Saat malam semakin larut, kehangatan di vila menjadi satu-satunya pelarian dari dinginnya malam pegunungan. Rora dan Ahyeon duduk di depan perapian, saling merapat di bawah selimut tebal yang membungkus mereka berdua. Suara api yang berderak dan remangnya cahaya lilin menambah suasana intim di antara mereka.
Ahyeon mengangkat wajahnya sedikit, menatap Rora yang kini duduk di sampingnya dengan mata yang penuh kelembutan. "Aku masih nggak percaya kita bisa punya waktu seperti ini," ucap Ahyeon sambil tersenyum.
Rora membalas tatapan itu, lalu dengan perlahan merapikan rambut Ahyeon yang sedikit berantakan. "Aku juga. Kamu tahu, setiap momen sama kamu terasa seperti hadiah. Mungkin kita nggak bisa punya banyak waktu seperti ini, tapi aku janji, aku akan selalu membuat setiap detiknya berarti."
Ahyeon merasakan desiran lembut di hatinya mendengar kata-kata Rora. Perlahan, dia mengulurkan tangan, menyentuh pipi Rora dengan lembut, jempolnya mengusap pelan seolah ingin menyerap setiap detik dan menyimpannya dalam ingatan.
Dengan suara yang hampir berbisik, Ahyeon berkata, "Aku bersyukur kita bertemu, dan aku lebih bersyukur lagi kita bisa bersama, Rora."
Rora merasakan sentuhan itu dan menutup matanya sejenak, membiarkan emosi itu meresap. Perlahan, ia mendekatkan wajahnya, mencium Ahyeon dengan lembut dan penuh perasaan. Ciuman itu dalam, menenangkan, namun sekaligus menyiratkan semua perasaan yang mereka rasakan. Mereka berciuman lebih lama, seakan tidak ingin melewatkan satu detik pun dari kebersamaan ini.
Setelah beberapa saat, Rora menarik diri sedikit, menatap mata Ahyeon yang kini berbinar-binar. Ahyeon tersenyum kecil, lalu tanpa berkata apa-apa ia menggenggam tangan Rora dan menariknya untuk bersandar lebih dekat. Dalam dekapan itu, mereka duduk berdua, merasakan detak jantung yang berpadu dalam kehangatan.
Rora perlahan mengusap punggung Ahyeon, membuat suasana semakin hangat. "Kamu tahu, kadang aku bertanya-tanya, apa aku pantas mendapatkan kamu, Ahyeon?"
Ahyeon mendongak dan menatap Rora dengan penuh keyakinan. "Kamu nggak pernah tahu betapa berartinya kamu buat aku. Bukan soal pantas atau nggak pantas. Ini soal bagaimana kita saling menjaga."
Rora tersenyum mendengar jawaban itu, lalu memeluk Ahyeon lebih erat, seolah takut kehangatan ini akan hilang. "Aku janji akan selalu ada buat kamu, Ahyeon. Apa pun yang terjadi."
Malam itu, mereka berbicara tentang banyak hal—tentang impian, ketakutan, masa depan, bahkan tentang mimpi-mimpi kecil yang pernah mereka bayangkan bersama. Setiap kata, setiap tawa, dan setiap kecupan terasa lebih berarti. Mereka menjadi lebih dari sekadar pasangan; mereka adalah dua jiwa yang saling memahami dan menerima satu sama lain.
Saat mereka akhirnya berbaring, Rora menarik Ahyeon ke dalam pelukannya, memeluknya erat seolah tidak ingin melepaskan. Di bawah langit pegunungan yang tenang dan bersih, mereka tidur berdua, merasakan kehangatan satu sama lain, menyadari bahwa cinta mereka adalah tempat di mana mereka bisa selalu pulang, meski dunia di luar terasa begitu keras.
Pagi itu, mereka terbangun dengan perasaan damai, matahari pagi yang lembut menerobos masuk ke dalam vila. Ahyeon membuka mata dan melihat Rora yang masih tertidur di sebelahnya, wajahnya yang tenang dan damai membuat hati Ahyeon berdesir. Dia menatap Rora dalam diam, merasa betapa beruntungnya dia memiliki seseorang yang begitu tulus mencintainya.
———
Rora membuka matanya dengan lembut, menyadari bahwa Ahyeon telah bangun lebih dulu, menatapnya dalam diam dengan senyum kecil yang menenangkan. Dia tertawa kecil, merasa hangat dan aman dalam tatapan itu. Ahyeon mengulurkan tangan dan menyentuh pipi Rora, lalu mengecup keningnya dengan pelan, memberi salam selamat pagi yang terasa manis dan penuh kasih.
"Pagi, Yeonnie," bisik Rora sambil memejamkan mata menikmati kecupan ringan itu.
"Pagi, sayang," balas Ahyeon dengan suara lembut, suaranya masih serak karena baru bangun tidur. Mereka tertawa kecil, merasa begitu dekat dan nyaman dengan satu sama lain. "Kamu tahu, aku nggak pernah merasa sebahagia ini saat bangun pagi," lanjut Ahyeon sambil tersenyum, menatap Rora yang kini duduk di sampingnya.
Rora tersenyum, lalu meraih tangan Ahyeon, mengusapnya lembut. "Aku juga nggak pernah merasa seberuntung ini. Seperti setiap hariku jadi lebih berarti saat aku ada di dekat kamu," katanya sambil menatap mata Ahyeon dalam-dalam.
Mereka berdua saling menatap, membiarkan perasaan mereka tersampaikan dalam keheningan pagi itu. Di luar, suara burung-burung bernyanyi, dan sinar matahari pagi mulai menerangi kamar mereka. Suasana tenang dan damai ini terasa seperti surga kecil bagi mereka.
Ahyeon lalu mengajak Rora untuk berjalan-jalan di sekitar vila, menikmati udara pagi yang segar. Mereka berjalan berdampingan, tangan mereka saling menggenggam, sesekali tertawa dan berbicara tentang hal-hal sederhana. Mereka menemukan sebuah taman kecil yang penuh dengan bunga-bunga liar, Rora memetik bunga dan menyelipkannya di telinga Ahyeon, membuat Ahyeon tertawa malu.
"Cantik banget," kata Rora sambil tertawa kecil, memandangi Ahyeon yang terlihat cantik dengan bunga di telinganya.
Ahyeon memerah, namun ia balas tersenyum. "Apaan sih ra."
Mereka terus berjalan dan berhenti di dekat danau kecil yang airnya jernih. Ahyeon duduk di tepi danau dan menarik Rora untuk duduk di sampingnya. Dengan tangan yang masih tergenggam, Ahyeon menatap danau yang tenang, seolah merefleksikan kedamaian yang mereka rasakan.
Ahyeon menoleh ke arah Rora, dan tanpa berkata apa-apa, ia merapatkan diri, menyandarkan kepalanya di bahu Rora. Rora menghela napas, merasakan kedamaian yang hanya bisa ia dapatkan ketika bersama Ahyeon. Tangannya terulur, memeluk bahu Ahyeon dengan erat, seolah ingin melindunginya dari segala kesulitan dunia luar.
"Aku nggak tahu berapa lama kita bisa terus seperti ini," ucap Rora pelan, suaranya bergetar sedikit. "Tapi selama kamu ada di sini, aku akan melakukan apa pun untuk membuat kamu bahagia, Yeonnie."
Ahyeon tersenyum dan menutup matanya, merasakan setiap kata yang diucapkan Rora. "Aku percaya sama kamu, Rora. Dan aku juga akan selalu ada untuk kamu. Kita akan menghadapi semuanya bersama, apapun yang terjadi."
Mereka duduk bersama dalam keheningan yang damai, menyaksikan matahari pagi yang semakin tinggi di langit. Momen itu terasa begitu sakral, seolah waktu berhenti sejenak hanya untuk mereka berdua. Mereka saling menguatkan dengan kehadiran masing-masing, tanpa perlu banyak kata, hanya kebersamaan yang sederhana namun begitu bermakna.
Saat kembali ke vila, mereka membuat sarapan bersama—sesuatu yang sederhana seperti roti panggang dan telur, tapi terasa begitu istimewa ketika mereka menyiapkannya bersama. Tawa dan canda memenuhi dapur kecil itu, dengan Ahyeon yang sesekali usil mengoleskan selai di pipi Rora, membuat Rora tertawa sambil mengusirnya pelan.
Mereka duduk di meja makan, menikmati sarapan dan membicarakan rencana kecil-kecilan untuk masa depan mereka. Meskipun banyak hal yang masih tidak pasti, mereka merasa yakin selama bisa menghadapi semuanya bersama. Rasa cinta yang mereka miliki menjadi pelindung dari segala tekanan dan sorotan yang harus mereka hadapi di luar sana.
Ketika waktu mereka di vila berakhir, dan mereka harus kembali ke kehidupan sehari-hari di Seoul, mereka merasa siap. Mereka telah mengisi ulang diri mereka dengan kebahagiaan dan ketenangan yang mereka butuhkan. Dengan menggenggam tangan satu sama lain di perjalanan pulang, mereka tahu bahwa apa pun yang terjadi, mereka memiliki satu sama lain untuk diandalkan.
Momen-momen manis dan sederhana yang mereka habiskan di vila itu akan selalu mereka kenang, sebagai tempat mereka membangun impian dan saling berjanji untuk terus mencintai, menghargai, dan mendukung satu sama lain sepanjang perjalanan mereka bersama.
.
.
.
Jangan lupa vote dan komen gaiss🙏🏻🥰
Makasih yang sudah baca🫶🏻
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Artist
RomanceRora, aktris muda yang membintangi drama-drama populer dan film yang sukses secara komersial. Karismanya di layar, ditambah dengan kemampuan akting yang mendalam, membuatnya disukai oleh publik dan diakui oleh kritikus. Ahyeon, solois muda yang naik...
