Episode 24.8 : Ketika Sistem Belajar Mengunci

4 0 0
                                        

Hari itu sekolah terasa berbeda sejak pagi. Bukan karena hujan, bukan karena jadwal yang berubah, melainkan karena keheningan yang terlalu rapi. Bel berbunyi tepat waktu. Barisan siswa berjalan tertib. Guru-guru hadir dengan wajah profesional yang sama. Tidak ada yang tampak salah, namun justru itulah yang membuat Venesya gelisah.

Segalanya berjalan terlalu lancar.

Di papan pengumuman, selembar kertas baru tertempel rapi. Judulnya dicetak tebal, dengan bahasa yang resmi dan dingin.

Penyesuaian Kegiatan Sekolah demi Optimalisasi Fokus Akademik.

Venesya membaca isinya perlahan. Tidak ada larangan eksplisit. Tidak ada nama kegiatan yang dicoret. Namun satu kalimat itu terasa menonjol.

"Kegiatan diskusi non-terstruktur di luar jadwal pembelajaran sementara ditinjau kembali."

Sementara.

Kata itu tampak netral, tetapi Venesya tahu artinya bisa sangat panjang. Ia menoleh ke arah Pojok Berpikir. Ruang itu masih ada, kursi-kursinya masih rapi, rak bukunya masih berdiri seperti biasa. Tetapi ada sesuatu yang berubah. Pintu ruang itu kini selalu terbuka, dan di dekatnya, seorang guru piket sering berdiri lebih lama dari biasanya.

Pengawasan tidak selalu berupa larangan. Kadang ia hanya berupa kehadiran yang terlalu sering.

Di kelas, suasana terasa menegang. Beberapa teman tidak lagi duduk dekat Venesya. Bukan karena benci, tetapi karena takut. Ketakutan itu tidak pernah diucapkan, namun menempel di gerak tubuh mereka. Cara mereka menarik kursi, cara mereka menunduk ketika berbicara, cara mereka berhenti bertanya di tengah kalimat.

Syifa masih duduk di sampingnya, tetapi jarak di antara mereka terasa lebih lebar dari biasanya. Bukan jarak fisik, melainkan jarak yang dibentuk oleh kesadaran bahwa setiap percakapan bisa didengar.

"Kamu lihat pengumuman itu?" bisik Syifa.

Venesya mengangguk. "Aku lihat."

"Menurutmu ini tentang apa?"

Venesya tidak langsung menjawab. Ia menatap papan tulis, lalu ke arah jendela. "Tentang ketertiban," katanya akhirnya. "Versi mereka."

Pelajaran berlangsung seperti biasa, tetapi Venesya merasakan perubahan kecil yang terus bertambah. Pertanyaan-pertanyaannya tidak lagi ditanggapi dengan diskusi terbuka. Guru menjawab cepat, lalu melanjutkan materi. Ketika ia mengangkat tangan kedua kali, guru hanya tersenyum dan berkata, "Kita lanjutkan nanti di luar jam pelajaran."

"Nanti" itu tidak pernah datang.

Saat istirahat, Venesya menuju Pojok Berpikir. Yasmin sudah duduk di sana, tetapi tidak membuka buku. Ia hanya memutar-mutar pulpen, matanya sesekali melirik ke luar.

"Dista dipanggil BK," kata Yasmin pelan.

"Kenapa?" tanya Venesya.

"Katanya karena terlalu sering bolos jam istirahat di kelas dan memilih diskusi."

Diskusi.

Kata itu kini terasa seperti label yang bisa menimbulkan masalah. Venesya duduk, membuka buku catatannya, tetapi sulit berkonsentrasi. Ia menyadari satu hal penting: sistem tidak sedang menyerangnya secara langsung. Sistem sedang mengatur ulang lingkungan agar pilihannya terasa semakin sempit.

Tidak ada hukuman, hanya konsekuensi yang dibuat tampak alami.

Siang hari, Pak Ahmad datang ke Pojok Berpikir. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya tajam.

"Mereka mulai mengubah bahasa," katanya pelan. "Dari larangan menjadi penyesuaian. Dari pengawasan menjadi pendampingan."

"Itu lebih berbahaya," jawab Venesya.

The Little Philosopher : Next GenerationCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang