"Duh gantengnya pak Lian ya Nab. Tiap hari gue liat-liat bukannya puas malah makin meleleh gue."
"Hadeeeh Sal, apa si gantengnya pak Lian. Orang modelan kanebo kering gitu." Balas Nabila.
Dzakiyah Salsabisa Wahid, seorang pegawai di kantor kabupaten. Dia merupakan pegawai negeri sipil yang baru saja bekerja disana sekitar dua tahun terakhir. Dia sedang mengejar seorang duda yang merupakan rekan kerjanya meski beda bagian, yang bernama Lian Akbar Malik. Seorang duda cerai karena istrinya yang selingkuh. Saat itu Lian masih sebagai pegawai honorer, sehingga mantan istrinya yang bernama Aghnia memilih pria lain yang sudah mapan. Lian dan Aghnia hanya menikah satu tahun, dan belum dikaruniai anak.
Sejak awal masuk di dinas sosial, Salsa langsung terpana pada Lian. Meski secara diam-diam. Beribu cara dia lakukan sebagai cegil, namun secara pelan-pelan. Dia takut Lian ilfeel duluan padanya jika dia yang grasak grusuk.
Tak lama dia berbincang, Lian datang bersama rekan kerja lainnya bernama pak Joko. "Pagi semuanya." Sapa Lian pada Nabila dan Salsa. Dengan senyum manis mengalahkan gula, Salsa membalas sapaan Lian.
"Selamat pagi juga pak Lian, pak Joko." Lian sedikit risih setiap kali Salsa terlalu genit padanya. Apalagi pakaian Salsa yang cukup ketat. Bukannya tertarik justru Lian takut pada perempuan itu.
"Mbak Salsa pagi-pagi semangat sekali ya sudahan. Beda auranya sama saya yang berangkat malah sedih karena ingat anak yang nangis waktu saya pamitin." Balas Joko membuat Lian mau tak mau berhenti dan ikut berbincang dengan semuanya.
"Beda atuh pak, kalo bapak kan sudah berkeluarga. Nah kalo saya masih single pak. Lebih tertarik di kantor daripada di kos sendirian. Di kantor bawaannya adem terus." Kode Salsa yang sebenarnya untuk Lian.
"Keren sekali dedikasinya mbak Salsa buat kantor ya." Balas Joko tak paham.
"Bukan karena itu pak, tapi karena ada yang di-." Nabila tak melanjutkan omongannya.
"Aduh sakit tau Sal!" Omel Nabila karena Salsa menginjak kakinya.
"Kenapa bu Nabila?" Suara Lian membuyarkan kekesalan Salsa pada sahabatnya itu.
"Nggak sengaja keinjek kaki saya pak. Maklum sepatu Nabila baru jadi pengen nginjek aja terus." Balas Salsa dengan candaan, sedangkan Nabila mendengus kesal.
.....
"Bu Salsa." Sapa Lian yang mendatangi meja kerja Salsa.
"Ada apa ya pak Lian?" Balas Salsa dengan senyum manisnya meski wajah Lian datar.
"Untuk kegiatan sosialisasi di masyarakat daerah Kebon Mangga besok apa sudah selesai semua ya persiapannya?" Tanya Lian yang memang menjadi ketua panitia sosialisasi program baru pemerintah di salah satu daerah untuk percobaan.
Tiba-tiba ide jahil Salsa muncul. "Sudah selesai pak, cuma masih ada beberapa hal yang belum saya pahami mengenai materinya. Saya sudah membaca modulnya, namun belum paham juga."
"Coba belajar dengan bu Nabila atau pak Joko, sepertinya mereka sudah paham mengenai sosialisasi besok." Balas Lian tak sesuai ekspektasi Salsa.
"Mana bisa pak, bu Nabila pulang kantor kan dijemput sama calonnya. Terus kalo sama belajar sama pak Joko, takutnya istrinya marah dan salah paham. Apalagi kalau sampai telat pulang rumah." Balas Salsa dengan segala alasan segudang yang dia siapkan.
"Kenapa nggak belajar dan sekarang aja, biar nggak perlu di luar waktu kantor." Balas Lian.
"Saya masih sibuk pak, banyak pekerjaan saya yang harus saya selesaikan. Kan besok kita berangkat ke kecamatan Kebon Mangga. Jadi pekerjaan saya harus saya selesaikan dahulu."
