"Jemian!"
Jemian seketika terdiam kaku mendengar suara Yoona, apalagi saat wanita itu mendekat dan menangkup wajahnya, meneliti wajah sang putra, memastikan tak ada luka, mengabaikan semua orang di ruangan kepala sekolah itu.
Siwon menarik nafas dalam, "Jemian, kamu pulang duluan sama mama, ya."
Jemian mengangguk dan beranjak, "Aku gak salah, Kath udah bilang tadi."
Lantas ia berlalu keluar tanpa melirik yang lain, mengikuti langkah Yoona dengan hati was was. Bahkan sampai ke parkiran, wanita itu tak mengucapkan apapun, bahkan sampai Jemian masuk ke mobil! Yoona ikut masuk dan duduk di samping nya alih alih kursi depan.
"M-mama, bukan aku, mama harus percaya sama aku," ucap Jemian pelan, dengan amat hati hati beringsut menjauh dari Yoona.
"Dimana sopan santun kamu? Tatap mata lawan bicara kamu, atau kamu emang bohong?"
Jemian menoleh, mengangkat pandangan pada sang ibu dengan khawatir, "Bukan aku, m-memang aku, tapi--t-tapi aku gak ngelakuin hal buruk, aku berani sumpah."
"Mama maaf!" Jemian berseru panik kala tangan Yoona terangkat, ia memejamkan kedua matanya erat.
"Luka, apa Kath mukul kamu?" tanya Yoona, mengelus luka yang sepertinya dari goresan kuku panjang di pelipis sang putra.
"H-huh?"
Yoona menangkup wajah putranya, "Dia mukul kamu? Atau yang lain? Jelasin sama mama, bilang kenapa semua tiba tiba gini?"
Hening, Jemian hanya bisa diam, bingung harus menjelaskan bagaimana.
Tangan Yoona beralih mengusap rambut putranya dengan lembut, "Kerja bagus, lain kali kalau mereka memang ganggu kamu, kamu harus ngebela diri, mama gak suruh kamu untuk diam. Disini bahaya, Jemian."
"Mama--gak marah?" lirih Jemian bertanya.
Yoona tersenyum, "Enggak, tapi jangan sampai tindakan kamu juga berlebihan, ngerti?"
Jemian mengangguk cepat, "Iya, aku ngerti."
"Kalau ada apa apa bilang sama mama, kamu jangan takut," bisik Yoona lembut, lantas menarik Jemian dalam pelukannya.
"Mama bakal pastiin kamu aman disini, Jemian."
Jemian berdehem, "Aku juga, aku bakal lindungin mama."
____________________________
"Jemian."
"Ya?" Jemian yang hendak membuka pintu kamarnya berbalik, menatap bertanya pada Siwon yang memanggil nya.
"Ini benar benar ulah Helga?"
Jemian mengernyit, menatap sang ayah dengan pandangan datar, "Papa nuduh aku?"
Siwon diam, tak ingin menuduh, namun Helga--tak mungkin seceroboh itu.
"Mau gimanapun papa benci aku, jangan nuduh aku kayak gitu, karena apa? Karena aku--sudah berusaha menjadi putra yang baik, jadi tau dirilah, tolong jadi seorang ayah yang baik, Siwon," bisik Jemian kesal sebelum memilih masuk ke kamarnya.
BRAKK
Pintu kamar di tutup dengan kasar oleh Jemian, seolah menyalurkan amarahnya lewat sana.
Tidak, Siwon masih mencurigai Jemian..
__________________________
"Kenapa bisa tiba tiba Helga?!" Jay berseru tak percaya.
Herzy berdecak, "Sial, pas kita ngerencanain itu Helga ada dimana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
THE HEIRS
Teen FictionDunia yang tak pernah Jemian bayangkan, perlakuan yang tak pernah Jemian terima, tugas dan kewajiban yang tak pernah Jemian pikirkan. Semua itu--kini terpampang jelas di hadapannya, menyerang nya tanpa memberi celah sedikitpun.. Dan itu--hanya kare...
