Janda Lebih Menggoda

18.8K 561 84
                                        

Salsabila Haneera Jenar, seorang bidan yang mengabdi di sebuah desa cukup terpencil. Bukan tanpa alasan, dia pergi dari hiruk pikuknya kota Jakarta karena meninggalkan sakitnya dikhianati.

Wanita yang kerap dipanggil Salsa itu, seorang janda yang ditinggal suaminya selingkuh. Suaminya seorang TNI yang saat itu bertugas di pedalaman Papua. Entah bagaimana ceritanya, justru suaminya yang bernama Doni berselingkuh dengan rekan sejawat Salsa yang sama-sama menjadi bidan di Jakarta. Bahkan diam-diam mereka sudah menikah secara siri.

Setelah mengetahui semua, Salsa melaporkan atas kejadian perselingkuhan tersebut pada kesatuan tempat dimana suaminya bekerja. Pada akhirnya Doni di mutasi dan di asingkan pada sebuah daerah yang cukup jauh. Selain itu juga Salsa langsung melayangkan gugatan cerai pada suaminya.

Salsa yang tak mau sakit hati mengingat peliknya rumah tangga sebelumnya, memilih pergi dari Jakarta dan mengabdi di sebuah desa. Saat itu memang ada lowongan bidan yang kosong di Puskesmas desa tersebut. Dimana bidan sebelumnya pindah tugas mengikuti suaminya.

.....

"Selamat pagi bu Salsa. Perkenalkan saya Subagio, kepala Puskesmas di desa ini. Saya berharap bu Salsa betah mengabdi di kampung kecil ini." Subagio merupakan seorang mantri sekaligus kepala Puskesmas tempat Salsa bekerja.

"Selamat pagi juga pak Subagio, salam kenal juga. Dengan senang hati dan ikhlas saya akan mengabdi disini. Semoga saya diterima oleh warga di desa ini ya pak."

"Pasti bu. Tenang saja. Orang disini baik-baik." Jelas Subagio yang membuat Salsa tenang.

"Bu Salsa istirahat saja dulu di rumah singgah. Disana menjadi rumah hak ibu selama ini menjadi bidan disini." Salsa memanglah baru saja sampai di desa pukul sepuluh pagi. Tadi dia berangkat dari Jakarta sekitar pukul setengah lima, sehabis melaksanakan sholat subuh.

Salsa membawa kendaraan sendiri, mobil keluaran Toyota terbaru bermerek Yaris berwarna lemon itu menjadi akomodasi Salsa kemana saja dia pergi. Memang jika dilihat aneh seorang bidan yang sudah enak di kota malah memilih penempatan di sebuah desa terpencil. Apalagi jika dilihat dari penampilan dan kendaraan yang digunakan, Salsa terlihat bahwa dia dari kalangan orang cukup berada.

Kedua orang tua Salsa, Jovan dan Andini sebenarnya tak setuju dengan tindakan Salsa. Mereka menganggap Salsa gegabah karena sakit hari pada Doni, mantan suaminya. Namun Salsa yang cukup keras kepala itu tak bisa lagi diperingatkan.

"Terima kasih pak Subagio, ini rumah untuk saya di sebelah mana ya?" Subagio menjelaskan arah rumah tinggal untuk Salsa. Tak jauh dari Puskesmas, sekitar 2 km saja.

"Nanti rumahnya utara jalan ya bu. Gerbang warna putih, maaf rumahnya sederhana bu. Tapi ada tempat untuk parkir mobil ibu." Jelas Subagio.

"Pak saya yang terima kasih sudah diterima baik disini. Malah saya nggak enak kalo bapak ngrasa rumahnya sederhana. Bagi saya yang penting saya bisa tinggal dengan nyaman." Balas Salsa yang diangguki oleh Subagio.

"Ya sudah hati-hati ya bu, mulai besok saja bu Salsa ke Puskesmas nya."

"Baik pak, saya permisi dulu ya." Pamit Salsa.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam bu Salsa."

Salsa mengendarai mobilnya meninggalkan Puskesmas. Dia merasa senang karena disana semua dokter dan perawat maupun staf nya baik semua. Salsa merasa semua orang welcome atas kehadirannya. Dia berharap disini bisa melupakan semua kesedihan sebelumnya.

.....

Mobil Salsa sudah sampai di rumah yang ciri-cirinya seperti Subagio sampaikan.

Ini kayaknya rumahnya. Lumayan luas ternyata. Cukup bagus. Monolog sendiri ketika dia masih di dalam mobil.

OneshootTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang