Cinta Buta

18.9K 564 43
                                        

Attention please : cerita kali ini cukup banyak adegan dewasanya. Tidak untuk ditiru oleh siapapun, karena berkaitan dengan perselingkuhan. Apalagi yang masih pacaran, jangan ya dek ya! Mending skip!

"Ouhh pelann mashhh. Ah ahhh."

"Apanya yang pelan? Hm?" Lian terus saja menyodok vagina Salsa tanpa henti. Begitu keras bunyi penyatuan kedua kelamin tersebut.

"Enak bitch! Milikmu sempit! Ah anjing! Fuck! Jangan jepit penisku bangsat!" Lian kelimpungan dengan jepitan vagina Salsa. Lubang itu berdenyut terasa memeras kejantanan Lian yang besar dan panjang. Tak lupa penis tersebut memiliki urat menonjol membuat Salsa begitu menggila.

"Sudahh mass. Salsa mau keluarrhh."

"Shit! Kamu yang menggodaku hari ini! Aku tak akan cepat puas!" Dengan brutal Lian menyodok tak beraturan vagina Salsa.

"I like your dick daddyh! Fuck me harder! Faster dadh!" Teriak Salsa yang ingin dipuaskan oleh batang Lian.

Posisi menungging di depan cermin kamar mandi, Salsa berpegangan erat pada wastafel. Wajah mesum keduanya terlihat jelas pada kaca tersebut. Lian begitu bergairah, tangannya menjambak kuat rambut Salsa. Bukannya terasa sakit, justru yang Lian lakukan membuat Salsa bergairah. Dia suka dengan Lian yang selalu kasar jika having sex. Salsa tipikal wanita liar dan binal menyukai permainan kasar daripada lembut. Karena dia merasa puas dan bisa memuaskan Lian.

"Mashhh. Nikmaathh. Oughhhh." Tangan Salsa meremas payudaranya, dan sesekali memilin putingnya, dengan satu tangan masih berpegangan di wastafel.

Lian semakin menggeram! "Binal sekali kamu jalang! Rasakan penisku!" Lian menambah ritme sodokannya, jarinya menggerayangi vagina Salsa. Dia mengelus klitoris Salsa yang sudah bengkak.

"Mashh, jangannhh, ah ahhhh."

"Jangan apa? Vaginamu sudah becek bitch! Aku tau kamu suka ini." Lian menggesek dan mencubit klitoris Salsa membuat Salsa berteriak histeris.

"Oughhh aku keluarrhh mashhhh ah aahhhh." Squirt yang Salsa alami seperti kran air yang rusak. Dia terkencing-kencing berdiri dengan nafas tersengal merasakan nikmat dan capek sekaligus. Tanpa ampun setelah selesai squirt nya, Lian menyodokkan kembali penisnya pada lubang Salsa.

"Ah ahh ahhh, terus mashhh. Jangan berhentii. Oughh ah ahhh."

"Sialan! Vagina kamu jepit penisku sayaang! Ah aahhh jalang!"

Lian bermain cukup brutal tanpa mendengarkan teriakan Salsa. Meski berkali-kali Salsa minta ampun, namun Lian tetap saja mengejar pelepasannya.

"Ouhhh bangsaat! Milik kamu sempit sayanghh. Mash keluarrhh."

"Enak mana sama punya istri mas? Ah ahhh Salsa juga mashhh. Ah ahhhh. Arrghh mas Liaanhhh."

"Shitt! Milikmu terbaik sayang! Padahal sering aku masukin! Oughh fuck! Terima cairan mas oughhhh." Lian menyemprotkan semua spermanya dalam vagina Salsa.

"I love u. Maaf ya kalo mas suka kasar." Lian sudah mendudukkan Salsa diatas wastafel. Dia mencium bibir Salsa. Salsa masih mengenakan dressnya. Pakaian Lian pun masih lengkap, mengenakan seragam kantor, hanya celananya yang dia turunkan hingga ke lutut. Daster Salsa pun hanya dinaikkan ke pinggang ketika Lian menyodokkan batangnya. Hanya celana dalam yang Salsa tanggalkan. Dan juga kancing bagian dada dibuka hanya untuk mengeluarkan kedua gunung kembar Salsa.

"Kuat balik ke kamar endak? Mas mau langsung mandi. Atau mandi bareng disini." Tanya Lian membuat Salsa menggeleng.

"Nggak mau! Salsa tau pasti mas akan gempur Salsa lagi tanpa ampun." Salsa membersihkan vaginanya sebentar dan menggunakan celana dalamnya kembali. Tak lupa dia mengancingkan dasternya.

OneshootTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang