"Jemian hari ini--"
"Oitt Jem, berangkat sama siapa?" Jake merangkul Jemian, menatap Ning ning yang kini menatapnya datar, tak suka di sela begitu saja.
Jemian berdecak dalam hati, aura permusuhan keduanya terasa jelas, Jemian tak mau ikutan drama merepotkan mereka, ya!
"Ribut aja sana, gue mau nyamperin masa depan gue," Jemian melepas rangkulan Jake, lantas berlari kecil mengejar Winter yang berjalan di depan sana.
"Sweethearttt!"
Bukan hanya Winter, semua yang ada disana ikut menoleh, gadis berambut pirang itu mendengus, sebelum kembali berbalik dan melanjutkan langkah nya tanpa menghiraukan Jemian.
"Gak sopan banget sayang nya gue yang cantik ini."
"Jemian!" Winter menoleh dengan tatapan kesal kala Jemian merangkulnya dengan santai seolah mereka akrab.
"Iya, nyonya Harvey?"
Gadis itu sontak berdecih, "Kayak yakin aja bakal hidup lo, dua minggu lagi juga kayak nya mati."
Jemian menahan tawa, "Gue? Dua minggu lagi? Lo telpon malaikat maut kapan sampe tau itu?"
Jemian menunduk untuk berbisik, "Tapi kayaknya malaikat maut lo itu kw, soalnya malaikat maut yang bener pasti bilang kalau--Harvey yang bakal mati dua minggu lagi."
"What?"
Siapa--yang akan mati??
"Kalau gue masih hidup sampe 3 bulan ke depan, ayo pacaran."
____________________________
"Lo kenal Jake sama Sava dimana?"
Pertanyaan Herzy meluncur begitu Jemian baru mendudukkan diri di bangku nya.
"Iya, kok keliatan akrab banget?" tambah Ning ning yang duduk di samping nya dengan raut penasaran.
"Di jalan, gue liat Sava lagi ngemis, gue kasih sedekah, makanya kita deket," jawab Jemian asal.
Ning ning mencebik, "Jemian, serius ah!"
Jemian menghela nafas kasar, "Lagian gak penting juga, ngapain mau tau? Punya masalah lo semua sama dia?" Netra Jemian menatap mereka satu persatu.
"Engga lah, kita temenan baik sama Sava yaa," Ricky menggeleng tak setuju pada pertanyaan Jemian.
Ni-ki meringis sebelum bergumam pelan, "Temenan baik? Kayaknya dia gak mikir gitu deh.."
"Kalau gitu tanya aja sama Sava atau Jake, gue gak inget kapan pertama ketemu mereka," jawab Jemian santai.
Ricky mendengus, menjitak kepala Jemian dengan geram, "Pikun lo."
"Oh ya, jin batu akik gue mana? Bilang suruh temuin gue pas istirahat ya," Jemian tersenyum lebar.
Ning ning mengerjap tak paham, "Jin batu akik?"
"Serim," bisik Jay pada gadis tersebut.
"Oh ya!" Ning ning menepuk tangannya dengan keras, sebelum menatap Jemian dengan berbinar.
"Jem, Kath katanya mau ketemu lo nanti pas pulang sekolah, di ruang musik, ada yang mau dia bicarain, penting."
"..Kath? Siapa?"
"Saudara kita juga," jawab Herzy cepat.
"Tapi Jem, tatto itu sejak kapan? Lo--kok punya tatto gitu sih? Kan lo masih anak sekolah," Ning ning beralih menanyakan hal yang membuatnya penasaran sejak kemarin.
Jemian terkekeh pelan, "Tatto palsu kok, bisa di hapus, gue cuma main main kemarin."
..WHAT?!
Herzy sontak melirik Ricky, sial, di tipu lagi? Jemian ini memang cupu! Apa yang harus di harapkan sih?!
KAMU SEDANG MEMBACA
THE HEIRS
Teen FictionDunia yang tak pernah Jemian bayangkan, perlakuan yang tak pernah Jemian terima, tugas dan kewajiban yang tak pernah Jemian pikirkan. Semua itu--kini terpampang jelas di hadapannya, menyerang nya tanpa memberi celah sedikitpun.. Dan itu--hanya kare...
