Sebulan berlalu, harusnya ada banyak perubahan karena nyaris sebagian keturunan Harvey dikirim ke asrama, berhasil mengguncang keadaan sekolah, pun dengan media yang tak juga diam, terus menguak Harvey sampai ke akar seolah tak pernah puas.
Namun di belahan dunia lain, semua tetap sama, Yoona dan Jerzy tak kunjung di temukan, dan--
--seseorang yang tak kunjung membuka matanya, masih betah tertidur dengan tenang seolah butuh istirahat panjang.
"Kau menyebut diri mu dokter?!"
Dan ya, kemarahan seseorang pun masih sama.
"Jeriel, hentikan!" Lucius mendengus, lagi lagi menarik Jeriel untuk mundur, berusaha menenangkan lelaki itu seperti kemarin kemarin.
_______________________
"Ayah, dia pasti akan seperti bajingan itu! KENAPA AKU MELAHIRKAN ANAK LAKI LAKI?! DIA PASTI AKAN MENJADI BAJINGAN SEPERTI PRIA ITU!"
"Daddy..."
"Ash, masuk ke kamar mu ya? Sudah buka hadiah dari paman Billy?"
Anak berusia tujuh tahun itu menggeleng, "Tapi mama?"
"Mama hanya sedang marah," jawab Jerzy lembut, mengusap rambut cucu nya lembut.
"Karena aku?"
"Tidak, karena orang lain."
Anak itu mengerjap, menatap sang ibu yang masih marah, menatapnya tajam seolah ia telah melakukan kesalahan.
"Tapi mama menatap ku," sambungnya lirih.
"Benarkah? Entahlah, mungkin kamu salah lihat. Ayo, cepat kembali ke kamar mu, nanti sore kita akan berkuda, jadi kembali ke kamar mu, buka hadiah dari paman Billy, lalu istirahat, nanti sore daddy bangunkan, lalu kita akan berkuda bersama, atau--berkeliling dengan mobil?"
Hanya anggukan yang Jerzy dapat, cucu nya menatapnya lekat sebelum perlahan berbalik, melangkah menuju kamar, ya, setidaknya sebelum suara teriakan kembali menggema.
"Mau kemana?! MAU KEMANA KAU HAH?! KENAPA SIKAP MU KURANG AJAR SEKALI--"
Rahang Jerzy mengeras, "YOONA!"
***
PLAKK
Nafas Yoona terengah, menatap putranya tajam, "Siapa yang mengizinkan mu pergi dengan seorang perempuan? Siapa yang mengizinkan mu berpacaran? Kau benar benar mempunyai sikap bajingan dari pria itu--"
"Yoona? Ash?"
Ash berbalik, memilih menyembunyikan wajahnya dari Jerzy yang kini memasuki area ruang tamu, tak ingin sang kakek melihat bekas tamparan di pipi nya.
"Ada apa ini? Ash--"
"Ayah, jangan ikut campur. Ini urusan ku dan anak ku--"
"Ash? Kamu baik baik saja?"
Jerzy menahan tangan Ash yang hendak pergi, membalik tubuh cucunya itu dengan cepat, lantas ia menghela nafas kasar melihat bekas tamparan di pipi Ash.
"Yoona, berulangkali ayah katakan untuk menghentikan sikap buruk mu ini--"
"Dia yang bersikap kurang ajar, dia pergi dengan seorang gadis--"
"Lalu apa salahnya? Dia bukan lagi anak anak, sampai mana kau akan mengatur hidupnya?"
"Sampai aku yakin dia tak akan menjadi bajingan seperti pria itu!"
KAMU SEDANG MEMBACA
THE HEIRS
Teen FictionDunia yang tak pernah Jemian bayangkan, perlakuan yang tak pernah Jemian terima, tugas dan kewajiban yang tak pernah Jemian pikirkan. Semua itu--kini terpampang jelas di hadapannya, menyerang nya tanpa memberi celah sedikitpun.. Dan itu--hanya kare...
