Memperbaiki

375 47 2
                                        


Setelah pertemuan yang singkat namun penuh dengan ketegangan emosional itu, Rora tak bisa berhenti memikirkan apa yang telah terjadi. Perasaan cemburu yang ia rasakan melihat Ahyeon begitu dekat dengan Pharita semakin menghantui pikirannya. Di satu sisi, ia sadar bahwa keputusannya untuk menjaga jarak dari Ahyeon adalah demi memberi ruang bagi mereka berdua untuk merenungkan hubungan mereka. Namun, melihat bagaimana Ahyeon terlihat bahagia bersama Pharita, Rora mulai meragukan apakah keputusan itu benar.

Di sisi lain, Ahyeon pun merasakan kekosongan yang semakin besar. Meskipun Pharita selalu ada di sisinya, menjadi tempatnya bersandar di saat-saat sulit, Ahyeon tak bisa mengabaikan kenyataan bahwa perasaannya terhadap Rora belum sepenuhnya hilang. Setiap kali ia melihat Rora, perasaan rindu dan penyesalan selalu muncul. Namun, setiap kali ia mencoba mendekati Rora, ada dinding tak terlihat yang membuat mereka sulit berbicara dengan leluasa seperti dulu.

Waktu terus berlalu, dan situasi ini tak kunjung membaik. Hingga suatu malam, Ahyeon duduk sendirian di apartemennya, merenungkan semua yang terjadi. Rasa rindu yang mendalam terhadap Rora mulai menguasainya. Ia merindukan tawa Rora, candaannya, bahkan kehangatan yang selalu hadir saat mereka bersama. Hubungannya dengan Pharita, meskipun menyenangkan, terasa berbeda. Pharita adalah seseorang yang selalu siap mendukungnya, tapi tidak pernah ada kehangatan emosional yang sama seperti dengan Rora.

Ahyeon mencoba mengalihkan pikirannya dengan mengingat kenangan-kenangan manis dengan Pharita, tapi tidak bisa. Ia tahu di dalam hatinya bahwa Rora masih menduduki tempat yang sangat istimewa. Semakin lama ia berpikir, semakin ia menyadari bahwa hubungannya dengan Pharita, meskipun nyaman, tidak bisa menggantikan perasaan cinta yang mendalam yang ia miliki untuk Rora.

Di saat yang sama, Rora sedang berada di ruang tamunya, memandang foto-foto lama di ponselnya, foto-foto saat ia dan Ahyeon masih bersama. Ada satu foto yang membuatnya tersenyum lebar—foto mereka berdua di pantai, saat Ahyeon mencoba menulis nama mereka di pasir. Rora tertawa melihat betapa canggungnya tulisan itu, tapi di balik tawa, ada perasaan rindu yang mendalam. Seiring waktu, perasaannya terhadap Ahyeon semakin tumbuh kembali, meskipun ia mencoba untuk menahan diri.

Pada malam itu, Rora akhirnya mengambil keputusan. Ia tak bisa lagi terus diam dan membiarkan perasaan ini menggerogotinya dari dalam. Ia ingin memperjuangkan apa yang mereka miliki. Ia ingin memberi kesempatan kepada mereka berdua untuk berbicara secara jujur, tanpa ada lagi dinding yang memisahkan mereka.

Esok harinya, Ahyeon sedang berada di sebuah acara penghargaan besar di mana ia dinominasikan untuk penghargaan solois pendatang baru terbaik. Ahyeon hadir bersama Pharita, dan mereka berdua tampak sempurna sebagai pasangan selebriti yang harmonis di mata media. Namun, di dalam hati Ahyeon, ada rasa gelisah yang tak bisa ia abaikan.

Di tengah acara, ketika jeda istirahat diberikan, Ahyeon memutuskan untuk keluar sebentar dari keramaian. Ia merasa sesak dengan sorotan kamera dan pujian yang terus mengalir. Ia butuh udara segar. Pharita, yang memperhatikan perubahan sikap Ahyeon, tidak mengatakan apa-apa dan membiarkan Ahyeon pergi sejenak. Ia tahu bahwa Ahyeon butuh waktu sendiri.

Ketika Ahyeon keluar menuju balkon gedung acara, dia terkejut melihat Rora berdiri di sana, memandang jauh ke arah kota yang bersinar di malam hari. Hatinya berdegup kencang melihat Rora di tempat yang sama dengannya. Ia merasa waktu seakan berhenti, dan semua suara dari dalam gedung perlahan menghilang.

Rora menoleh perlahan ketika merasakan kehadiran seseorang. Saat ia melihat Ahyeon, ada sedikit keraguan di wajahnya, tapi kemudian dia tersenyum kecil. "Ahyeon..."

"Rora..." Ahyeon mendekati Rora, merasa canggung namun sekaligus lega bisa bertemu dengannya. Mereka berdiri dalam keheningan selama beberapa detik, sebelum Ahyeon akhirnya memberanikan diri untuk berbicara. "Aku... aku tidak tahu kamu ada di sini."

ArtistTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang