Pagi itu, suasana di Sekolah Dasar 05 Kecamatan Pontianak Utara terasa lebih sunyi dari biasanya. Venesya duduk di bangkunya dengan perasaan tak menentu. Kabar tentang Alif, salah satu teman sekelasnya, yang tiba-tiba dilarikan ke rumah sakit karena pneumonia akut, membuat hatinya terguncang. Alif dikenal sebagai anak yang ceria, selalu tersenyum dan tak pernah mengeluh meskipun sering terlihat mudah lelah. Namun, tak ada yang menyangka bahwa keadaannya bisa seburuk ini.
Di depan kelas, Pak Faisal, wali kelas mereka, mencoba menenangkan siswa-siswinya. "Anak-anak, saya tahu kalian semua terkejut dengan kabar tentang Alif. Saat ini, Alif sedang dirawat intensif di rumah sakit. Mari kita doakan agar dia cepat sembuh dan bisa kembali ke sekolah bersama kita."
Suasana di kelas hening. Venesya melirik ke arah Syifa yang duduk di sebelahnya. Matanya terlihat merah dan sembab, menandakan bahwa dia baru saja menangis. Venesya sendiri mencoba menahan air mata yang terus membayang di pelupuk matanya. Kenyataan bahwa salah satu teman mereka sedang berjuang antara hidup dan mati begitu sulit diterima.
Setelah beberapa saat, Nisa mengangkat tangan. "Pak, apakah kami bisa menjenguk Alif di rumah sakit? Kami ingin memberikan semangat kepadanya."
Pak Faisal tersenyum tipis, tetapi terlihat jelas bahwa ia juga khawatir. "Kalian bisa menjenguk Alif, tetapi dengan izin orang tuanya dan sesuai aturan rumah sakit. Saya akan coba menghubungi mereka dan mengatur agar kalian bisa pergi bersama-sama."
Venesya merasa lega mendengar hal itu. Ia ingin sekali melihat Alif, memberikan dukungan untuk temannya yang kini tengah berjuang di rumah sakit. Namun, di balik perasaan itu, ada ketakutan yang mengintai — ketakutan bahwa mereka mungkin tak akan pernah melihat Alif lagi.
Beberapa jam kemudian, Venesya, Syifa, Yasmin, dan beberapa teman lainnya berkumpul di depan sekolah setelah jam pelajaran selesai. Pak Faisal telah mengatur agar mereka bisa pergi menjenguk Alif di Rumah Sakit Umum Kota. Sebuah mobil yang disediakan oleh sekolah akan membawa mereka ke sana.
"Apakah Alif akan baik-baik saja?" tanya Syifa dengan suara pelan, wajahnya masih dipenuhi kecemasan.
Venesya menunduk. "Aku juga berharap begitu, Syif. Kita semua berharap yang terbaik."
Perjalanan ke rumah sakit terasa sunyi. Masing-masing anak tenggelam dalam pikirannya sendiri. Mereka membayangkan bagaimana keadaan Alif di sana, terbaring lemah di ranjang rumah sakit, dikelilingi oleh alat-alat medis yang asing. Ketakutan akan kehilangan teman membuat suasana semakin mencekam.
Sesampainya di rumah sakit, mereka dipandu oleh seorang perawat menuju lantai tempat Alif dirawat. Langkah kaki mereka terdengar berirama di sepanjang koridor putih yang sepi. Setiap anak menundukkan kepala, seolah tak ingin mengganggu keheningan yang penuh harapan ini.
Di luar kamar tempat Alif dirawat, mereka bertemu dengan orang tua Alif yang duduk di bangku dengan wajah penuh kelelahan dan kesedihan. Ibu Alif, dengan mata bengkak akibat menangis, mencoba tersenyum kepada mereka.
"Terima kasih sudah datang menjenguk Alif," katanya dengan suara serak. "Dia akan senang mengetahui teman-temannya ada di sini untuk mendukungnya."
Pak Faisal, yang ikut bersama mereka, berbicara pelan kepada ibu Alif, menanyakan keadaan anak itu. Dari percakapan mereka, Venesya dan teman-temannya mendengar bahwa kondisi Alif masih kritis. Pneumonia yang dideritanya menyerang paru-parunya dengan sangat cepat, membuat pernapasannya terganggu dan tubuhnya semakin lemah.
Setelah mendapat izin, mereka akhirnya bisa masuk ke dalam ruangan. Di dalam, suasananya jauh lebih tenang daripada yang mereka bayangkan. Alif terbaring dengan wajah pucat, hampir tak dikenali. Selang-selang oksigen menempel di hidungnya, dan mesin-mesin di samping ranjangnya berbunyi pelan, memonitor detak jantung dan pernapasannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Little Philosopher : Next Generation
Teen FictionVenesya, seorang gadis remaja berusia 11 tahun, pindah dari kota romantis Venesia, Italia ke sebuah kota kecil di Indonesia karena pekerjaan ayahnya. Awalnya, Venesya merasa canggung dan kesulitan beradaptasi dengan budaya dan lingkungan barunya. Na...
