Seperti janjinya siang itu Rasya, pria yang tadi mengajak Muthe makan siang mendatangi Muthe. Rasya sendiri adalah salah satu staff manajer yang ada disana. Dirinya sudah pernah ditolak Muthe tapi masih tetap usaha.
"Lah pak, ngapain disini?" Tanya Gita melihat Rasya sedang ada di area para designer yang bukan tempatnya.
"Ehm.. anu,... ehm...," Rasya bingung jawabnya.
"Ya ya terserah bapak aja, Khatrin, mulai besok kamu pindah ke tim utama ya sama Bu Cindy," kata Gita kemudian hendak melengos pergi.
Semua mata tertuju pada Khatrin yang naik tim ke tim utama. Membuat Khatrina memasang wajah sombong. Tapi semua tau kalau dia memang anak emas Bu Cindy.
Muthe hanya memandang Khatrina lesu karena lagi-lagi gak kepilih. Dirinya berfikir kalau apa yang dilakukan kemarin ternyata sia-sia.
"Oia, Muthe juga ya!" Kata Gita berbalik badan dan berteriak. Semua langsung makin terbelalak.
Termasuk Muthe dan Khatrina yang gak percaya. Pasalnya Muthe termasuk baru disana dan sudah mendapatkan kesempatan itu.
"Ck, beruntung banget sih!" Protes Khatrina sinis.
"Anjir mantaaaab!!!!" Teriak Dey dan Eli mendatangi Muthe dan bersorak sorai bertiga.
Rasya daritadi berdiri di depan area Muthe sambil bengong karena dicuekin. Sementara ketiga wanita di depannya masih asik merayakan ke berhasilan Muthe.
"Ini jadi makan gak ya?" Celetuk Rasya. Ketiganya menoleh pada Rasya dan tampak tidak perduli kemudian ketiga berjalan meninggalkan Rasya. Rasya langsung mengejar mereka.
Siang itu akhirnya Rasya harus gigit jari karena harus mentraktir ketiga gadis itu. Rasya gagal makan siang romantis berdua dengan Muthe. Satu-satunya hal yang menghibur Rasya hanya karena Muthe duduk di sebelahnya.
Mereka makan bareng di cafe yang tidak jauh dari tempat kerja mereka. Yang Muthe tidak tahu adalah cafe itu adalah salah satu cafe favorit Tian selama di Indonesia.
"Eh itu bukannya pak Christian," kata Eli melihat Tian memasuki kafe sendirian.
"Ah bener, sapa yuk!" Kata Rasya hendak pergi namun tangannya segera di tahan Muthe agar tidak pergi. Tepat bersamaan Tian menoleh kearah mereka.
Tian dan Muthe sama-sama terkejut. Tian bahkan tidak memperhatikan Rasya yang sedang menyapanya, dirinya menatap lurus pada tangan Muthe yang berada di lengan Rasya.
Muthe butu waktu sesaat sebelum dirinya sadar tangannya berada di lengan Rasya dan menariknya. Wajah Muthe terlihat panik, Tian sesaat tersenyum smirk, sebelum tersenyum biasa dan meninggalkan mereka.
Muthe langsung duduk terdiam tidak berkata sementara ketiga orang lain di mejanya sibuk bercerita tentang Tian.
Saat Muthe melihat Tian berjalan keluar dia segera mengejarnya. Ketiga temannya kaget tapi mereka kurang sigap untuk menahan Muthe, bahkan sekedar melihat arah Muthe menghilang.
"Tunggu!" Kata Muthe langsung loncat masuk dalam mobil Tian.
"Lah, kok ngikut?" Tanya Tian bingung.
"A..aku mau jelasin yang tadi, itu salah paham," kata Muthe berusaha menjelaskan namun Tian hanya diam.
"Pak, gak usah anter saya balik ke kantor anter saya ke tempat kerja Muthe," kata Tian pada sang supir membuat Muthr makin panik.
"Mau ngapain?" Tanya Muthe panik.
"Kan kamu harus kerja," jawab Tian singkat. Muthe semakin pucat namun dirinya sudah tidak dapat berbuat apa-apa.
Sepanjang perjalanan dirinya berusaha menjelaskan kejadian tadi namun Tian hanya diam tak berkomentar kadang malah ngelamun. Sampai akhirnya mobil mereka tiba di depan loby tempat kerjanya.
"Tian, ish, kok daritadi aku dicuekin sih!" Protes Muthe Tian tidak merespon juga. Akhirnya Muthe turun dengan kesal bahkan membanting pintu mobilnya.
Tidak sadar bahwa dirinya diperhatikan oleh orang-orang disekitarnya, Muthe tetap sibuk ngomel-ngomel sambil menuju area nya.
Sementara Tian memilih tidak kembali ke kantornya namun menuju kantor kakaknya. Chika cukup terkejut dengan kunjungan tidak biasa adiknya.
"Kenapa ada sidak CEO nih?" Tanya Chika memandang adiknya yang mendekatinya dengan wajah bengong.
"Napa lu?" Tanya nya lagi setelah bercipika cipiki dengan kakaknya.
"Wanita itu sulit ya? Gue bingung," kata Tian berbicara padahal tatapannya kosong.
"Hah, lu kenapa dek ma Muthe, lu berdua nikah 7 tahun tinggal bareng baru sekarang aja dah gitu, kemana aja lu dari 7 tahun lalu," kata Chika ngomelin adeknya.
"Kayaknya Muthe butuh kebebasan deh," kata Tian masih datar.
"Heh gak usah macem-macem lu ya!" Protes Chika memperhatikan adeknya.
"Gue cerai aja kali ya!" Kata Tian, matanya masih kosong.
"Plak!" Satu keplakan melayang di kepala Tian dari tangan kakak semata wayangnya.
**************************************
Happy reading
KAMU SEDANG MEMBACA
My Hubby
FanfictionChrisMuth another story Jangan di bawa ke real life ya Hanya hiburan semata Jika ada kesamaan nama itu hanya kebetulan yang diniatkan saja
