"Nggak mau bu, Salsa benci anak haram itu. Bawa dia pergi dari hadapan Salsa. Hiks hiks."
"Istighfar nak, dia anak kamu. Meski ayahnya tak mau menerima dia dan bertanggungjawab, bagaimanapun dia darah daging kamu sayang. Ayah ibu ikhlas menerima adek. Kamu juga harus jadi ibu yang baik." Nasihat Wulan pada anak keduanya yang bernama Salsa.
"Nggak mau bu, Salsa nggak mau sama anak bajingan itu. Bawa dia pergi! Salsa nggak mau kasih Asi buat dia!" Teriaknya membuat Wulan mengehela nafasnya.
Tangisan kecewa Salsa beriringan dengan tangisan bayi yang baru saja dia lahirkan. Salsa yang mengalami MBA dengan mantan kekasihnya yang bernama Baskara, yang ternyata mantannya sudah memiliki istri di kampung halamannya.
Salsa yang belum lama pacaran terbuai dengan rayuan Baskara yang menjadi teman kerja se kantornya. Dia mengira Baskara seorang pria single sesuai dengan pengakuannya selama ini. Namun setelah Salsa memberikan mahkota yang dia jaga, hingga dia hamil di luar nikah. Baru ketahuan lah bahwa kekasihnya tersebut telah memiliki istri yang tinggal di Surabaya. Dan mereka LDM karena istrinya merawat anak serta mertuanya di desa asal Baskara.
"Pak tolong adzan i cucu kita." Pinta Wulan pada Andi suaminya.
"Salsa masih nggak mau nerima adek ya bu?"
"Iya pak. Anak kita masih belum mau sama anaknya. Hati ibu sedih sekali. Kasian bayi tak berdosa ini. Berkali-kali Salsa saja hampir membuatnya pergi dari dunia."
"Kita harus lebih sabar bu, bagaimanapun kita tau kondisi Salsa tak mudah bu. Jangan marahin anak kita. Dia hanya butuh dukungan dari kita. Bapak percaya Salsa pasti suatu saat akan begitu menyayangi anaknya."
.....
"Pak Lian maaf, saya mau izin pulang." Paul yang dikabari oleh orang tuanya bahwa Salsa dan anaknya yang diberi nama Sheena sudah bisa dibawa pulang ke rumah hari ini. Setelah dua hari melahirkan kondisi Salsa dan bayinya cukup baik. Meski Salsa secara terang-terangan tidak mau menerima anak kandung yang telah dia lahirkan.
"Mau kemana Paul?" Tanya Lian. Lian Hafis Nugraha. Yang merupakan CEO di Nugraha grup dan juga atasan Lian. Paul bekerja sebagai sekretaris Lian di perusahaan tersebut sudah cukup lama.
"Mau jemput Salsa dan keponakan saya pak." Balas Paul dengan senyum sumringah nya.
"Loh adikmu sudah lahiran?" Tanya Lian pada Paul yang memang mengetahui kehamilan Salsa. Lian juga mengetahui bahwa Salsa hamil tanpa suami. Paul yang menjadi sekretaris Lian membuat keduanya cukup dekat dan cerita satu sama lain. Termasuk mengenai kondisi Salsa saat awal tau hamil di luar nikah. Lian yang bijak pun tak pernah menjudge. Selama ini Lian juga hanya mendengar cerita tentang Salsa, namun mereka tak pernah bertemu secara langsung.
"Iya sudah pak dua hari yang lalu." Balas Paul dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.
"Turut bahagia ya. Selamat kamu uda jadi uncle aja."
"Iya pak Lian terima kasih."
"Ini kamu jemput naik motor Paul?" Tanya Lian yang mengetahui bahwa Paul tak memiliki mobil.
"Iya pak, saya bawa motor kesana. Nanti Salsa dan orang tua saya pesankan taksi." Jelas Paul yang diangguki Lian.
"Gimana kalo saya antar aja, kebetulan kan saya sudah tidak ada meeting." Tawar Lian yang ditolak halus oleh Paul.
"Jangan pak. Saya tidak enak. Sudah nggakpapa saya bisa pesankan taksi buat keluarga."
"No! Saya tidak terima penolakan. Ayo kita turun ke basement." Ajak Lian seketika yang tak bisa lagi Paul elak.
