Chapter 4: Pisces

76.7K 2.4K 766
                                        




Aku mengalihkan pandangan dari film horor yang sedang kutonton ke arah pintu setelah mendengar suara ketukan. Kubiarkan film berhenti sementara, lalu berjalan untuk melihat melalui lubang intip.

Lagi...?

Aku perlahan membuka pintu, memandang pada orang mabuk dari kamar sebelah.

"Aku mau minta tolong sedikit."

"Tidak," aku langsung menjawab sambil menutup pintu sebelum dia bisa berkata lebih jauh, yang membuatnya tampak terkejut.

Aku kembali duduk untuk melanjutkan menonton film. Saat terdengar ketukan lagi, aku pun memasang earphone untuk meredam suara itu. Belakangan ini, aku sibuk bekerja sehingga hari ini adalah hari liburku, yang kuharapkan bebas dari gangguan.

'Biasanya juga memang tidak suka diganggu juga kan?' suara Emma bergema di benakku. Aku tak menoleh untuk melihat apa yang dia lakukan, dan tak berkata apa-apa karena fokus pada film.

Aku suka sekali menonton film horor, thriller detektif, misteri, atau film dengan plot unik dan menarik. Itu membuatku mendapat ide-ide baru. Tapi, aku tidak terlalu suka film yang menyiksa orang atau film romantis yang membosankan; aksi kadang masih bisa diterima.

Sekarang aku sedang menonton film hantu. Aku dan North sering bertukar film horor atau film seram, karena North juga suka meski dia sangat takut. Jika ada yang bertanya, caraku menghilangkan rasa takut saat menonton film horor adalah dengan melihat pembuatan adegannya, daftar pemain, dan makeup efeknya. Sudah kuberitahu North, tapi dia merasa itu membuatnya kurang terasa nyata.

Cara mengatasi takut hantu bagi diriku adalah terbiasa bertemu mereka sampai tidak lagi menakutkan. Tapi nenekku pernah berkata bahwa orang biasanya takut karena khawatir mereka akan mencelakai kita atau membawa kita pergi bersama mereka. Kalau misalnya mereka ingin membawaku, caranya sederhana—tidak perlu jadi orang baik, jadilah orang jahat. Siapa yang mau bersama orang jahat, bukan?

Tapi kalau untuk menyakiti, aku tidak tahu pasti. Karena beberapa malam yang lalu, aku hampir jatuh dari tempat tidur saat kakiku ditarik oleh hantu Donut, dan ada hantu di kamar mandi yang mencakar bagian belakang leherku. Meski begitu, rasanya hanya sedikit sakit. Kalau sangat sakit, mungkin akan kubicarakan dengan Puan Pothong, yang tak lain adalah nenekku sendiri.

Aku memperhatikan hantu dalam film dengan saksama. Terlihat menakutkan di film, tapi kalau melihat yang aslinya, rasanya tidak semenakutkan itu. Atau mungkin karena hantu yang ada di kamar denganku ini tidak ada yang benar-benar menakutkan? Hantu di kamar mandi mungkin yang paling menyeramkan karena ia tewas dalam kondisi tragis. Hantu Donut juga tewas dengan cara yang mengenaskan, tapi ia hanya terus mengeluh tentang kelaparan.

Ah, ngomong-ngomong soal Donut, aku lupa membelikannya nasi kemangi seperti janjiku. Sudah hampir seminggu lebih, kurasa. Mungkin dia sudah tidak mau lagi. Saat itu, ponsel di sampingku memberi tanda pesan dari Line. Aku meraihnya dan melihat pesan dari North.

North: 555555555555555

North: Kau benar-benar luar biasa.

Pasti soal orang itu lagi, kan?

North: Kudengar kau mengunci Donut di kamar mandi, dan hari ini malah menutup pintu di depannya.

SS: Apa yang membuatmu tertawa sampai begitu?

North: 55555555555555

SS: Kau mendengar cerita ini dari dia?

North: Tidak sepenuhnya. Dia hanya mengeluh saat kami main game bersama.

North: 55555555. Dingin sekali kau ini. Aku kasihan padanya.

[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STARCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang