33] Hancur

1.1K 189 29
                                        

"Selesai?"

Yoona mengangguk, "Ya, Jemian baik baik saja. Operasi pendonoran berjalan lancar, mungkin besok akan sadar, aku berharap seperti itu."

"Ah, bagaimana pemakamannya?" tanya Yoona lagi.

"Selesai, seperti perintah mu--"

"Mom! Bagaimana keadaan Ash?!"

Keduanya menoleh, mendapati Jeriel kini berdiri dengan nafas ngos ngosan, tampak khawatir dan kelelahan disaat bersamaan.

"Dia baik baik saja, mungkin akan sadar besok," jawab Yoona lembut, Jeriel menghela nafas lega mendengarnya.

"Aku sudah mengabari Siwon, dia pasti akan segera datang ke makam Ash, ah, apa kita perlu wartawan? Media? Atau apa? Bukankah kita perlu sesuatu yang lebih heboh?" tanya Jeriel antusias.

Jerzy menggeleng pelan, "Astaga anak ini, kenapa antusias sekali?"

"Duh dad, Jemian tiba tiba tinggal disana, daddy bisa membayangkan bagaimana aku tanpa Jemian? Aku dan dia sudah seperti saudara kembar, dengan kejadian ini, dia akan tinggal disini lagi, tentu saja aku harus antusias!"

"Sebentar, aku juga akan mengundang teman teman lain agar pemakamannya lebih ramai lagi, mereka pandai menangis dan berteriak heboh," sambung Jeriel, mengambil hp dari saku jaketnya dan segera mengabari teman teman dekat mereka yang lain.

________________________


Cuaca cerah, angin lembut menerpa siapa saja yang ada disana, benar benar cuaca yang bagus, namun nyaris sebagian besar orang disana menangis, menangisi--makam Jemian yang kini ditaburi bunga.

Derap langkah kaki terdengar, beberapa orang berbalik, menemukan orang orang lain yang tampak asing mulai mendekat.

"Dimana putraku--"

"Menjauh! Jangan mendekati makam putra ku!" Yoona berseru keras, memeluk nisan yang berukir nama Jemian dengan erat, tatapannya menyorot Siwon tajam.

"J-jemian? Hah, kau berniat menipu ku? Jemian tak mungkin mati--"

"Kenapa tak mungkin? KEPONAKAN MU MEMBUNUH PUTRA KU! DAN KALIAN MEMBIARKANNYA BEGITU SAJA! KALIAN MEMBIARKANNYA HIDUP BEBAS SETELAH DIA MENGAMBIL NYAWA PUTRA KU!"

Banyak yang merekam, bisikan bisikan iba mengiringi, tatapan menghakimi mulai menghujami Siwon yang masih terpaku menatap istrinya yang kini berusaha menahan tangis.

"Dasar iblis! Kalian membunuh putra ku yang tak berdosa! Kalian membiarkan iblis pembunuh itu berkeliaran! KALIAN MEMBIARKAN JIVAN BERKELIARAN SETELAH DIA MEMBUNUH JEMIAN!"

Yoona menyandarkan kepalanya ke batu nisan tersebut, "Putra ku yang malang, dulu dia membuang mu, lalu kembali dan meminta mu tinggal dengannya, berjanji akan melindungi mu, tapi lihat, dia membiarkan keponakannya merenggut nyawa mu begitu saja, lihatlah, bagaimana bisa iblis sepertinya menjadi ayah mu, bagaimana bisa aku membiarkannya menjadi ayah mu..."

Siwon nyaris mendekat, namun teman teman Jemian segera menghadang, terlebih Jeriel yang kini maju dengan sorot mengancam, "Jangan mendekati mommy, jangan mencarinya lagi, jangan mengganggunya lagi, tak cukup kau membunuh teman ku? Apalagi sekarang?"

"Ini salah paham--"

"Pergi! Suruh dia pergi dari sini!" Yoona berteriak keras, masih memeluk nisan Jemian seolah olah ia bisa ikut mati saat itu juga untuk menemani putranya.

"Dasar iblis, kalian Harvey hanya sekumpulan iblis, seharusnya seluruh dunia tau itu!" maki Yoona berteriak.

"Siwon pergilah, jangan membuat putri ku gila, aku sudah cukup dengan kehilangan cucu ku, ku mohon, biarkan pemakaman ini berakhir dengan tenang," Jerzy yang berdiri tak jauh dari Yoona angkat bicara.

THE HEIRSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang