Episode 24.3 : Kesadaran yang Tidak Nyaman

4 0 0
                                        

Pagi itu sekolah tampak sama seperti biasanya. Langit cerah, lonceng masuk berbunyi tepat waktu, dan barisan langkah kaki para murid beradu dengan lantai koridor yang dingin. Tidak ada yang berubah. Namun, bagi Venesya, justru itulah yang terasa aneh.

Ia duduk di bangkunya, menatap papan tulis yang masih kosong. Kapur belum menyentuh permukaan hijau itu, tetapi pikirannya sudah lebih dulu dipenuhi garis-garis tak kasatmata. Ia membuka buku pelajaran, membaca judul bab, lalu menutupnya kembali. Kata-kata itu terasa terlalu ringan untuk sesuatu yang kini terasa berat di dalam dadanya.

Sejak pengumuman hasil Ulangan Akhir Semester, banyak hal berjalan dengan ucapan selamat, tepuk tangan, dan senyum bangga. Semua orang tampak puas. Guru-guru menyebut namanya dengan nada apresiatif, teman-temannya memujinya, bahkan orang tuanya memeluknya lebih lama dari biasanya. Tetapi di antara semua itu, Venesya justru merasa ada ruang kosong yang semakin melebar.

Ia bertanya dalam diam, apakah ini tujuan akhirnya?

Pelajaran dimulai. Pak Faisal masuk kelas dengan langkah mantap, menyapa murid-murid seperti biasa. Materi hari itu sederhana, pengulangan, evaluasi ringan pasca-ujian. Anak-anak lain tampak lega. Tidak ada tekanan, tidak ada kejutan. Namun bagi Venesya, setiap kalimat yang keluar dari mulut guru terdengar seperti gema yang berulang, tanpa benar-benar menyentuh sesuatu yang baru.

Ia mengangkat tangan, lalu menurunkannya kembali. Bukan karena ia tidak tahu jawabannya, tetapi karena ia tidak yakin pertanyaannya akan dimengerti.

Di sampingnya, Syifa melirik pelan.
"Kamu kenapa?" bisiknya.

Venesya menggeleng perlahan.
"Tidak apa-apa," jawabnya singkat.

Namun, itu tidak sepenuhnya benar.

Saat jam istirahat tiba, suasana kantin ramai oleh tawa dan obrolan ringan. Anak-anak membicarakan rencana liburan, hadiah dari orang tua, atau sekadar kegembiraan karena ujian telah usai. Venesya duduk bersama Syifa, Yasmin, dan beberapa teman lain, tetapi pikirannya terasa terpisah, seolah ia duduk di kursi yang sama namun berada di ruang yang berbeda.

"Aku ingin nilai setinggi kamu," kata seseorang sambil tertawa.
"Atau otakmu saja dipinjam sebentar," sahut yang lain.

Mereka tertawa. Venesya ikut tersenyum, tetapi senyum itu cepat pudar. Ia mulai menyadari sesuatu yang tidak nyaman. Prestasi yang selama ini ia anggap sebagai hasil kerja keras, kini berubah menjadi ukuran, pembanding, bahkan beban bagi orang lain.

Kesadarannya membuatnya gelisah.

Ia teringat kalimat yang pernah dibacanya, bahwa pengetahuan tidak pernah netral. Ia membawa konsekuensi. Dan untuk pertama kalinya, ia merasakan konsekuensi itu menempel pada dirinya sendiri.

Setelah jam sekolah usai, Venesya tidak langsung pulang. Kakinya melangkah menuju Pojok Berpikir, ruangan yang selama ini menjadi tempat paling aman baginya. Pintu kayu itu masih sama, rak buku masih tersusun rapi, aroma kertas tua masih setia menyambut siapa pun yang masuk. Tetapi hari ini, ruangan itu terasa berbeda.

Lebih sunyi.

Pak Ahmad Averroes sedang duduk di kursinya, membaca tanpa tergesa. Ia menutup buku saat melihat Venesya masuk.
"Kamu terlihat lelah," katanya lembut.

Venesya duduk di kursi seberangnya. Ia tidak langsung menjawab. Tangannya meremas ujung seragamnya, sebuah kebiasaan kecil yang selalu muncul saat ia tidak tahu harus memulai dari mana.

"Pak," katanya akhirnya, suaranya pelan, "apakah semua orang yang berpikir akan merasa tidak nyaman?"

Pak Ahmad tidak langsung menjawab. Ia menatap Venesya sejenak, lalu berdiri dan berjalan menuju rak buku.
"Tidak semua," ujarnya, "tapi mereka yang jujur pada pikirannya sendiri hampir selalu merasakannya."

The Little Philosopher : Next GenerationCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang