Chapter 24

89.6K 2.5K 501
                                        


Aku mengembalikan Waralee ke dalam kotaknya seperti semula setelah melihat jam dan menyadari bahwa ini saatnya untuk pergi kuliah. Aku menyisihkan waktu untuk makan sebelum berjalan kaki ke kampus. Meski dia bilang aku bisa memakai motor atau mobilnya kapan saja, aku tidak ingin menggunakannya. Alasannya sederhana—aku tidak bisa mengendarai motor besar dan tidak ingin menggunakan mobil orang lain.

Aku masuk ke kamar mandi untuk mandi dan berganti pakaian dengan cepat. Walaupun sudah berusaha menerima kenyataan bahwa aku sekarang tinggal di kamarnya, aku tetap merasa tidak nyaman menggunakan kamar mandi milik orang lain.

Setelah itu, aku mengambil ranselku yang tergeletak di samping sofa, memeriksa barang-barang untuk memastikan semuanya lengkap sebelum membawa kartu akses dan keluar, lalu mengunci pintu.

Untungnya, hampir semua dosen mengunggah materi pelajaran di grup Facebook, jadi aku hanya perlu membawa tablet untuk kuliah hari ini. Bahkan, beberapa buku atau catatan seringkali tidak pernah keluar dari ranselku.

Aku mulai berjalan kaki dari kondominiumnya, melewati Fakultas Kedokteran, tempat yang pagi ini kami datangi saat dia menyeretku keluar untuk lari pagi. Jika dia memaksaku lari setiap hari, aku yakin hanya ada dua kemungkinan: aku akan mulai menyukai lari atau sebaliknya, aku akan membenci lari pagi, dan Fakultas Kedokteran.

Aku berharap aku akan menyukainya karena jika aku harus melakukannya setiap pagi, lebih baik aku menikmatinya.

Aku mampir di warung makan sederhana yang tidak terlalu ramai sebelum berjalan ke kampus dan menuju gedung tempatku belajar. Meski tidak menggunakan motor, perjalanan tidak terasa sulit karena ada layanan transportasi di dalam kampus yang selalu tersedia.

Aku mengikuti kuliah seperti biasa hingga sore hari, saat aku harus pergi ke klub seni lukis.

Aku sudah menduga bahwa aku akan ditanyai soal "tetangga sebelah" oleh teman-teman klub. Meski malas menjelaskan, tampaknya itu adalah sesuatu yang tak terhindarkan.

Aku masuk ke ruang klub dan sedikit terkejut melihat semua anggota sudah berkumpul—sesuatu yang jarang terjadi. Biasanya, akulah yang datang pertama.

"Tumben sekali hari ini kau telat," ujar Ter, salah satu teman klub, dengan nada bercanda. North sedang tertidur di meja, sementara Meow sedang menggambar sesuatu. Ia mendongak begitu mendengar Ter bicara.

"Ya, kalian datang cepat sekali," balasku.

"Kami datang seperti biasa, kok. Justru kau yang terlambat," jawab Ter.

"Ah, begitu."

"Kenapa terlambat? Dosenmu telat selesai kelas?"

"Bukan. Aku tidak membawa motor hari ini," jawabku singkat.

Setelah mendengar alasanku, Ter tampak penasaran. "Kenapa tidak bawa motor?"

Aku terdiam sesaat, memikirkan bagaimana menjelaskan situasinya. Aku pun memutuskan untuk membangunkan North. "North, bangun sebentar," kataku sambil menggoyang bahunya.

"Apaan sih?" North menggerutu, masih setengah tidur, dan menepis tanganku tanpa membuka mata.

Ter tertawa kecil. "Dia selalu begitu. Bahkan saat datang tadi, Meow yang harus membopongnya ke sini. Entah kenapa dia selalu mengantuk."

"North, bangun!" Ter berteriak sambil mengguncang bahunya dengan lebih keras.

"Astaga! Tidak bisakah aku tidur!" teriak North sambil berusaha menghindar dari tangan Ter. Namun, akhirnya dia terpaksa bangun dengan wajah masam.

"Kenapa harus membangunkan aku? Aku ingin tidur sebentar lagi," gerutunya sambil meregangkan tubuh.

"Dia yang memanggil," ujar Ter sambil menunjukku.

[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STARCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang