Jemian terkekeh, menatap Winter yang duduk di depannya seraya memakan roti coklat yang di beli di indomaret.
"Yaah, sayang banget kita gak jadi dinner, tapi kayak nya ini takdir? Buktinya kita ketemu disini," ucap Jemian dengan wajah tengil nya.
Winter mendengus, melirik Jemian dengan malas, "Ngaku aja lo nguntit gue."
"Oh ya? Apa gue harus bener bener nguntit lo biar ucapan lo gak jadi fitnah?"
Gila..
Winter beranjak bangun seraya menyambar minuman kalengan yang ia beli tadi, menatap Jemian dengan jengah, "Hati hati pas balik."
"Oh, perhatian banget."
"Soalnya gue nyuruh orang buat ngejar terus ngabisin lo," sambung Winter dengan tatapan datar.
Jemian tertawa pelan, "Gak masalah, asal dari lo hal hal jelek juga gue terima, so sweet gak?"
"Najis!"
"Mending lo mikir deh sekarang, gimana caranya biar gak gila terus bunuh diri habis ini, siap siap aja sekolah lo kayak neraka" peringat Winter.
Jemian ikut beranjak bangun dan menarik senyum miring, "Iya, kayaknya sepupu gue harus mikir gitu, deh."
Huh?
________________________
"Kenapa? Ayolah, masa lo gak bisa
berenang?" Herzy merangkul bahu Jemian.
Jemian mendengus, kenapa mereka terus memaksanya lomba berenang dengan Serim?
Decakan Jemian terdengar, "Sial, muka dua kalian gak bisa di simpen dulu?"
"Hah?"
"Kalian yang bilang buat gak deket sama Serim, sekarang nyuruh gue gini? Bajingan," umpat Jemian tanpa ragu.
Herzy dan Ricky saling melirik, tak menyangka Jemian akan berkata terang terangan seperti itu.
"Eyy ayolaah, langsung ke kolam aja, Serim udah disana."
Jemian melirik siswa yang kini merangkulnya setelah mendorong Herzy, "Siapa lagi, sih?"
"Hai, gue Herga, salam kenal."
"Halo para tuan muda sialan yang semoga jatuh miskin, minggir, ini bukan koridor kalian."
Semua berbalik, Jemian sontak menahan senyum geli melihat siapa yang mengatakan hal tadi tanpa ragu, Winter.
"Halo juga, sayang," Jemian melambai seraya menarik senyum tengil, tak lupa mengedipkan sebelah mata nya.
Winter mendengus, segera berjalan lewat kala Jemian menarik Herga untuk mundur dan tak menutup jalan.
"Honey, nanti mau dinner lagi?"
Teriakan itu membuat bisik bisik terdengar, Jemian dan Winter? Winter? Dengan anak biasa seperti Jemian?
"Apa yang kalian lakukan? Cepat ganti baju olahraga dan segera ke kolam renang!"
"Hari ini gak ada yang bagus kecuali Winter," decak Jemian kala mendengar teriakan guru olahraga tersebut.
"Ayo, lo harus lawan Serim hari ini," bisik Ricky sebelum merangkul Jemian dan mengajak nya ke ruang ganti di ikuti yang lain.
'Ini ceritanya gue di jebak sama mereka?'
_________________________
Jemian masih memakai baju olahraganya, bahkan meski kini Serim sudah berdiri di samping kolam tanpa atasan, menatap nya dengan senyum dan sorot yang jelas mengejek.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE HEIRS
Fiksi RemajaDunia yang tak pernah Jemian bayangkan, perlakuan yang tak pernah Jemian terima, tugas dan kewajiban yang tak pernah Jemian pikirkan. Semua itu--kini terpampang jelas di hadapannya, menyerang nya tanpa memberi celah sedikitpun.. Dan itu--hanya kare...
