Episode 22 : Mengapa Kita Belajar?

1 0 0
                                        

Siang itu, di Pojok Berpikir, suasana begitu tenang. Hanya ada suara gesekan lembut dari halaman buku yang dibuka oleh Venesya. Ia sedang tenggelam dalam buku Democracy and Education karya John Dewey, buku yang baru saja ia temukan di perpustakaan sekolah. Buku itu menarik perhatiannya karena judulnya yang menggugah—tentang demokrasi dan pendidikan, dua hal yang sering ia renungkan belakangan ini. Bagi Venesya, pendidikan bukan sekadar rutinitas, melainkan proses yang lebih dalam. Pertanyaan yang sering muncul dalam benaknya adalah: "Mengapa kita belajar?"

Sambil membaca, Venesya menggarisbawahi beberapa kalimat yang menurutnya penting. Salah satu kutipan dari buku tersebut berbunyi, "Education is not preparation for life; education is life itself." Dewey tampaknya ingin menyampaikan bahwa pendidikan bukan hanya soal mempersiapkan masa depan, tetapi adalah bagian dari kehidupan yang kita jalani setiap hari.

Venesya merenung sejenak, mencoba memahami makna dari kalimat tersebut. Pendidikan bukan sekadar untuk mendapatkan nilai atau lulus dari ujian, tetapi suatu proses yang berkelanjutan—sebuah perjalanan tanpa akhir.

"Venesya," suara Syifa memecah keheningan. "Kamu lagi baca apa?"

Venesya mengangkat kepalanya dan tersenyum. "Aku sedang baca buku John Dewey, Democracy and Education. Ini tentang pendidikan, tapi cara dia membahasnya berbeda dari yang biasa kita dengar."

Syifa duduk di sebelah Venesya dan melirik buku itu. "Apa yang berbeda?"

"Dewey menulis bahwa pendidikan bukan hanya untuk menyiapkan kita menghadapi dunia. Pendidikan adalah bagian dari hidup kita. Jadi, belajar itu bukan cuma soal pelajaran sekolah, tapi tentang bagaimana kita menjalani hidup. Makanya, aku lagi berpikir, kenapa kita sebenarnya belajar? Apa tujuan kita?" Venesya menjelaskan.

Syifa tampak tertarik dengan diskusi ini. Ia tahu bahwa sering kali mereka, sebagai anak-anak, belajar tanpa benar-benar memahami alasan di baliknya. Mereka belajar matematika, ilmu pengetahuan, bahasa, tapi jarang ada yang menanyakan mengapa.

"Aku pikir kita belajar karena itu kewajiban kita," jawab Syifa sambil berpikir. "Guru-guru dan orang tua kita selalu bilang kalau pendidikan itu penting untuk masa depan kita. Tapi kalau dipikir-pikir, mungkin belajar lebih dari sekadar kewajiban."

Venesya mengangguk setuju. "Ya, betul. Aku merasa belajar itu adalah kebutuhan manusia, sama seperti kita butuh makan dan minum. Kita belajar untuk berkembang, untuk memahami dunia ini. Kalau tidak belajar, kita akan stagnan, nggak bisa memahami siapa diri kita atau bagaimana cara kita berinteraksi dengan orang lain."

Syifa menatap sahabatnya itu dengan kagum. "Aku nggak pernah berpikir sampai sejauh itu," ucapnya pelan. "Tapi itu masuk akal. Kalau kita nggak pernah belajar, kita nggak akan pernah berkembang."

Venesya kemudian membuka bab baru dalam buku Dewey dan membaca keras-keras, "Pendidikan adalah sarana untuk membentuk individu yang bisa hidup dalam masyarakat yang demokratis, di mana setiap orang memiliki kesempatan untuk berkembang sesuai potensinya."

Syifa mengangguk. "Jadi pendidikan juga tentang membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik, bukan?"

"Benar sekali," jawab Venesya. "Kita belajar untuk memahami orang lain, menghargai perbedaan, dan berkontribusi dalam masyarakat. Ini bukan hanya soal kita sendiri, tapi juga tentang bagaimana kita bisa membuat dunia ini lebih baik."

Percakapan itu membuat Venesya dan Syifa semakin mendalami pemahaman mereka tentang pendidikan. Mereka menyadari bahwa belajar bukan hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk orang lain. Pendidikan adalah cara manusia meningkatkan mutu dirinya, menjadikan dirinya lebih baik dari hari kemarin, dan pada akhirnya mampu berkontribusi pada masyarakat yang lebih luas.

The Little Philosopher : Next GenerationCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang