Indah mengabarkan pada Chika bahwa sudah seminggu ini Tian tidak masuk kantor. Indah sudah berulang kali mengubungi Tian namun Tian tidak dapat dihubungi. Dirinya juga mencoba menghubungi Muthe namun tidak pernah diangkat. Muthe dan Delynn sendiri saat ini kembali kerumah lama Muthe, tempat tinggal mendiang Oma Shani.
"Khat, lu tau Tian kemana?" Tanya Chika mendatangi ruangan Khatrin.
"Hah mang Tian gak ada di apartemennya?" Tanya Khatrin. Chika hanya menggeleng.
"Muthe?" Tanya Khatrina.
"Muthe balik ke rumah mamanya, gue gak berani juga ngehubungi Muthe," kata Chika.
"Duh, kemana lagi tu anak," kata Khatrina bingung. Tiba-tiba hp nya berbunyi. Chika akhirnya meninggalkan Khatrin sambil kebingungan keberadaan adiknya.
Sementara di rumah Muthe. Delynn memulai harinya dengan suntuk dan wajah ditekuk.
"Kenapa lagi kamu?" Tanya Muthe memberikan sarapan Delynn.
"Gak papa," kata Delynn ketus sambil memulai sarapan.
"Tar cantiknya ilang lho, tar Liam lari digondol cewe lain," kata Muthe menggoda Delynn.
"Udah...," jawabnya datar. Jawaban itu membuat Muthe menghentikan aktivitasnya dan mendekat pada putrinya.
"Liam kenapa?" Tanya Muthe.
"Dia mutusin Delynn semalem, alesannya Delynn berubah, alesannya Delynn sekarang banyak nuntut ke dia, padahal Delynn tau dia lagi deket sama cewek lain," kata Delynn kesal.
"Udahlah, cowo emang semua sama," kata Muthe pasrah.
"Masalahnya dia deketin kak Callie!" Kata Delynn membuat Muthe melotot.
Sementara di rumah Callie, Liam sudah menunggu Callie di depan rumahnya dengan motornya.
"Dek, lu jangan gila, itu pacarnya Delynn kan?" Kata Iel mengintip keluar rumah.
"Gue gak ngapa-ngapain, dia aja yang tiba-tiba nyaman ma gue," kata Callie santai keluar dari rumah.
"Ancrit ni anak!" Iel hanya bisa memijat keningnya.
Kembali ke Chika yang duduk termenung di kursi singgasana adiknya. Tiba-tiba Khatrin masuk tanpa mengetuk pintu dan terburu-buru.
"Paan sih?" Kata Chika kaget. Indah yang mengiringi di belakang Khatrin sama penasarannya dengan Chika.
"Mas Gito barusan nelpon gue, dia nanya tentang Tian sama Muthe," kata Khatrina.
"Hah, mang suami lu tau?" Tanya Chika.
"Nah itu dia, pas gue tanya kok tau, dia cerita, temennya sesama dokter kandungan baru aja di ciduk polisi karena pemalsuan surat kehamilan," kata Khatrina.
"Gue masih gak paham Khat," kata Chika disambung anggukan Indah dibelakang Khatrin.
"Disalah satu nama orang yang melakukan pemalsuan ada nama Marsha sama Tian, jadi Gito nanya tentang Muthe sama Tian," kata Khatrina menggebu.
"Ih dasar bego, malah nganterin selingkuhannya ke dokter lagi," kata Chika kesal.
"Bukan kak! Lu gak dengerin gue, PEMALSUAN! Marsha malsuin surat hamil sama USG nya!" Kata Khatrina menggebu membuat Chika dan Indah melongo.
"Gue harus ngabarin Muthe!" Kata Khatrina lagi. Namun ditahan oleh Chika.
"Gak usah, gak akan ngerubah apapun, Muthe nemuin mereka make out di apart," kata Chika merunduk. Indah juga ikutan sedih sementara Khatrina malah makin ngomel-ngomel pada Tian dan keluar dari ruangan itu.
Siang itu Marsha sedang berusaha menghubungi Tian. Sejak seminggu ini Tian menghilang, Marsha mencarinya kemana-mana bahkan ke kantor dan apartemennya namun tidak bertemu dengan Tian.
Apalagi semenjak berita dokter kandungan yang membantunya memalsukan kehamilannya terciduk polisi. Dirinya makin panik takut rahasianya bocor.
"Argh, kemana sih Tian, kampret!" Marsha marah-marah sendiri gak karuan.
Sementara itu sepasang mata sejak tadi sibuk memandangi Mutiara Azzahra yang sedang membersihkan halaman rumahnya. Dua mata sendu namun penuh kerinduan, mata yang memandang Muthe dengan penuh cinta dari seberang rumahnya.
**************************************
Happy reading
KAMU SEDANG MEMBACA
My Hubby
FanfictionChrisMuth another story Jangan di bawa ke real life ya Hanya hiburan semata Jika ada kesamaan nama itu hanya kebetulan yang diniatkan saja
