Venesya, seorang gadis remaja berusia 11 tahun, pindah dari kota romantis Venesia, Italia ke sebuah kota kecil di Indonesia karena pekerjaan ayahnya. Awalnya, Venesya merasa canggung dan kesulitan beradaptasi dengan budaya dan lingkungan barunya. Na...
Hari itu, cuaca di kota kecil tempat Venesya tinggal sangat cerah. Seperti biasanya, sepulang sekolah, Venesya langsung menuju perpustakaan umum yang tidak jauh dari rumahnya. Tempat itu sudah menjadi surga kecil bagi Venesya, tempat di mana ia bisa tenggelam dalam dunia buku dan filsafat.
Saat sedang menelusuri rak-rak buku, pandangannya tertuju pada sebuah buku yang menarik perhatiannya. Buku itu berjudul "21 Pelajaran untuk Abad 21" kali Yuval Noah Harari. Tanpa ragu, Venesya mengambil buku itu dan duduk di sudut favoritnya di perpustakaan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ketika mulai membaca, Venesya segera terpesona oleh cara Harari menyampaikan pandangannya tentang tantangan dan peluang yang dihadapi oleh umat manusia di abad ke-21. Venesya merasa bahwa buku ini bisa menjadi bahan diskusi yang menarik dengan teman-temannya.
Keesokan harinya, saat berkumpul di taman sekolah, Venesya membawa buku itu dan menunjukkan kepada Syifa dan teman-temannya. "Lihat, aku menemukan buku yang sangat menarik di perpustakaan. Judulnya '21 Pelajaran untuk Abad 21' karya Yuval Noah Harari. Buku ini membahas banyak hal penting tentang tantangan yang kita hadapi di zaman modern."
Syifa mengambil buku itu dan membolak-balik halamannya. "Apa saja yang dibahas di buku ini, Venesya?"
Venesya tersenyum dan mulai menjelaskan. "Buku ini membahas berbagai topik, mulai dari teknologi dan kecerdasan buatan, hingga politik, agama, dan identitas. Harari mencoba memberikan wawasan tentang bagaimana kita bisa menghadapi tantangan-tantangan ini dengan bijaksana."
Alif yang selalu penuh semangat langsung bertanya, "Bisa kasih contoh, Venesya?"
"Tentu," jawab Venesya. "Salah satu bab yang menarik adalah tentang kecerdasan buatan dan bagaimana teknologi ini bisa mengubah dunia kita. Harari berpendapat bahwa di masa depan, banyak pekerjaan manusia mungkin akan digantikan oleh mesin. Ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana kita mempersiapkan diri untuk masa depan itu."
Nisa yang selalu penasaran menambahkan, "Jadi, apa yang harus kita lakukan?"
Venesya melanjutkan, "Harari menyarankan bahwa kita harus fokus pada pengembangan keterampilan yang tidak bisa mudah digantikan oleh mesin, seperti kreativitas, berpikir kritis, dan empati. Dia juga menekankan pentingnya belajar sepanjang hayat dan beradaptasi dengan perubahan."
Diskusi menjadi semakin hidup saat teman-teman Venesya mulai mengajukan pertanyaan dan berbagi pandangan mereka tentang topik-topik yang dibahas di buku itu.
Anisa yang praktis bertanya, "Bagaimana dengan identitas dan agama? Apa yang dikatakan Harari tentang itu?"
"Harari berpendapat bahwa di dunia yang semakin terhubung, kita perlu menemukan cara untuk hidup berdampingan dengan berbagai identitas dan kepercayaan yang berbeda. Dia juga menyoroti bagaimana agama bisa tetap relevan dalam menghadapi tantangan zaman modern, dengan menyesuaikan ajarannya terhadap perubahan sosial dan teknologi," jelas Venesya.