Hari-hari berikutnya, Asa semakin sering mencari kesempatan untuk mendekati Rora di lokasi syuting. Ia selalu hadir di saat Rora membutuhkan sesuatu, entah itu secangkir kopi saat pagi hari, atau bantuan saat ada masalah dengan naskah. Walau awalnya Rora menganggapnya sebagai bentuk keramahan biasa, lama-lama Asa menunjukkan perhatian yang terasa lebih dari sekedar seorang rekan kerja.
Pada suatu sore, setelah syuting yang cukup melelahkan, Asa dan Rora beristirahat di area terbuka dekat lokasi syuting. Asa, yang biasanya tenang, tampak lebih berani dalam perbincangan mereka hari itu.
"Kamu tahu, Rora..." Asa memulai sambil menatap ke arah Rora dengan tatapan yang sedikit berbeda. "Kamu adalah salah satu orang paling tulus yang pernah kutemui di industri ini. Sangat jarang aku merasa bisa benar-benar terbuka dengan seseorang."
Rora tersenyum sopan. "Terima kasih, Asa. Aku juga senang bisa bekerja sama denganmu. Kamu sangat berbakat, dan aku yakin kamu akan sukses besar di sini."
Asa tertawa kecil. "Tapi, bagiku bukan hanya tentang karier. Ada hal-hal lain yang juga penting. Seperti... menemukan seseorang yang benar-benar bisa mendukungku, seseorang yang bisa aku andalkan."
Rora merasakan sesuatu yang ganjil dalam nada bicara Asa. Ia tak ingin berprasangka buruk, tetapi ada perasaan canggung yang mulai muncul. Rora mencoba menanggapi dengan hati-hati, menjaga agar batasan tetap jelas.
"Ah, iya, itu memang penting, Asa. Memiliki seseorang yang mendukung kita sangat berarti, apalagi dalam industri seperti ini," jawabnya dengan nada netral.
Namun, Asa tampaknya tak puas dengan jawaban Rora yang diplomatis. Ia tersenyum dan mendekat sedikit, membuat jarak di antara mereka semakin kecil. "Rora... kamu pernah berpikir untuk menjadi lebih dari sekedar teman dengan seseorang di lokasi syuting?"
Rora terdiam sejenak, merasa tidak nyaman dengan arah pembicaraan itu. Ia menegakkan bahunya, mencoba menahan diri agar tidak menunjukkan ketegangan yang ia rasakan. "Aku sudah punya seseorang yang sangat berarti dalam hidupku, Asa. Seseorang yang aku cintai dan aku hargai."
Asa mengangguk pelan, tetapi senyumnya tak hilang. "Aku tahu kamu dekat dengan Ahyeon. Tapi di industri seperti ini, kita tak pernah tahu apa yang bisa terjadi. Terkadang, hubungan yang terlihat kuat di luar bisa terguncang di dalam. Kita semua menghadapi tekanan yang sama."
Rora mulai merasa risih. Ia mencoba tersenyum untuk menjaga suasana tetap profesional. "Aku menghargai perasaanmu Asa dan aku juga mengerti tekanan yang kita hadapi. Tapi aku yakin dengan hubunganku dan Ahyeon. Dia adalah satu-satunya yang aku cintai, dan aku tidak ingin ada yang mengubah itu."
Asa menatap Rora dengan tatapan serius. "Aku menghormati itu, Rora. Tapi kalau ada saatnya kamu butuh seseorang untuk berbagi, aku selalu ada di sini."
Rora merasa lega saat seorang asisten sutradara memanggil mereka untuk melanjutkan syuting. Ia menganggap pembicaraan itu sudah selesai, meski di dalam hatinya ada perasaan tidak nyaman yang tersisa.
.
.
.
Beberapa hari berlalu, dan Asa terus menunjukkan perhatian yang sama. Setiap kali ada kesempatan, ia mencoba mendekati Rora dengan berbagai cara—membawakan kopi, menawarinya makan siang bersama, atau sekedar mengobrol saat istirahat. Meskipun Rora menanggapi dengan sopan dan menjaga jarak, Asa tampaknya tetap tidak menyerah.
Rora mulai merasa serba salah. Di satu sisi, ia ingin menjaga hubungan profesional dan bersikap ramah pada rekan kerjanya. Namun, di sisi lain, perhatian Asa yang intens mulai membuatnya merasa terbebani. Rora juga merasa bersalah karena tidak langsung membicarakan ini dengan Ahyeon, tapi ia tak ingin menambah kecemasan di antara mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Artist
RomanceRora, aktris muda yang membintangi drama-drama populer dan film yang sukses secara komersial. Karismanya di layar, ditambah dengan kemampuan akting yang mendalam, membuatnya disukai oleh publik dan diakui oleh kritikus. Ahyeon, solois muda yang naik...
