Bab 33

1.2K 101 2
                                        

Ashel dan Muthe baru saja tiba di kamar Tian. Itu adalah kali pertama Muthe datang menjenguk Tian di siang hari. Sesampainya disana mereka disuguhkan pemandangan Delynn yang sedang memaksa papinya makan.

"Gak mauuuu, maunya disuapin mamiiii," kata Tian manja. Sebenarnya dirinya hanya menggoda Delynn.

"Udah deh jangan manja, mami gak ada!" Protes Delynn.

"Udah sini mami suapin," kata Muthe menghampiri keduanya. Keduanya yang tadi senyam senyum menjadi terpaku dengan kedatangan Muthe diantara mereka.

"Lah kok diem, tadi minta disuapin," kata Muthe menyodorkan makan pada Tian. Akhirnya Tian membuka mulutnya sambil matanya masih memandang takjub pada Muthe.

"Kamu juga makan sana," kata Muthe pada Delynn yang masih tetap belum bergerak dari tempatnya.

"Ni berdua kenapa malah bengong sih?!" Protes Muthe membuat baik Tian ataupun Delynn tersenyum. Delynn langsung mengambil makan siang sudah di belinya sebelumnya.

"Bang, ngapain disini? Adek mana?" Tanya Ashel bingung melihat anak sulungnya disana.

"Au deh kemana, abang tadi sama Delynn," saut Iel cuek.

"Lah?" Ashel makin bingung.

"Tar aja abang cerita, abang mau kuliah," saut Iel pamit pada mommy nya kemudian juga pamit pada Delynn dan keluarganya.

"Delynn, bang Iel kok jadi sama kamu kesini?" Tanya Ashel pada Delynn yang sedang makan.

"Tadi abang jemput Delynn, katanya mau ikut jenguk papi," kata Delynn disela makannya. Ashel menaikan sebelah alisnya bingung.

"Muthe," Tian mencoba memanggil Muthe yang walau menyuapi Tian namun wajahnya tetap datar tak berekspresi.

"Hmmm," sautan ini membuat Tian mengurungkan niatnya.

Baru hari ini Tian makan dengan lahap hingga lauknya habis. Delynn pun takjub melihat papinya yang sempat menolak makan total tiba-tiba berubah drastis saat ada maminya.

"Gue balik ya, kalian baik-baik, saling jaga satu sama lain," kata Ashel disambut acungan jempol Delynn dan anggukan Tian. Wajah Muthe tetap datar dan di tidak merespon Ashel.

"Inget pesen gue, mereka harta lu, jangan mau di rebut!" Bisik Ashel pada Muthe sebelum meninggalkan mereka.

Sepeninggal Ashel suasana kembali sepi. Delynn memainkan hp nya di sebelah papinya yang tidur. Sedangkan Muthe kali ini yang sedang melahap makan siangnya.

Muthe selesai makan memindahkan Delynn yang tertidur di kursi samping Tian ke sofa. Kemudian dirinya yang duduk disamping Tian, menemani Tian yang juga tidur.

Awalnya ragu, namun perlahan tangan Muthe mengelus lembut rambut Tian. Dirinya memandang dalam-dalam suaminya tersebut. Setiap Tian terusik, nama Muthe akan selalu terucap walau sesekali diselingi nama Delynn.

"Iya sayang, aku disini gak kemana-mana," kata Muthe mengelus lengan Tian. Tian merespon dengan memeluk lengan Muthe.

"Aku gak tau apa yang salah dan kurang dari aku, sampai kamu harus mencari orang lain, aku tau kamu khilaf, aku juga salah disini, aku bakal perjuangin kamu, kali ini giliran aku buktiin sama kamu, aku layak jadi istrimu," kata Muthe memandang suaminya yang terlelap. Kecup hangat di kening Tian dari Muthe menurunkan kegelisahan Tian saat tidur.

Malam itu kamar perawatan Tian dipenuhi keluarganya. Chika, Freya bahkan Aran ada disana juga. Tian terlihat lebih fresh, terutama karena adanya Muthe dan Delynn disana. Mereka bisa tertawa bersama. Terutama setelah dokter menyatakan Tian besok boleh pulang.

"Jadi sekarang dikantor, bosnya Muthe ya," kata Aran.

"Iya mami jadi bos biar papi gak nakal," celetuk Freya membuat yang lain tertawa.

Saat Muthe mau beranjak dari samping Tian, Tian langsung menangkap tangan Muthe. Muthe sempat menoleh pada Tian. Tian malah mengecup punggung tangan Muthe, membuat wajah Muthe memerah.

Malam itu hanya Delynn dan Muthe yang menginap. Setelah kepulangan Chika sekeluarga Delynn pamit ke mini market sebentar. Menyisakan suasana canggung diantara Muthe dan Tian.

"Sayang, aku boleh bicara sebentar," ucap Tian memanggil Muthe yang duduk di sofa. Muthe tidak menjawab melainkan berpindah ke sebelah Tian.

"Aku bener-bener minta maaf atas segala kesalahanku, aku khilaf, aku sudah ikhlas kalau memang harus kehilangan kamu, asal jangan pisahkan aku dari Delynn, aku gak sanggup kalau harus kehilangan kalian berdua, aku nyerah, aku bodoh tanpa kalian," kata Tian yang tanpa sadar meneteskan air matanya.

Muthe diam tak dapat mengeluarkan suara. Hanya tetes air mata yang mengalir perlahan di pipi Muthe. Dia langsung memeluk sang suami. Penuh kasih sayang, rasa rindu, dan penyesalan yang dalam.

Delynn yang sempat menongolkan kepalanya, perlahan mundur dan memberikan moment kepada kedua orang tuanya.

**************************************

Happy reading

My HubbyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang