28] Pancingan

1.1K 185 33
                                        

"Kenapa? Apa ini hal penting sampai kamu seperti ini?"

Jemian masih diam, ia menatap Siwon ragu, "Aku--ingin meminta tolong."

"Apa?" Siwon menjawab cepat, tak biasanya anak ini meminta tolong.

"Cari cara supaya aku bisa keluar dari kamar, sehari aja, tolong bujuk mama, atau mungkin ada cara lain."

Hening, Siwon menatap Jemian lekat.

"Kenapa tak kabur saja? Tak ada yang berjaga, lompat saja lewat balkon, tak berani melompat? Ini hanya lantai 2."

Jemian mengacak rambutnya kasar, "Bisa bisa mama membunuh ku!"

Apa...APA?!

Tatapan Jemian menyorot Siwon, "Memang kau tau apa? Kau pikir mama tak bisa melakukannya? Aku hampir mati berkali kali di tangan mama, disini tak ada daddy, tak ada yang bisa menyelamatkan ku jika aku membangkang dari mama."

Siwon terpaku, masih tak percaya pada hal yang baru saja ia dengar, ia membalas tatapan Jemian, penuh keyakinan, anak itu tak berbohong sedikitpun...

"Bantu aku, aku--akan menuruti satu permintaan mu, adil bukan?"

Siwon berdehem, bersandar pada dinding, menatap Jemian yang duduk di pinggir kasur, "Memang mau kemana? Jangan membuat kekacauan di luar sana."

"Ini penting, aku gak bakal buat kekacauan, kenapa mikir buruk terus, sih?" gaya bicara Jemian berubah lebih santai.

"Baiklah, papa--ehem, papa akan membantu mu keluar besok, jangan ingkar janji, kamu harus memenuhi satu permintaan, ingat itu."

Jemian memutar kedua bola matanya malas, "Iya iya, aku gak suka ingkar janji, aku gak punya sifat kayak papa sedikitpun."

...dasar! Jemian tak bisa hidup ya kalau tak menyindir Siwon?





___________________________






Jay mengernyit, menoleh kala mendengar pintu apartnya terbuka, menemukan Ning ning masuk, ah, ia lupa mengganti kata sandi...

"Jay? Kenapa? Kusut banget muka lo liat gue, perasaan kita gak marahan, deh," bingung Ning ning.

Ia datang karena Jay tak pernah lagi ke apartnya sejak kemarin siang, biasa lelaki itu lebih banyak menghabiskan waktu di apart Ning ning daripada di tempat lain, walau hanya sekedar menonton tv atau bersantai di balkon.

"Gak, mood gue lagi jelek aja," jawab Jay dengan raut datar, membiarkan Ning ning duduk di sofa, tepat di hadapannya.

"Kenapa? Ada masalah? Sini cerita, gue dengerin," ucap Ning ning, memberi seluruh perhatiannya pada Jay.

Kedua tangan Jay terkepal erat, bimbang dengan perasaannya sendiri, ia menyukai Ning ning, namun--perlahan lahan perasaan itu semakin kalah dengan perasaan kesal dan marahnya setiap kali Ning ning bersikap seolah bagai manusia tak punya hati, tahun ke tahun, selalu begitu, menciptakan banyak korban yang jelas jelas tak bersalah.

"Jay?"

Jay beranjak bangun, "Gue gak bisa cerita, gue harus pergi ke rumah temen sekarang, lo kalau mau makan, makanan ada di kulkas, atau kalau mau pesan, kartu sama duit gue juga ada di laci, gue duluan."

"Lo kenapa sih?!" Ning ning menahan tangan Jay, ikut berdiri dan menatap Jay.

"Lo ngehindarin gue? Lo marah sama gue?"

Jay menghela nafas kasar, "Gue buru buru, gue gak marah, lo urus aja urusan lo sama Herzy--"

"Lo marah soal Jemian? Senio? Lo marah soal rencana gue?"

THE HEIRSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang