"Kalau kakak kesulitan, kakak bisa minta bantuan aku, walau masih kecil, aku lebih lama di Harvey."
Jemian menoleh pada Rora yang kini memakan strawberry yang tadi masih tertaruh rapi di pudding, "Kesulitan? Contoh nya?"
Rora terkekeh, membalas tatapan Jemian dengan malas, "Jivan? Kak Herzy? Yaahh, mereka emang paling pengacau di Harvey, maklum aja kalau mereka paling senang buat ulah."
"Kamu ngedukung kakak? Kak Herzy jelas jelas lebih punya kuasa, kenapa malah musuhin dia?"
Rora menutup mulutnya seolah terkejut, "Ya ampun pake aku kamu, gemes banget siiihhh."
"....."
"Ehem, yaaa gimana ya, kalau ngomongin berkuasa, semua juga berkuasa, aku gak peduli soal itu, ini Harvey, aku bisa nahan diri dengan kekuasaan keluarga aku."
Jemian terkekeh, "Gak usah bohong, kakak tau kamu perlu sesuatu makanya ngedeketin kakak, iyakan?"
Rora menyingkirkan piring kecil berisi setengah sisa pudding itu, memilih berbalik dan menatap Jemian yang bersandar di pembatas balkon, ia ikut melakukan hal serupa.
"Yaudahlah, jujur aja, aku agak males soal Jivan, kakak punya masalah sama dia juga, kan? Mau nyingkirin dia sama sama?" tanya Rora dengan suara pelan.
Jemian mengerjap, "Nyingkirin--dalam artian gimana?"
Hening, Rora menyunggingkan senyum, membenarkan rambutnya yang di terpa angin dengan gerakan anggun, "Dalam artian apa?"
"Mungkin paling kurang--masuk RSJ?"
Rora mengikis jarak, berdiri tepat di samping Jemian, "Jivan itu gila."
"Dan mungkin gila nya itu bakal kambuh karena ngeliat kondisi kak Kath, kakak kesayangan dia."
Jemian diam, tau dengan jelas Rora akan melanjutkan ucapannya, anak itu belum selesai.
"Dan sebelum dia nyinggung kakak karena gila, lebih baik di singkirin, kan? Kalau Jivan kambuh, sekelas kak Soobin aja bakalan angkat tangan."
"Jadi, kalau kakak mau hidup aman, gimana kalau kita mulangin orang gila itu ke rumah sakit jiwa?"
Tak ada jawaban, Jemian masih melihat bagaimana keberanian Rora berjalan, anak itu tampak percaya diri dengan semua yang di katakan.
"Kath itu licik, dia mungkin aja bakal manfaatin Jivan."
"Apa?" ucapan itu berhasil mengganggu Jemian.
"Ya, dia mungkin aja bakal manfaatin Jivan untuk balas kejadian yang dia alamin, jujur aja, bukan kak Helga pelakunya, kan?"
Woah..
"Kath, cewek sok pinter itu tau caranya balas dendam dengan baik, dan Jivan, dia itu pion hebat, mereka bisa aja hancurin seseorang dengan mudah."
Rora melirik pintu balkon, tampaknya akan ada yang datang..
"Yushi, dia pernah hampir mati di tangan Jivan karena nyari masalah sama Kath."
Cklekk
"Hai, Yushi," Rora menarik diri menjauh kala pintu balkon terbuka, melempar senyum jengah sebelum kembali meraih gelas yang tadi ia taruh di pembatas balkon.
Jemian menatap remaja seumuran Rora itu, jika benar--berarti Jivan agak merepotkan..
"Tante Ivy nyariin lo--"
"Gue tau lo bohong, apa masalah nya sih gue disini sama kak Jemian? Dia butuh temen, iyakan, kak?"
Jemian mengangguk, memilih berbalik dan menatap langit malam, "Ya, sendirian ternyata gak seru."
KAMU SEDANG MEMBACA
THE HEIRS
Teen FictionDunia yang tak pernah Jemian bayangkan, perlakuan yang tak pernah Jemian terima, tugas dan kewajiban yang tak pernah Jemian pikirkan. Semua itu--kini terpampang jelas di hadapannya, menyerang nya tanpa memberi celah sedikitpun.. Dan itu--hanya kare...
