Seiring waktu, Dao tampaknya semakin terbiasa dengan kamar barunya. Sedangkan aku, aku tidak memiliki masalah dengan kepindahan ini. Bahkan lebih dari itu, aku mulai terbiasa dengan keberadaan seseorang yang menjadi bagian nyata dalam keseharianku. Ketika aku bangun, aku menemukan makanan buatan rumah untuk dua orang. Rasanya semakin lama semakin enak. Aku menyiapkan makan siang untuk diriku sendiri, dan kami pergi ke kelas masing-masing. Malamnya, kami makan bersama lagi, mandi, lalu tidur bersama.
Tentu saja, itu termasuk hubungan intim. Tubuh Dao secara bertahap mulai terbiasa hingga tampaknya tidak lagi terasa sakit. Hal yang masih sulit baginya adalah kelelahan fisik. Jadi, aku harus mencoba mengurangi frekuensi dan durasi agar Dao tetap bisa bangun untuk kelas.
Aku tidak perlu menjelaskan betapa tergilanya aku padanya. Hanya melihat dia berdandan sedikit atau menyentuh tubuhnya saja sudah membuatku tergila-gila. Hasratku padanya tidak pernah berkurang, justru meningkat setiap harinya.
Lagu baruku mulai kutulis lagi setelah lagu pertamaku mendapatkan banyak respons positif. Jumlah penontonnya mungkin sudah mencapai jutaan dan terus bertambah. Untuk lagu kedua, aku menambahkan musik langsung. Aku bermain drum, dan Dao memainkan gitar. Lagu itu belum selesai.
Sudut ruang tamu yang awalnya ingin aku jadikan sebagai area seni berubah sedikit sejak kami pindah. Kini, dindingnya dihiasi gambar-gambar yang kami buat bersama. Tentu saja, gambarku tidak sebagus miliknya. Aku hanya ingin menjadi bagian dari itu. Dao tampaknya menyukainya dan berkata bahwa hasilnya indah.
Kami telah tinggal bersama hampir sebulan sekarang. Aku bisa mengatakan bahwa aku sudah terbiasa melihat sosok kecil itu berjalan di sekitar ruangan, membersihkan, memasak, menjemur pakaian, menggambar di sudut itu, bekerja di meja, kadang berpindah ke balkon atau sofa untuk bekerja, menonton film, atau membuat musik bersama.
Kebersamaan ini membuatku menyadari beberapa kebiasaan Dao, seperti ketika dia tidak tahu harus melakukan apa, dia suka berendam lama-lama, melihat pemandangan, mengambil gitar untuk bermain di balkon, atau kadang duduk diam berjam-jam tanpa melakukan apa pun. Bahkan, ada kebiasaan aneh seperti dia suka bersembunyi di lemari. Suatu hari, aku pulang ke kamar dan bingung kemana pacarku pergi. Dia bilang sudah kembali, tapi aku tidak menemukannya di mana pun. Aku sempat berpikir kalau hantu menculiknya. Akhirnya, aku menemukannya duduk menulis di dalam lemari.
Dao bilang dia suka berada di sana karena merasa bisa lebih berkonsentrasi. Tidak ada yang mengganggunya, seperti berada di dunia lain. Dia meninggalkan pintu lemari sedikit terbuka agar tidak kehabisan udara dan menaruh kipas kecil di dalamnya untuk sirkulasi udara. Itu sangat unik, sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh Dao-ku. Tentu saja, aku tidak bisa ikut masuk. Kalau aku ikut, dia pasti merasa sangat tidak nyaman. Mungkin karena tubuhnya kecil, lemari itu terasa cukup luas baginya. Dia bilang itu normal, jadi aku tidak terlalu memikirkannya.
Aku teringat teman imajinernya yang bernama Emma, sama seperti nama ibuku. Dao bilang Emma menghilang entah sejak kapan. Dia merasa sedikit sedih, tapi hilangnya Emma mungkin hal yang baik. Karena identitas Emma diciptakan Dao dari rasa kesepian. Meskipun dia tidak benar-benar sendirian, tapi karena terbiasa sendiri, dia menciptakan identitas lain untuk diajak bicara, menghiburnya saat sedih, atau menjadi penasihat saat dia kesal.
Tentu saja, aku bisa menjadi semua itu untuk Dao. Maka Emma perlahan menghilang dengan sendirinya. Seolah tidak ada lagi kebutuhan akan identitas imajiner untuk menemani, karena sekarang ada aku.
Dao benar-benar tidak suka kamar yang kotor. Sedangkan aku adalah sumber kekacauan itu. Tapi Dao tidak pernah mengeluh sekalipun. Dia hanya diam-diam membersihkan semuanya di belakangku. Dia juga mulai tahu kebiasaan burukku, seperti menggantungkan baju di kursi, meninggalkan barang-barang berserakan, dan melepas sepatu dengan sembarangan. Yang menyenangkan, Dao selalu membersihkan semuanya tanpa keluhan. Kalau kau tanya apakah aku akan mengubah kebiasaan ini, jawabannya tidak, karena Dao bilang dia bersedia melakukannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STAR
Romansa=AUTHORIZED TRANSLATION= Ini adalah terjemahan Bahasa Indonesia yang sudah memiliki ijin resmi dari penulis ya 😊🫶🏻 ⭐️⭐️⭐️ Saat Arthit mengungkapkan persaannya, Daotok tidak tahu harus berbuat apa meskipun dia juga menyukainya. Tapi, yang terjadi...
![[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STAR](https://img.wattpad.com/cover/379050428-64-k883013.jpg)