Bab 14

1.6K 134 2
                                        

Malam itu Tian masih dikantornya karena membereskan pekerjaannya. Indah sekertarisnya sudah pulang sejak tadi. Tian yang terlalu lelah membaringkan badannya di sofa ruangannya. Dan tanpa sengaja dirinya terlelap.

Karena terlalu lelah dirinya tidak menyadari ada yang memasuki kantornya. Wanita berambut panjang itu memasang wajah licik melihat pria idamannya terlelap di sofa ruangannya.

Dirinya kembali melancarkan aksinya. Wanita itu perlahan membuka kemeja Tian. Dan menggoda Tian. Tian perlahan terbangun namun kepalanya terasa sangat pusing.

"Ci.. cindy...," Tian kaget melihat Cindy di depannya dengan gaun malam yang sexy baru saja membuang sebuah suntikan.

"Ngapain lu," kata Tian lemah.

"Lu punya gue! Cuman gue! Kalo gue gak bisa dapet lu, gak ada yang bisa!" Kata Cindy sebelum tertawa menyeramkan.

Tian yang tak berdaya mulai mendapatkan rabaan halus pada dada bidangnya yang sudah ter expose oleh Cindy.

Tian berusaha mengelak dari ciuman Cindy namun tenaganya tidak cukup kuat. Cindy mengabadikan cumbuan keduanya pada hp nya.

Cindy mulai duduk di atas badan Tian yang sudah bertelanjang dada. Tangan lembutnya mulai kembali menggerayangi dada Tian. Dirinya menarik tangan Tian untuk meraba dirinya. Sepanjang kejadian ini Cindy merekamnya dengan Hpnya.

"Ini bakal jadi kartu As gue buat dapetin lu!" Kata Cindy mulai berusaha membuka celana Tian.

Tiba-tiba pintu kantor Tian di buka. Aran, Chika dan Muthe masuk dan kaget melihat Tian yang tergeletak dan hampir di perkosa Cindy.

"Bajingan lu ya!" Kata Chika langsung melesakan tinjunya membuat Cindy terjatuh dari atas badan Tian.

"Kaak.. ini gak seperti yang lu liat!" Kata Cindy berusaha menutupi dirinya yang cukup terekspose.

"Kak, mas Tian gak sadar!" Kata Muthe panik. Aran segera mengangkat Tian dan membawanya pergi diikuti Chika.

"Heh Bitch! Lu bisa gak sih gak ganggu hubungan gue!" Kata Cindy marah pada Muthe.

Kali ini Muthe sudah kehilangan kesabarannya. Dia mendatangi Cindy dengan penuh amarah membuat aura Cindy bahkan kalah dengannya.

"Plak!" Satu tamparan mendarat di wajah Cindy.

"Sekali lagi gue liat lu ganggu suami gue, gue yang bakal matiin lu, paham lu!" Kata Muthe membuat nyali Cindy ciut. Bahkan dirinya mengambil Hp Cindy yang digunakan merekam dan menginjaknya hingga rusak.

"Su...suami?" Cindy berkata lirih. Muthe menunjukkan siapa dirinya, menyatakan claim dirinya atas Tian pada wanita yang selalu mengusiknya.

"Pak, jangan biarin orang ini balik ke kantor ini," kata Muthe memerintahkan pada satpam membawa pergi Cindy.

Muthe dan yang lain segera menuju rumah sakit membawa Tian yang tergeletak.

"Kondisi stabil, tapi butuh observasi dulu disini," kata Dokter menyampaikan kondisi terkini Tian.

"Lu pulang aja Muth, biar gue yang nemenin," kata Aran. Muthe hanya menggeleng.

"Tian butuh aku bang, biar aku disini," kata Muthe dengan wajah cemasnya.

"Tapi lu lagi hamil, lu juga butuh istirahat," kata Chika berusaha merayu adik iparnya. Muthe tetep kekeh disana menemani suaminya.

Akhirnya Chika dan Aran pulang dengan meminta sang supir standby di rumah sakit menemani Muthe.

Muthe tidak bisa menemani sang suami yang berada di ICU. Dirinya sibuk bergelut dengan ke khawatirannya dan masalah keluarganya.

Kegalauannya bertambah tat kala sang dokter memanggilnya mendadak. Otaknya tidak berfikir jernih. Dengan wajah panik dan khawatir dirinya menyambangi sang dokter.

"Bu, pak Tian sudah sadar, silahkan masuk," kata sang dokter. Raut lega terpancar di wajah Muthe.

Dirinya bergegas menyambangi sang suami yang sudah sadar namun masih menggunakan alat bantu nafas. Muthe mengelus lembut rambut Tian yang berantakan.

"Mas, ini aku," kata Muthe. Tian hanya membuka matanya dan mengangguk perlahan.

"Istirahat, aku ada disini nemenin kamu," kata Muthe mencium tangan Tian.

**************************************

Happy reading

My HubbyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang