Bab 8

1.6K 164 4
                                        

Muthe membawa barang-barangnya dibantu Eli dan Dey. Tidak lama supir Tian datang mengambil barang-barang Muthe dan memasukannya dalam mobil.

"Itu laki lu? Ya selera sih The, tapi ...," kata Eli berbisik sambil memandang sang supir.

"Hahaha, bukan! Udah ah, thank you ya guys, sukses terus, cepet ketemu di pusat ya!" Kata Muthe cipika cipiki dengan Dey dan Eli dan pergi meninggalkan tempat kerjanya yang lama.

Sementara di kantor Tian dirinya sedang terlelap karena terlalu lelah bekerja. Tadi pagi pun dirinya yang biasa bangun siang harus bangun pagi demi mengantar sang istri.

"Pak," Cindy melongok ke dalam ruangan. Dirinya masuk perlahan melihat Tian yang tertidur di kursi kerjanya.

Cindy berjalan perlahan mendekati Tian yang tertidur. Dirinya memandang Tian dengan senyum menggoda, sambil menaikan sebelah alisnya.

Tian yang tampan dan imut dengan badan berototnya. Menggoda semua wanita didekatnya, termasuk Cindy. Cindy memang pernah beberapa kali bertemu Tian saat pertemuan kantor sebelum Tian pulang ke Indonesia dan sejak itu dirinya merasa jatuh cinta pada Tian.

Perlahan di elus lembut rambut Tian. Dia akan berhenti saat Tian sedikit bergerak. Kemudian perlahan di bukanya kancing kemeja Tian. Diraba perlahan dada bidang Tian.

Tiba-tiba terdengar ketukan yang membuat Cindy kalang kabut. Dia mencoba membetulkan kemeja Tian seadanya. Indah membuka pintu tepat saat Cindy selesai membenarkan.

"Lho kok ada bu Cindy, bapak tidur bu?" Tanya Indah berjalan menghampiri.

"Eh iya, ini dari tadi dibangunin gak bangun," kata Cindy kalang kabut.

"Coba saya bangunin deh bu," kata Indah hendak membangunkan Tian.

"Eh gak usah, tar aja aku balik lagi," kata Cindy bergegas pergi dari sana membuat Indah bingung.

Justru saat Indah bingung Tian terbangun dan kaget melihat Indah, dan malah membuat dua-duanya setengah teriak.

"Paan sih pak!" Protes Indah.

"Kakak tuh yang bikin kaget, tiba-tiba didepan mata!" Protes Tian.

Malam itu Tian pulang dengan wajah lelah, namun Muthe yang menyambut suaminya pulang membuat Tian menjadi lebih semangat.

"Capek banget mas?" Tanya Muthe mengambil tas dan jas Tian dari tangan Tian.

"Iya... eh kamu manggil apa tadi?" Tanya Tian. Muthe jadi tersipu.

"Dah ayo makan," kata Muthe menolak mengulang dan menyeret Tian ke meja makan.

"Ih ulang dulu," kata Tian manja. Muthe tetap menolak sambil tersipu.

"Dek, makan dulu," kata Chika yang masih menemani suaminya makan.

"Iya kak, eh bang, dah balik?" Tanya Tian pada kakak iparnya.

"Oi Yan, pa kabar lu? Makan yan," ajak kakak iparnya.

Mereka melanjutkan makan setelah Muthe mengambilkan makan dan minum untuk suaminya.

"Gimana kantor?" Tanya Aran yang baru saja selesai makan.

"Aman bang, lagi banyak kerjaan aja karena mau launching barang baru," kata Tian.

"Perusahaan sekarang megang berapa area sih?" Tanya Aran.

"Hah maksudnya?" Tanya Tian bingung.

"Produk lu apa aja?" Tanya Aran lagi.

"Oh, yang bisnis utamanya masih Clothing line, sama aksesoris, sekarang juga ada manajemen artis dan model yang di pegang kak Chika, terus yang di amerika emang agak nyeleneh dulu bikin nya, soalnya diajak temen papa, yang di amrik bisnis fastfood tema indonesia, dah lumayan banyak cabangnya," kata Tian.

"Iya si papa aneh-aneh aja," kata Chika mengingat fast food masakan indo di Amrik buatan ayahnya.

"Mas aku nyiapin buat mas mandi dulu ya," kata Muthe beranjak pergi.

"Dih dipanggil mas!" Protes Chika membuat Muthe malu dan langsung kabur.

"Sirik lu," kata Tian.

"Biar aja yang, 7 tahun baru bener-bener ngejalanin pernikahan," kata Aran senyum.

Tidak lama Tian sudah bergabung dengan Muthe di kamar mereka. Muthe baru saja keluar kamar mandi setelah menyiapkan keperluan suaminya. Sementara Tian tiduran di kasurnya tanpa mengganti baju.

"Heh mandi dulu! Kotor tempat tidur nya!" Protes Muthe memukul paha suaminya.

"Capek," kata Tian lesu.

"Mandi dulu terus istirahat!" Kata Muthe kali ini mencoba lebih halus.

"Temenin ya," goda Tian karena tau akan di tolak Muthe.

Muthe dengan wajah memerah karena malu langsung memukul Tian dan menariknya untuk bangun. Tian hanya tertawa dan berjalan menuju kamar mandi.

Saat dirinya berbalik untuk mengambil handuk dirinya kaget dengan Muthe yang berdiri di belakangnya.

"Ngapain?" Tanya Tian bingung.

"Hmmm, ka.. katanya mau bareng?" Kata Muthe menunduk karena malu. Wajahnya memerah bagai tomat.

Tian tertawa, mengambil handuk yang ada di belakang Muthe dan langsung menggendong Muthe masuk kamar mandi sambil keduanya terkekeh.

**************************************

Happy reading

My HubbyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang