Epilog : Langkah yang Tidak Pernah Sendiri

4 0 0
                                        

Pagi itu, bandara terasa seperti ruang antara.

Bukan sepenuhnya perpisahan, tetapi juga belum benar-benar kedatangan. Di sanalah Venesya berdiri, dengan koper berwarna gelap di sampingnya dan paspor yang masih terasa asing di genggaman tangan. Namanya tercetak rapi di halaman pertama, seolah menegaskan bahwa ia benar-benar telah sampai di titik ini.

Dewasa.

Bukan dewasa karena usia semata, melainkan karena perjalanan panjang yang diam-diam membentuk caranya memandang dunia.

Di bangku tunggu, Ayah dan Ibu duduk di kiri dan kanannya. Tidak banyak kata yang terucap. Sejak subuh tadi, percakapan mereka lebih banyak berupa senyap yang saling memahami. Ibu sesekali merapikan kerah jaket Venesya, kebiasaan lama yang tidak pernah benar-benar hilang. Ayah menatap layar keberangkatan dengan sorot mata yang tenang, tetapi menyimpan gelombang perasaan yang tak perlu diumumkan.

"Belanda," kata Ibu akhirnya. "Jauh sekali."

Venesya tersenyum. "Iya. Tapi rasanya tidak sejauh yang dulu aku bayangkan."

Ia teringat pertama kali mendengar nama Universitas Leiden. Saat itu ia masih duduk di bangku sekolah dasar, di sebuah ruang kecil bernama Pojok Berpikir. Nama Leiden terdengar seperti dunia lain, terlalu besar untuk seorang anak yang gemar membaca buku-buku filsafat di sela jam istirahat.

Namun waktu memiliki cara sendiri untuk memperpendek jarak.

Surat dari Pak Amar kembali terlintas di benaknya. Surat yang kini telah menjelma menjadi keputusan. Tawaran itu tidak datang sebagai paksaan, melainkan sebagai undangan yang menunggu kesiapan. Dan pada suatu sore yang sunyi, Venesya tahu, ia telah siap.

Ia memilih jurusan Filsafat.

Keputusan itu sempat membuat beberapa orang terdiam lebih lama dari yang sopan. Ada yang bertanya dengan nada khawatir, ada pula yang menyamarkannya dengan canda. Untuk apa filsafat? Mau jadi apa nanti? Apa tidak terlalu abstrak?

Venesya tidak pernah marah. Ia hanya tersenyum, karena pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sangat akrab. Dulu, ia juga sering bertanya pada dunia dan tidak selalu mendapat jawaban yang langsung memuaskan.

Ia tidak memilih filsafat karena ingin menjadi berbeda. Ia memilihnya karena di sanalah ia belajar untuk jujur pada pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah berhenti tumbuh sejak kecil.

Panggilan boarding terdengar.

Waktu berjalan lagi.

Ayah berdiri lebih dulu. "Ingat," katanya pelan, "ke mana pun kamu pergi, jangan pernah berhenti berpikir. Tapi jangan lupa merasa."

Venesya mengangguk. "Aku akan ingat."

Ibu memeluknya lebih lama. Ada doa yang tidak diucapkan, tetapi terasa mengalir dengan hangat. "Kalau lelah," bisik Ibu, "pulanglah. Rumah selalu ada."

Langkah Venesya menuju pintu keberangkatan terasa ringan dan berat sekaligus. Setiap langkah membawa masa lalu, tetapi juga membuka ruang bagi masa depan.

Di dalam pesawat, ia duduk di dekat jendela. Saat mesin mulai menderu dan landasan perlahan menjauh, Venesya menutup mata sejenak. Ia membiarkan ingatan datang satu per satu.

Wajah Syifa yang selalu tenang. Tawa Yasmin di bawah langit malam. Keteguhan Dista. Keheningan Pojok Berpikir. Pidato yang pernah ia sampaikan dengan suara gemetar tetapi jujur. Semua itu tidak hilang. Mereka berdiam di dalamnya, membentuk fondasi yang kokoh.

Ketika pesawat menembus awan, langit terbuka luas.

Belanda menyambutnya beberapa jam kemudian dengan udara dingin dan langit kelabu yang khas. Leiden adalah kota yang tenang, dipenuhi kanal, sepeda, dan bangunan tua yang menyimpan sejarah panjang. Universitas Leiden berdiri anggun, seperti perpustakaan raksasa yang bernapas bersama zaman.

Saat pertama kali melangkahkan kaki di kampus itu, Venesya merasakan sesuatu yang aneh namun familiar.

Ia merasa kecil.

Tetapi bukan kecil yang menakutkan. Melainkan kecil yang menyadarkan bahwa dunia memang luas, dan selalu ada ruang untuk belajar.

Di salah satu sudut kampus, ia melihat mahasiswa-mahasiswa duduk berdiskusi. Buku-buku tebal terbuka. Percakapan berlangsung dalam berbagai bahasa. Ide-ide saling bersilang, bertabrakan, lalu berpelukan kembali.

Venesya tersenyum.

Di sinilah ia sekarang.

Seorang anak yang pernah bertanya tentang keadilan di sekolah, kini duduk di tempat yang melahirkan pemikir-pemikir besar. Bukan untuk menjadi seperti mereka, tetapi untuk melanjutkan tradisi bertanya dengan caranya sendiri.

Malam pertama di asrama, Venesya membuka buku catatan barunya. Halaman pertama masih kosong. Ia menulis perlahan, dengan tulisan yang lebih matang, tetapi tetap jujur.

Aku tidak tahu ke mana pertanyaan-pertanyaanku akan membawaku. Tetapi aku bersedia berjalan bersamanya.

Ia menutup buku itu, menatap keluar jendela. Lampu-lampu kota Leiden memantul di permukaan air kanal. Langit malam tampak berbeda, tetapi luasnya sama.

Dan di sanalah Venesya menyadari sesuatu yang sederhana.

Bahwa perjalanan berpikir tidak pernah tentang sampai.

Ia tentang berani melangkah.

Dan langkah itu, akhirnya, telah membawanya ke sini.

The Little Philosopher : Next GenerationCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang