulah, yang jelas dia kayak siren yang mikat cowo lewat suara, mau secantik apapun, jangan tertarik atau deketin dia."
Jay tiba tiba terdiam, netra nya menatap lelaki yang berjalan dari arah berlawanan dengan mereka, "..dan satu lagi, hindarin anak polos yang make kacamata itu."
"Hm? Jivan? Dia saudara gue--"
"Persetan, tuh anak mirip hantu, putih banget, atau mungkin dia hantu?"
..Jay sekonyol ini?
____________________________
Gadis berambut pirang itu berdecak, "Padahal pot nya mahal, sayang banget gak bisa nyapa kepala dia.."
Senandung pelan terdengar di toilet yang sepi itu, netra kelamnya menatap pantulan dirinya sendiri di cermin, ia dengan hati hati merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Winter lo di cariin Ning--" ucapan Yeji terhenti, menatap Winter yang kini sedang memakai lipstick.
"Hm? Gue lagi gak berniat ribut sama saudara lo itu," jawab Winter malas.
Yeji sontak memutar kedua bola matanya jengah, "Ngapain juga lo ganggu Jemian?"
"Kenalan? Anggota keluarga baru kalian, kan?"
Yeji terdiam, menatap Winter yang kini melempar senyum mengejek lewat pantulan cermin.
"Btw, gue cuma ingetin sih. Hubungan antar keluarga kan juga buruk," Winter berbalik, menatap Yeji dengan senyum yang belum luntur.
"Gue liat--Jivan terus merhatiin Jemian, kayaknya ini pertanda buruk?"
Deg
Yeji seketika terdiam, raut panik yang berusaha ia sembunyikan dapat di tangkap dengan mudah oleh Winter yang kini tertawa pelan.
Winter kembali bersenandung, "Aahh Harvey yang damai~"
aku uppppppp
ada yang nungguiiin?
ayo komen yang banyak di tiap paragrafff, sepi banget..
kalau komennya bnyk aku usahain up secepatnyaa
so, komen yang banyak seng..
see u di next chap, lop u all
jangan lupa vote dan komen💚💚
KAMU SEDANG MEMBACA
THE HEIRS
Teen FictionDunia yang tak pernah Jemian bayangkan, perlakuan yang tak pernah Jemian terima, tugas dan kewajiban yang tak pernah Jemian pikirkan. Semua itu--kini terpampang jelas di hadapannya, menyerang nya tanpa memberi celah sedikitpun.. Dan itu--hanya kare...
