Hari-hari berikutnya, Ahyeon dan Rora mulai sering menghabiskan waktu bersama lagi. Meski perlahan, hubungan mereka terasa seperti membangun ulang sebuah rumah yang pernah runtuh—pondasi cinta mereka masih ada, tapi butuh perbaikan di banyak tempat.
Suatu sore, Rora mengajak Ahyeon ke tempat yang istimewa bagi mereka: kafe kecil yang letaknya agak jauh dari pusat kota, tempat mereka sering menghabiskan waktu bersama .
Ahyeon terlihat sedikit gugup saat mereka duduk berdua di sudut kafe itu, memandangi daftar menu yang sudah berubah sejak terakhir kali mereka datang. Rora memperhatikan ekspresi Ahyeon dengan senyum kecil di wajahnya.
"Kamu masih inget nggak waktu kita pertama kali ke sini?" tanya Rora, memecah keheningan.
Ahyeon mengangguk, matanya mulai berbinar. "Waktu itu kamu pesenin aku roti rasa keju, padahal aku alergi keju."
Rora tertawa kecil, suaranya mengalir seperti melodi. "Dan aku baru tahu setelahnya kalau kamu lebih suka strawberry ."
Ahyeon tersenyum, sedikit malu. "Aku nggak pernah nyesel kok waktu itu. Aku senang ada di sini sama kamu."
Rora mengangguk pelan, matanya menatap lurus ke arah Ahyeon. "Aku juga nggak pernah nyesel ada di samping kamu. Tapi aku harap kita bisa lebih jujur satu sama lain mulai sekarang."
Ahyeon merasa matanya mulai berkaca-kaca. Ia mengangguk dengan sungguh-sungguh. "Aku janji, Ahyeon. Aku nggak akan pernah nyembunyiin apa-apa lagi darimu."
Ahyeon tersenyum kecil, kemudian mengulurkan tangannya ke atas meja. Rora meraihnya, dan keduanya saling menggenggam dengan erat.
.
.
.
Sementara itu, Pharita tengah menikmati waktunya di Jepang, mengikuti jadwal pemotretan dan mencoba menjauh dari ingatan tentang Ahyeon. Kota itu memberinya banyak inspirasi baru, dan ia merasa semangat untuk kembali fokus pada kariernya.
Suatu malam, saat berjalan di tengah lampu neon Shibuya, Pharita menerima pesan dari Ahyeon.
Ahyeon🦋
Terima kasih untuk semuanya unnie. Aku nggak tahu apa aku bisa melewati semua ini tanpa kamu
Pharita membaca pesan itu dengan senyum tipis. Ia mengetik balasan singkat, namun penuh arti:
Bahagia selalu, Ahyeon. Kamu pantas mendapatkannya
Pharita tahu bahwa ia telah melakukan yang terbaik untuk mendukung Ahyeon, dan sekarang waktunya untuk melepaskan. Hatinya mungkin butuh waktu untuk sembuh, tapi ia percaya, ia akan menemukan jalannya sendiri.
Beberapa hari kemudian, Ahyeon dan Rora berjalan-jalan di taman, menikmati angin sepoi-sepoi musim semi. Keduanya terlihat jauh lebih santai, berbagi tawa dan cerita seperti dulu.
"Kamu tahu nggak, aku udah belajar bikin cokelat panas sendiri sekarang," kata Ahyeon, mencoba menirukan nada bangga.
Rora tertawa lepas. "Oh, ya? Kalau gitu kapan aku boleh cobain?"
Ahyeon menatapnya dengan senyum penuh arti. "Gimana kalau malam ini? Di apartemenku."
Rora sedikit terkejut, tapi hatinya menghangat mendengar ajakan itu. Ia tahu ini adalah tanda bahwa Ahyeon mulai membuka hatinya sepenuhnya lagi.
"Baiklah," jawab Rora sambil tersenyum lebar.
Hari itu, di bawah langit yang cerah, mereka melangkah bersama, seperti memulai babak baru yang penuh harapan. Meski perjalanan mereka tidak selalu mulus, mereka tahu cinta yang mereka miliki cukup kuat untuk melewati semuanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Artist
Roman d'amourRora, aktris muda yang membintangi drama-drama populer dan film yang sukses secara komersial. Karismanya di layar, ditambah dengan kemampuan akting yang mendalam, membuatnya disukai oleh publik dan diakui oleh kritikus. Ahyeon, solois muda yang naik...
