24] Jivan-Kath

1.7K 216 31
                                        


AKUUU UPPPPPPPP, kenapa tiba tiba aku up hampir seeemua cerita?

KARENA BESOK AKU ULTAAAH💚

jadi semangat aja gitu:)

__________________________

PLAKK

Jemian yang menunduk tersenyum lebar kala suara tamparan terdengar menggema.

"Kau--Siwon sadarlah, kau yang membutuhkan putra ku! Jaga sikap mu sialan."

Yoona menatap Siwon penuh amarah, "Atau aku akan mengatakan pada semua nya bahwa kau dulu tak ingin bertanggung jawab pada anak mu sendiri dan berusaha membunuh nya!"

"Yoona, kau tau sikap Jemian--"

"Bagaimanapun sikap nya aku tak peduli, bersikap baiklah pada putra ku," sela Yoona kesal.

"Jemian, ayo bangun, coba mama lihat pipi mu, apa terluka?" tanya Yoona khawatir.

Jemian tersenyum manis, "Tidak, aku baik baik saja."

"Ayo, biar mama antar ke kamar," ajak Yoona lembut.

"Dan kau, aku ingin bicara nanti, kita harus sepakat untuk sesuatu, Siwon."

..apa apaan, ini? Jemian--memanfaatkan kemarahan Yoona?

"Anak itu--" Siwon berdesis kesal saat Jemian menoleh dan meliriknya dan menyeringai seolah meremehkan untuk seperkian detik sebelum kembali tersenyum pada Yoona yang tampak khawatir.

"Tidak, apa aku harus menjauhkan Yoona dulu?"

____________________________

"Jemian," Jivan bergumam pelan, netra kelamnya menatap langit malam dengan rumit.

"Hey? Kau baik baik saja?"

"Tampaknya dia sangat ketakutan? Kau membunuh mereka di depannya tadi, Jeriel, dia pasti ketakutan."

Lelaki yang di panggil Jeriel itu berjongkok, "Hey? Anak kecil, kau baik baik saja? Kau bisa bicara?"

"..ya," jawab Jivan singkat, masih terpaku pada darah yang menggenang di jalan tersebut.

"Kenapa kau disini? Kau di culik mereka?"

"Jeriel, ayo pergi, biarkan saja, lagipula kita sudah membunuh mereka semua, dia aman sekarang."

"Ash, tunggulah, mungkin kita harus mengantarnya pulang juga," sahut Jeriel pada lelaki berambut pirang tersebut.

"Ah sialan, kenapa kau bersikap sangat baik hati begitu sih?"

"Hey Ash Benjamin, kau kan tau sendiri Jeriel itu paling penyayang, padahal kalau tak ada dia, kita pasti akan membunuh anak ini dan menjual organ nya, lumayan--"

Jeriel melotot, segera menutup kedua telinga Jivan, "Diamlah, jangan membuatnya takut dengan perkataan kalian!"

"Aish baiklah, cepat tanya dan antar dia, jangan membuang waktu ku, Jeriel."

"Baiklah Ash, dasar tak punya perasaan!"

"Kalau di pikir pikir, kak Jeriel yang paling perhatian, Jemian Ash Benjamin itu--cuma diam dan ngasih waktu, gue gak perlu terlalu baik sama dia," monolog Jivan seraya mengangguk.

Lantas ia segera beranjak bangun seraya meraih jaketnya.

"Jivan? Mau kemana sayang?" tanya sang ibu yang baru turun.

"Kak Kath, aku khawatir padanya."

Jivan akan bertanya pada Kath, jika memang Jemian, ia akan menyingkirkan lelaki itu langsung, berani sekali mengganggu Kath..

THE HEIRSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang