36] Memulai

714 137 8
                                        

"Siapa?" Lirih Ash lemah, nada bicaranya amat pelan.

Jeriel sontak terdiam, mengerjap tak percaya, "A-ash kau lupa pada ku? Kau tak mengingat ku?"

Tatapan Ash tampak bingung, menatap sayu pada Jeriel, "Siapa?" ulang nya lagi.

Dokter berdehem pelan, "Siapa nama anda?"

Yang di tanya mengerjap pelan, lantas mengernyit kala tak bisa menjawab pertanyaan sederhana itu, "T-tidak tau."

"Apa ada seseorang yang anda ingat?"

"...tidak."

Jeriel menatap dokter penuh pertanyaan, "Apa apaan ini? Dia hilang ingatan?"

Lucius yang berdiri di samping Jeriel tampak terkejut, menatap Jemian yang kini menatap semua dengan tatapan bingung, seolah benar benar tak mengenal semua yang ada di ruangan ini.

"Bisa saya bicara dengan wali pasien?"

Kacau...

___________________________

"Ini tak masuk akal--"

"Kau lebih tak masuk akal karena ingin membunuh dokter, Jeriel!"

Jeriel menarik nafas dalam, tak lagi memberontak dalam kekangan Lucius yang berusaha meredakan amarah nya.

"Ash hilang ingatan."

"Aku tau."

"Dia tak akan ingat pada kita, pada ibunya, pada kakeknya--"

"Dan pada keluarga sialan yang hampir membunuhnya," sela Lucius tenang.

Jeriel sontak terdiam, ah, ini ada baiknya, bukankah lebih baik Ash lupa pada semuanya? Ini--kesempatan untuk memulai hidup baru, kan?

"Ash cukup banyak kesakitan selama ini, cukup banyak trauma bahkan dengan ibunya sendiri, dan bahkan harus melalui waktu sulit di keluarga ayahnya, bukankah ini waktu yang tepat untuk ia melupakan semuanya?" tanya Lucius dengan suara tenang nya, berusaha menjelaskan dan menenangkan emosi Jeriel yang bisa saja kembali naik ke permukaan kapan saja.

Jeriel mendengus, "Tapi dia lupa pada ku."

"Berarti dia juga akan lupa kau pernah membuat motor kesayangannya jatuh dan rusak parah."

Tatapan sinis Jeriel layangkan, "Diam saja atau aku akan memukul mu."

"Sudahlah, daripada emosi bukankah lebih baik menemani Ash?"

"Dia tak mengingat ku, aku merasa asing, kau duluan saja yang masuk dan menemani nya," jawab Jeriel pelan.

___________________________








Siwon mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar Jemian yang kosong, tak ada aroma apapun, dingin, tampak jelas sudah di tinggalkan penghuni nya. Semua gorden tertutup rapat, meja belajar masih berserakan, bantal sofa tergeletak begitu saja di lantai, dan selimut masih berantakan seolah belum di bereskan saat bangun tidur.

Apa ini? Jangan bilang Siwon rindu putranya, mustahil sekali, saat tinggal bersama pun dia jarang bertemu Jemian, tak mungkin...

Langkahnya bergerak, menuju meja belajar yang masih berantakan tersebut, menemukan buku buku sekolah terbuka begitu saja, lembaran putih tersebut berisi coretan asal alih alih rumus atau tulisan berarti.

Sejenak, ada perasaan bersalah yang menyusup ke hati Siwon.

"Harusnya aku tak membawa mu kesini, ya?"

"Bisa saja--kau tak akan mati jika tak kesini."

Namun lagi lagi otaknya berjalan lebih cepat daripada perasaannya.

"Atau mungkin kau akan mati dengan cara lain walaupun tak ku bawa kesini?"

Siwon menghela nafas kasar, nyaris berbalik jika saja tak menemukan kotak pink yang seolah hadiah yang sudah disiapkan untuk seseorang, lengkap dengan sebuat note kecil di atasnya, ia dengan ragu mengambilnya.

Dear my hani bani swetie Winterrrrr

"Kyne?" Siwon tak bisa menahan diri untuk membuka kotak itu setelah membaca sebaris note tersebut.

Ia terkekeh tak percaya kala langsung menemukan foto keduanya bersama, "Dia--benar benar berhubungan dengan Kyne?"

Dengan perasaan campur aduk, Siwon kembali meletakkan kotak tersebut ke meja dengan kasar, lantas segera pergi begitu saja dari kamar putranya.

_______________________







"Makanya besok besok deket sama cewek baik baik, biar ngga nyesel."

Jay menoleh, menemukan Jake kini mendekat dengan satu burger di tangan, bersikap santai seolah tak terjadi apa apa.

"Kalau mau ngatain gue mending pergi," jawab Jay pelan, kembali menatap langit siang ini dengan tatapan sendu.

"Gue penasaran, lo nangisin Jemian atau cinta lo yang sekarang di asrama itu?" tanya Jake, lengkap dengan nada dan ekspresi mengejek nya.

Jay abai, memilih berbalik dan segera pergi dari jembatan tersebut, mengabaikan Jake yang lagi lagi mengikutinya.

"Stop ikutin gue!"

Jake mengernyit, "Pd banget? Gue juga mau balik, motor gue di bawah sana, siapa juga yang mau ikutin lo?"

Jay menghela nafas kasar, kembali melanjutkan langkah menuju mobilnya, membiarkan Jake berjalan santai di belakang nya.

"Sava mana?" tanya Jay pelan.

"Nemenin Rora?"

Dan Jay seketika terdiam, ah, dia baru ingat gadis itu...




_________________________



Rora merengut, menatap banyaknya lip di atas meja riasnya, lip yang ia beli dan di bayar Jemian. Apa ya, kenapa perasaannya mendadak tak karuan begini?

"Mau di buang aja lip nya? Itu kalau lip nya punya kaki kayaknya udah lari karena takut di pelototin kamu terus daritadi," Sava yang daritadi diam bermain hp akhirnya bersuara.

"Kakak ngapain kesini, sih? Kita nggak akrab ya, ngga usah sok kenal," jawab Rora ketus, namun membiarkan saja Sava bersantai di kamarnya karena tiba tiba datang sejak sejam lalu.

"Kenapa murung terus akhir akhir ini? Mama kamu khawatir soalnya anaknya cemberut terus--"

"Aku ngga cemberut, cuma ngga ada mood," sela Rora, melirik Sava dengan kesal.

"Yaudah, ayo pergi aja."

"Apasih, sok akrab banget. Udah sana pergi dari kamar aku, ganggu waktu aku aja."

Sava menghela nafas kasar, "Ngga mau nanya dulu kita mau pergi kemana?"

Rora lagi lagi melempar lirikan kesal, beranjak bangun dari duduknya untuk mengambil hp nya yang tadi ia cas, "Ngga penting, sok akrab banget deh."

"Kita ke makam Jemian, mau naik helikopter atau pake baling baling bambu aja?"








___________________________









"Apa?"

"Iya, asisten tuan Siwon dari keluarga Harvey datang, katanya ini hadiah dari mendiang putra nya untuk nona."

Winter terdiam, menatap lekat kotak pink tersebut, "Alay banget, taruh aja di atas meja."

Pelayan tersebut mengangguk, lantas menaruh kotak tersebut ke meja dan segera pergi setelah menunduk hormat. Meninggalkan Winter yang kini terdiam, berdiri di samping meja makan seraya terus melirik kotak pink tersebut.

Tangannya dengan ragu mencabut sticky notes yang tertempel di atasnya, nyaris copot, ia sontak terkekeh pelan membaca nya, "Sial, gue--kesel banget..."

"Gue kesel banget udah percaya sama manusia lemah kayak lo."

"Gue--bener bener kesel sama lo, Jemian!"

Winter menarik nafas panjang, berusaha menenangkan dirinya sendiri, dengan hati hati membuka kotak tersebut, hanya untuk membuatnya terkekeh, lantas--di sambung isakan tangis tertahan.

Tidak, Winter hanya menangisi rekannya dalam menghancurkan Harvey, bukan yang lainnya...

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 16 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

THE HEIRSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang