☆☆☆
(Saat ini)
Aku melihat sebuah mobil berwarna hitam pekat terparkir dari kejauhan. Mobil itu tampak mencolok dibandingkan mobil lain di sekitarnya, baik dari segi bentuk, warna, maupun harganya. Tanpa ragu, aku tahu pemilik mobil itu adalah orang yang kini berjalan sambil merangkul bahuku.
Dalam beberapa menit berjalan menuju mobil itu, sudah ada tiga orang yang berhenti untuk mengambil foto. Ketika kami berhenti di depan mobil, aku bisa merasakan lebih banyak tatapan yang tertuju pada kami.
Lengan hangat yang tadi merangkul bahuku perlahan dilepaskan. Bersamaan dengan itu, kehangatan tubuhnya pun ikut menghilang. Dia mengembalikan ponsel dan earphone milikku, lalu berjalan ke sisi pengemudi. Saat itu, aku memutuskan untuk mengatakan apa yang kupikirkan sejak pertama kali melihat mobil ini.
"Ehm, boleh minta tolong sesuatu?"
"Apa itu?"
"Bisakah kau menjemput Jhon?"
"Maksudmu ini?" katanya sambil membuka pintu mobil. Aku berjalan mendekat dengan bingung dan melihat sebuah benda bulat berwarna hitam di kursi penumpang. Jhon, kucing peliharaanku, sedang meringkuk di sana. Dia membuka matanya yang berwarna kuning dan menatapku. Tanpa pikir panjang, aku langsung menggendongnya dengan senang hati.
"Kau sudah menjemputnya?" tanyaku senang, meskipun ekspresiku tetap datar. Aku memeluk Khun Jhon erat-erat, mencium bulunya yang harum.
"Terkejut?"
Aku tersenyum kecil dan mengangguk sambil menoleh ke arahnya. Baru kusadari bahwa kaca jendela mobil sedikit terbuka, mungkin agar Johnny merasa nyaman.
"Berapa nilainya?" tanyanya tiba-tiba.
"Apa maksudmu?"
"Nilai. Kalau aku berhasil mendekatimu, dapat 100 poin, kan? Jadi, kali ini aku dapat berapa?"
"Hmm... nol."
"Hah?! Nol?!"
"Ya, nol. Dari awal, memang tidak ada apa-apa."
"Kalau begitu, kenapa aku harus repot-repot menjemputnya dari tempat Fah? Seharusnya aku menunggu sampai hari Minggu saat Fah punya waktu luang untuk mengantarnya sendiri," katanya sambil mengeluh, memasukkan tangan ke saku celananya.
"Kau mendapat rasa terima kasih."
"Lalu, mana ucapan terima kasihnya?"
"Terima kasih."
"Terima kasih kepada siapa?"
"Terima kasih, Phi Arthit."
"Dengan senyuman."
"Harus senyum juga?"
"Tentu saja."
Aku perlahan tersenyum kecil ke arahnya.
"Ah, lega rasanya. Tapi tetap saja, tidak dapat poin sama sekali?"
"Tidak." Aku menggelengkan kepala. Dia mengangkat bahu seolah berkata, Ya sudah, biarlah. Lalu, dia berjalan ke sisi pengemudi, membuka pintu, dan masuk ke dalam mobil. Aku pun ikut masuk, masih menggendong Jhon di lenganku.
Dia menyalakan mesin, dan mobil hitam itu mulai bergerak perlahan keluar dari area bendungan.
Mobil hitam itu terlihat seperti baru dibeli. Harganya pasti luar biasa mahal, sebanding dengan performanya yang mampu mencapai kecepatan hingga 400 kilometer per jam. Tapi sayang, mobil ini tidak bisa menunjukkan kemampuannya karena terjebak kemacetan. Aku melihat orang di kursi pengemudi terlihat kesal dengan situasi ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STAR
Romance=AUTHORIZED TRANSLATION= Ini adalah terjemahan Bahasa Indonesia yang sudah memiliki ijin resmi dari penulis ya 😊🫶🏻 ⭐️⭐️⭐️ Saat Arthit mengungkapkan persaannya, Daotok tidak tahu harus berbuat apa meskipun dia juga menyukainya. Tapi, yang terjadi...
![[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STAR](https://img.wattpad.com/cover/379050428-64-k883013.jpg)