32] Pergi

997 185 42
                                        

Rora berusaha menahan tangis, melirik Yoona yang masih menangis dalam pelukan seorang pria yang tak Rora kenal. Ah, kenapa juga Rora merasa sesedih ini ya? Apa Rora benar benar menyayangi Jemian sekarang?

"Rora?"

"Kak Sava!" Rora berseru, dengan cepat memeluk Sava, sebelum sedetik kemudian tangis nya terdengar, membuat Sava panik.

"Eh? Hey jangan nangis, gak apa, semua bakal baik baik aja--"

"Kak Jemian, Jivan jahat banget, d-dia nusuk kak Jemian, kak Jemian bakal selamat, kan?" Rora mendongak dengan pipi yang basah oleh air mata.

Sava mengangguk ragu, "Iya, kita berharap yang terbaik aja."

"Astaga Rora!" Ryn melotot melihat putrinya yang menangis dalam pelukan Sava.

"Gak apa kok, tan. Kayaknya Rora shock banget," Sava tersenyum, mengelus punggung Rora lembut untuk menenangkan remaja itu.

'Jivan, lo itu emang harusnya di RSJ! Liat aja, lo!'


____________________________


"Apa apaan ini?!"

Herzy, Ning ning, dan Serim terdiam kaku, tak berani membalas tatapan Yasa yang penuh amarah.

"Memalukan sekali, merasa hebat kalian? Bahkan berani merekam? Kalian berniat menghancurkan Harvey?!"

"JAWAB!"

"K-kakek itu salah paham--"

"Kalian bahkan tak mencegah seseorang yang bunuh diri, dan itu salah paham?" Yasa menyela cepat.

Herzy mendongak, "Dia duluan yang mencari masalah--"

PLAKK

Rahang Yasa mengeras, "Harusnya kalian selesaikan dengan baik, tanpa meninggalkan jejak dan bukti seperti ini. Apa kalian semua bodoh?"

"Apa kalian tak punya otak untuk berpikir? Apa kalian benar benar Harvey?! Apa keturunan Harvey sebodoh ini?!"

"Siapa yang merekamnya?" sambung Yasa bertanya.

Ketiganya saling melirik, lantas tersentak kaget begitu Yasa menggebrak meja dengan amat keras, seolah tak mau menunggu atau membiarkan mereka berpikir.

"Ricky, dia yang ngerekam," sahut Serim lirih.

Yasa melirik bawahannya, "Panggil Ricky kesini."

Lantas, tatapan tajamnya kembali menatap ketiga cucunya yang duduk di sofa, "Jadi, bagaimana kalian akan menyelesaikan ini?"

"Kalian memang tak punya otak dan bodoh, tapi ini harus di selesaikan, atau kalian--akan di kirim ke asrama, lalu hiduplah seperti orang yang sudah mati disana, jangan membuat masalah."

Yasa tentu lebih memilih Harvey yang ia perjuangkan dari nol daripada cucu cucunya tersebut, dia--akan membuang mereka jika masalah ini tak bisa di selesaikan dan kian merugikan Harvey.

"3 hari, pikirkan caranya atau segera kemas semua barang kalian."

Ning Ning tampak amat cemas, "Kakek--"

"Harvey tak butuh keturunan bodoh seperti kalian!"

___________________________




"Apa?"

"Hm, Jemian di rs, sekarat, gak tau deh bakal mati atau gak?"

Winter sontak menutup majalah di tangannya, menoleh pada Jake yang duduk santai di kusen jendela. Gadis tersebut beranjak bangun dengan raut tak percaya, "Sekarang--keadaannya gimana?"

Jake hanya mengedikkan bahunya, "Tadi pas gue kesini operasinya belum selesai, mungkin sekarang udah? Mau kesana buat liat?"

Hening, kalau Winter kesana, jelas yang lain akan berpikir dia punya hubungan dengan Jemian, tapi--Winter ingin melihat keadaan lelaki itu.

"Ayo, gak usah bengong, gue kesini cuma mau jemput lo," ajak Jake.

Winter menggeleng, "Kabarin aja keadaannya ke gue, gue gak bisa kesana sekarang."

Herzy, Winter akan menangani lelaki itu dulu, akan lebih mudah di tengah situasi kacau ini.

Jake hanya bisa mengangguk, apalagi melihat raut serius Winter, "Yaudah, gue ke rs dulu."

Winter menarik nafas dalam, berusaha memikirkan rencana, apa ya? Apa hal yang akan sangat menghebohkan semua orang tentang Herzy di saat seperti ini?

Dan satu hal terlintas begitu saja di otak Winter.

"Ah, narkoba?"

Bibirnya menarik senyum, "Herzy menyuruh seorang siswa untuk membawa narkoba ke sekolah setiap hari, ke ruangan KHUSUS para Harvey, kemudian suatu hari, seorang guru mendapati siswa tersebut membawa narkoba dan mengeluarkannya tanpa melaporkannya ke polisi agar nama sekolah tetap terjaga, dan sekarang--siswa itu mengalami masalah mental yang berat, keluarga akhirnya berani angkat suara setelah di bujuk beberapa pihak yang ingin membantu karena kasihan. Ah, skenario yang paling sempurna."

"Sorry Jay nama keluarga lo juga harus kena, anggap aja karma karena lo selalu ngelindungin Ning ning."

Winter meraih hp nya, "Tinggal cari orang yang mau jadi korban, dan semuanya selesai."

_________________________






"Gue gak mau dikirim ke asrama!" Ning ning berseru kesal, tidak, Yasa pasti akan mengirim mereka ke negara lain untuk membersihkan nama Harvey.

"Diam! Gue lagi mikir cara selesain masalah ini," Serim melirik Ning ning kesal.

BRAKKK

Pintu di banting dengan kasar, Ricky masuk dengan wajah penuh amarah, "Siapa di antara kalian yang nyebarin video itu?"

"Lo tolol? Gak mungkin kita, kalau videonya kesebar udah pasti kita yang kena, mustahil kita sendiri yang nyebarin!" Herzy menyahut kesal.

"Bentar!" Ning ning beranjak bangun dari duduknya, "Bukannya video ini ada di kita aja? Kita ngirim ke beberapa anak anak lain juga, kan?"

Yang lain sontak terdiam, benar juga...

Rahang Serim mengeras, "Ah sial, mereka bakal mati kalau ketemu sama gue."

Herzy meraih jaketnya, "Gue pergi, gue bakal nanya ke mereka."

"Kalau mereka gak mau jawab?"

"Gue habisin satu satu."

_______________________



"Apa?"

"Iya, katanya tuan muda Jemian meninggal, dan--nyonya Yoona serta ayahnya membawa mayat tuan muda pergi--"

"Di rumah sakit yang penuh dengan orang orang kita?!" Sentak Siwon tak percaya.

"Maaf, tak satupun dari bawahan kita yang melihat nyonya Yoona keluar dari RS--"

"Bagaimana dengan yang berjaga di lorong menuju ruang operasi? di dekat ruang operasi juga?"

"Mereka bilang Raven datang, menyuruh mereka semua pergi dan katanya ini perintah anda--"

"Raven?"

Siwon terdiam, bagaimana bisa--kepala pengawal kepercayaannya itu melakukan hal ini? Raven mengkhianatinya?

"Cari Yoona dan ayahnya, CARI PUTRAKU!"

"Setidaknya dia harus di makamkan disini..."

"Tak ada yang boleh membawanya pergi..."


________________________




Yoona menaikkan kacamata hitamnya ke atas kepala, turun dari helikopter seraya dibantu dua pengawal, "Siapkan pemakaman."

THE HEIRSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang