Pagi itu sekolah tampak seperti biasa. Bel berbunyi dengan nada yang sama, halaman dipenuhi sepatu yang berbaris tanpa sadar, dan suara guru piket menyebut nama-nama siswa dengan intonasi datar. Namun bagi Venesya, pagi itu terasa berbeda. Bukan karena ada sesuatu yang berubah secara kasat mata, melainkan karena tidak ada yang berubah sama sekali, padahal ia tahu sesuatu telah bergeser.
Ia melangkah melewati koridor dengan langkah yang sama seperti kemarin, tetapi tatapan orang-orang tidak lagi sama. Beberapa guru yang biasanya menyapanya hanya mengangguk singkat, sebagian bahkan berpaling seolah sedang sibuk mengingat sesuatu di dinding. Tidak ada teguran. Tidak ada larangan. Tidak ada hukuman. Justru itulah yang membuat dadanya terasa sempit.
Diam bukan lagi ketenangan. Diam menjadi sinyal.
Di kelas, Venesya duduk di bangkunya. Syifa duduk di sebelahnya, membuka buku tanpa suara. Mereka saling melirik, hanya sebentar, cukup untuk menyadari bahwa keduanya merasakan hal yang sama. Tidak ada yang perlu diucapkan. Keheningan di antara mereka lebih jujur daripada percakapan panjang.
Pak Faisal masuk kelas dengan wajah tenang. Ia mengajar seperti biasa, menjelaskan materi dengan suara yang teratur. Tidak ada sindiran. Tidak ada kalimat yang menyentuh peristiwa beberapa minggu terakhir. Namun ketika beliau membagikan lembar tugas, tangan beliau berhenti sejenak di meja Venesya. Hanya sejenak, terlalu singkat untuk disebut makna, terlalu lama untuk disebut kebetulan.
"Kerjakan seperti biasa," ucap Pak Faisal singkat.
Venesya mengangguk. Tetapi di dalam kepalanya, sebuah kalimat berputar tanpa henti:
Seperti biasa menurut siapa?
Saat istirahat, Venesya dan Syifa berjalan menuju Pojok Berpikir. Langkah mereka terhenti di depan pintu. Sebuah kertas kecil tertempel rapi, ditulis dengan font resmi sekolah.
Pojok Berpikir hanya dapat digunakan pada jam tertentu dengan pendamping guru.
Syifa membaca pelan. Yasmin yang datang dari belakang menatap tulisan itu lama, lalu menghela napas. Dista berdiri agak jauh, memeluk mapnya erat-erat.
"Pendamping guru?" bisik Yasmin. "Bukannya selama ini justru karena kita bebas di sini?"
Venesya tidak langsung menjawab. Ia menyentuh pintu ruangan itu, seolah memastikan bahwa tempat itu masih nyata. Ruangan yang dulu menjadi ruang bernapas kini terasa seperti ruang tunggu, tempat izin harus diminta bahkan untuk berpikir.
Pak Ahmad Averroes muncul dari ujung koridor. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya tidak bisa menyembunyikan kelelahan yang samar. Ia membaca pengumuman itu, lalu tersenyum tipis.
"Perubahan administratif," katanya. "Tidak tertulis sebagai larangan."
"Tidak tertulis," ulang Venesya pelan.
Pak Ahmad menatapnya. Untuk sesaat, tidak sebagai guru, tetapi sebagai sesama manusia yang mengerti apa arti kalimat itu. "Justru yang tidak tertulis sering kali lebih kuat," ujarnya lirih.
Mereka tetap masuk. Duduk seperti biasa. Namun udara di dalam ruangan terasa berbeda. Buku-buku di rak tampak sama, tetapi seolah sedang mengawasi. Setiap kata terasa lebih berat. Setiap pertanyaan seolah harus melewati sensor yang tak terlihat.
Dista membuka buku catatannya, lalu menutupnya lagi. "Aku merasa seperti sedang melakukan sesuatu yang salah," katanya pelan. "Padahal kita hanya duduk dan membaca."
Venesya menunduk. Ia merasakan hal yang sama. Perlawanan sunyi yang ia pilih ternyata tidak dibiarkan begitu saja. Sistem tidak berteriak. Sistem menggeser batas normal sedikit demi sedikit, hingga seseorang baru sadar bahwa ia telah melangkah keluar dari garis.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Little Philosopher : Next Generation
Teen FictionVenesya, seorang gadis remaja berusia 11 tahun, pindah dari kota romantis Venesia, Italia ke sebuah kota kecil di Indonesia karena pekerjaan ayahnya. Awalnya, Venesya merasa canggung dan kesulitan beradaptasi dengan budaya dan lingkungan barunya. Na...
