31] Rekaman dan kehancuran

1.6K 210 38
                                        

"Kalau ayah bawa Jivan, aku akan bunuh diri!"

"Aku benar benar akan bunuh diri!" Ancam Irene, berdiri di hadapan Jivan, melindungi putranya dari para pengawal yang hendak mendekat.

"Ayah, ku mohon, jangan biarkan aku kehilangan dua anak ku dalam satu hari..."

"Jangan kasar! Biarkan ibu tenang dulu," Soobin memperingati saat seorang pengawal akan menarik Irene.

"Irene, kita harus mengobatinya, jangan biarkan dia jadi aib Harvey, jangan biarkan dia gila tanpa pengobatan!" Yasa berkata tegas, cukup bersyukur tak ada media satupun atau semua akan gempar dengan kejadian ini.

"Tidak, aku tak bisa jauh dari putra ku, aku baru saja kehilangan Kath, aku tak bisa, ayah," Irene terisak, menggenggam erat tangan putra nya, menatap memohon pada Yasa yang masih diam tanpa ekspresi berarti.

"Kak, ayah benar, kita harus mengobati mental Jivan, jika tidak, mungkin saja akan ada kejadian buruk lainnya ke depan saat kakak tak bisa melindungi nya lagi, dan Jivan akan dalam bahaya, ini juga demi kebaikannya, agar dia bisa hidup tenang," Lisa ikut bersuara selembut yang ia bisa.

Irene memang masih amat berduka, namun Jivan harus di bawa, atau bisa saja ada kejadian yang lebih buruk dari tadi.

Yang di bicarakan masih diam, menunduk menatap punggung rapuh sang ibu, bahkan suara isakannya yang masih terdengar, rahang nya mengeras, apalagi kala tangan Irene yang menggenggam tangannya terasa gemetar, Jivan--tak mau jauh dari sang ibu di saat Irene masih amat berduka seperti ini.

"Kakek--"

"Diam, aku tak memberi mu kesempatan bicara, sikap mu--benar benar kelewatan kali ini," Yasa menyela cepat.

"Ayah, istri ku benar, tolong biarkan Jivan tetap bersama kami untuk sementara ini--"

"Sayang--"

"Aku tak akan membiarkannya bahkan jika hanya keluar kamar, aku akan mengawasi Jivan, ku mohon ayah," Cello ikut membujuk.

Soobin menatap raut sang adik, ia menarik nafas dalam, sebelum memilih ikut membela dengan kekuatannya sebagai sulung di antara semua, "Kakek, aku bisa menjaga Jivan. Kami mohon, jangan bawa dia. Jika nanti waktunya tepat, kami akan membawa nya ke California atau Jepang, kami tak akan membiarkan perilaku buruk Jivan, kami akan memanggil psikolog juga, kakek bisa percaya pada ku, bukan?"

"Aku akan menjaga Harvey seperti yang kakek lakukan selama ini, aku pasti tak akan membiarkan apapun mencemari nama Harvey, aku pasti akan menjaga Jivan, tolong percaya pada ku dan ayah."

__________________________









Tak asing, Jerzy pernah beberapa kali merasa setakut ini, amat gelisah dan khawatir.

"ASH!"

Jerzi berlari mendekati Jemian yang tergeletak dengan kepala berdarah, tanpa pikir panjang mendorong Yoona menjauh begitu saja.

"Jangan ikut campur urusan ku dan putra ku, ayah--"

"DIAM! ASH ADALAH CUCU KU!"  Jerzi membentak dengan amat keras, lantas mengangkat tubuh Jemian dan berlalu begitu saja keluar dari rumah.

Khawatir, Jerzi selalu khawatir dengan kondisi cucu nya, ini bukan pertama kali Jemian dalam bahaya seperti ini...



"P-putra ku, Jemian ku, dia akan baik baik saja, kan, ayah?" Yoona yang duduk di samping nya melirih gemetar, apalagi kala melihat bercak darah di baju Jerzi yang tadi membawa Jemian.

"Pasti, mari berharap yang terbaik, Jemian kuat, dia akan baik baik saja," bisik Jerzi berusaha menguatkan.

"Aku akan kembali ke kediaman utama Harvey, kabari aku jika operasi nya selesai," Siwon berlari pergi begitu satu pesan masuk.

|Jivan akan tetap disini
|Dia akan tetap di kediaman nya
|Cello dan Soobin membela nya

Mereka--akan melepaskan Jivan begitu saja? Setelah nyaris membunuh Jemian?

Kilat di mata Yoona berubah tajam, "Harvey...ini semua karena mereka...ini semua karena mereka..."

"Mereka...mereka semua--harus hancur..."

"Yoona--"

"Aku akan menghancurkan Harvey!"





___________________________




Jay terdiam, tangannya yang memegang hp gemetar, netra kelam nya masih menatap video yang terputar di hp nya.

Video--yang menunjukkan bagaimana Ning ning, Herzy, dan bahkan Serim yang hanya diam saat salah satu siswi melompat dari rooftop tepat di hadapan mereka, seolah itu hanya tontonan biasa dan mereka tak berniat mencegah aksi bunuh diri itu. Tawa dari si perekam terdengar jelas seolah itu hal lucu saat tubuh tersebut melayang kebawah.

xxxx
|Surprisee!
|Satu tembakan untuk 3 sampah
|Bukankah aku sangat beruntung?

"E-engga," Jay berusaha mengetik balasan dengan cepat, setidaknya memohon agar video itu tak tersebar dan membuat nama Ning ning jatuh.

Ting!

xxxx
|Terunggah!
|Selamat memilih
|Membela mereka, atau kau akan
menyelamatkan diri mu sendiri?

"Arghhh! Siapa sih?!"

Ting!

xxxx
|Aku akan sedih jika kau membela
pembunuh
|Dan kau bodoh jika melakukan nya
|Apa kau bodoh, atau tidak?

Belum sempat Jay membalas, grup sekolah heboh, notifikasi masuk tanpa henti, dan--notifikasi dari artikel yang tampaknya memuat--hal baru yang menarik tersebut.

Seolah menunjukkan bagaimana Harvey menyalah gunakan kekuasaan.

"Jemian, ini pasti--Jemian!"

Cklekk

"Jay, mau ke rs? Nyokap Jemian di rs, operasi Jemian belum selesai, gue sama Jake mau kesana, lo mau ikut?"

Ah, bukan Jemian?

"Jay?" Sava mengernyit, apalagi melihat raut pucat Jay "Lo kenapa? Lo baik baik aja?"

"Sava, buka--artikel yang baru di unggah hari ini."

Sava mengernyit, tak terlalu tertarik, namun akhirnya memilih menurut karena ucapan bernada serius dari Jay, "Kenapa sih, gue gak suka liat berita--"

Hening, keduanya terdiam, Sava tampak shock, dan Jay masih merenung dengan raut ling lung. Ruangan tersebut hanya di isi keheningan, keduanya sama sama tak membuka suara dan sibuk dengan perasaan masing masing.

"...gue gak nyangka mereka se sampah ini," hanya itu komentar dari Sava setelah terdiam nyaris beberapa menit.

"Ah, gue paham, lo khawatir sama Ning ning? Hah, bodoh banget," Sava berdecih, seolah tak peduli dengan Jay yang masih tampak begitu cemas.

"Ayo, kalau lo gak mau pergi gue tinggal, gue gak punya waktu liat perasaan drama lo ini, gak kalau buat manusia kayak mereka," sambung nya lagi, meraih jaket di gantungan baju dan melemparnya ke arah Jay, lantas berlalu keluar begitu saja.

"Cepet! Kalau gak gue tinggal!"




__________________________



"Ayah! Jivan berbahaya, bagaimana bisa ayah membiarkannya. Ayah sepercaya apa pada Cello dan Soobin? Ayah ingin anak itu mencoreng nama Harvey? Dia pasti akan bertingkah gila lagi ke depannya--"

"Siwon!"

Nafas Siwon menderu tak teratur, tampak emosi, "Ayah, ini keputusan buruk, apa ayah sudah memikirkannya dengan baik? Jivan--nyaris membunuh putra ku!"

Yasa menghela nafas pelan, "Ayah percaya--"

Cklekk

"Tuan besar, maaf mengganggu. Namun--kita lagi lagi menjadi mangsa media publik, satu rekaman tersebar luas, anda bisa melihatnya sendiri."

Siwon ikut mendekat, melihat pada rekaman yang di putar tersebut hanya untuk merasa kaget dan tak percaya, ia menoleh pada Yasa yang kini tampak amat marah.

Ah, hancur sudah nama Harvey...

"Panggil mereka semua kemari! Ning ning, Herzy, dan Serim!"

THE HEIRSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang