Di tengah ruangan yang hanya diterangi sedikit cahaya, terdengar suara jarum jam yang bergerak tiap menit, suara AC, dan tetesan air yang jatuh. Mataku menyapu seluruh ruangan; cahaya dari luar menerobos masuk melalui balkon, membentuk bayangan seseorang yang berdiri di ujung tempat tidur.
Perasaan tidak nyaman mulai mencekik, membuatku mual. Suhu di ruangan terasa jauh lebih dingin dari yang biasa. Aku perlahan menutup mata lagi, tak peduli apa aku sedang tidur atau terjaga. Beberapa saat kemudian, selimut di kakiku tertarik. Mudah ditebak siapa pelakunya; aku menggunakan kaki untuk menyingkirkan selimut kembali ke tempatnya.
Lalu bayangan di ujung tempat tidur itu mendekat dan menarik pergelangan kakiku dengan kuat. Karena terkejut, aku segera bangun dan duduk.
"Apa yang kau lakukan?" tanyaku kesal. Tak ada yang lebih menggangguku selain diganggu saat tidur, terutama saat sedang sangat mengantuk. Dia tidak menjawab, hanya mengangkat tangan kanannya dan menunjuk ke arahku.
"Apa?"
Aku mengikuti arah yang ditunjuknya.
Kalung?
"Kalung? Kau mau aku melepaskannya?"
"Tidak, aku tidak mau bicara denganmu. Aku mau tidur," kataku sambil kembali berbaring. Kali ini, gangguannya lebih kuat. Dia menarik kakiku dengan keras, membuatku meluncur mengikuti tarikan itu. Aku meraih pinggir tempat tidur dan menahan diriku agar tidak jatuh, menengadah dengan bingung.
"Oke," jawabku, sebelum duduk kembali di tengah tempat tidur dan melepas kalungku.
"Menarik kakiku dengan keras seperti itu, sangat tidak sopan. Cepatlah, katakan apa yang ingin kau sampaikan," kataku dengan nada jengkel. Ini sudah jelas sebuah pelecehan. Kalau dia menarikku lebih keras dan aku tak sempat memegang tempat tidur, aku pasti akan terluka.
Bayangan itu mulai menunjukkan wajahnya dengan lebih jelas.
Phi Donut?
Dia terlihat dalam keadaan seperti orang biasa, memakai kaos putih dan celana panjang, tanpa bercak darah, hanya sedikit pucat. Dia perlahan duduk di ujung tempat tidur.
"Kau..."
"?"
"Namamu Dao, bukan?"
"Iya. Ada apa, Phi? Aku tidak akan bergeser. Aku akan tidur di sisi kanan tempat tidur. Kalau tidak, aku tidak bisa tidur."
"Hm, bukan itu. Aku... aku minta sesuatu darimu."
"Apa?"
"Aku ingin makan nasi goreng kemangi Bibi Juum."
"...."
"Tolonglah, aku ingin sekali."
"...Jadi kau menarik kakiku hanya untuk itu?"
"Tidak, ada lagi."
"Tolong cari tahu siapa yang membunuhku."
"...Bukannya pacarmu yang melakukannya seperti yang diberitakan?"
"Aku tidak percaya pacarku yang melakukannya. Tolonglah, bantu aku."
"Tidak mau, aku malas."
Phi Donut menatapku dengan raut kecewa, lalu menghela napas pelan.
"Kenapa kau tak punya belas kasihan? Dari luar, kau terlihat seperti orang baik."
"..."
"Tidak bisakah membantuku sedikit saja? Kalau tidak, aku akan mengganggumu setiap malam seperti ini."
"..."
"Kau tahu, tempat yang kau tiduri itu... adalah tempat aku mati. Aku bisa melakukan apa saja padamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STAR
Romance=AUTHORIZED TRANSLATION= Ini adalah terjemahan Bahasa Indonesia yang sudah memiliki ijin resmi dari penulis ya 😊🫶🏻 ⭐️⭐️⭐️ Saat Arthit mengungkapkan persaannya, Daotok tidak tahu harus berbuat apa meskipun dia juga menyukainya. Tapi, yang terjadi...
![[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STAR](https://img.wattpad.com/cover/379050428-64-k883013.jpg)