Di kamar tidur yang sudah akrab, ada tempat tidur besar dengan seprai berwarna biru gelap, tirai yang gelap, meja kecil, dan lemari pakaian. Kamar ini adalah milikku sejak aku bisa mengingat, sejak dulu mainan berserakan di lantainya, sampai akhirnya penuh dengan buku pelajaran SMA. Sekarang, buku-buku itu pun sudah dipindahkan ke tempat lain.
Kamar ini telah berubah sesuai waktu dan usiaku. Tapi, karena aku harus pindah sejak lulus SMA, ruangan ini jadi lebih kosong dari yang seharusnya. Meski begitu, kamar ini tetap terasa familiar di mataku.
Rumah ini juga begitu. Meski ada yang hilang, rumah ini tetaplah rumah. Mengetahui bahwa ibu meninggalkan banyak kenangan indah di rumah ini membuatku sadar kalau rumah ini bukanlah tempat yang penuh kesedihan seperti yang dulu kupikirkan.
Alasan aku dan Direk pindah dan hanya pulang setahun sekali adalah karena kami tak tahan berada di tempat yang penuh dengan kenangan tentang kami bersama ibu. Tapi kenyataannya, kenangan terakhir ibu adalah saat kami berkumpul bersama di sini. Itu adalah masa-masa yang membuatnya sangat bahagia.
Semalam adalah malam pertama sejak lama aku bisa tidur nyenyak. Sejak aku mulai perjalanan ke luar negeri untuk mencari ibu, aku jarang mendapatkan tidur yang cukup. Aku tidak tahu apakah itu karena kelelahan yang terakumulasi selama beberapa hari atau karena hatiku sudah merasa tenang. Mungkin lebih karena alasan yang kedua.
Setelah menangis hingga tak bisa berhenti semalam, berbicara dengan Direk, memikirkan banyak hal, dan mendengar kata-kata dari anak pendek itu yang entah bagaimana membantuku, aku merasa jauh lebih baik. Rasanya seperti melepaskan semua beban yang selama ini ku pikul.
Aku seperti dilahirkan kembali menjadi diriku dalam versi baru, bangkit dari dasar jurang dengan semua senjata lengkap, siap menghadapi segala macam tantangan dunia. Mau itu pukulan atau masalah apa pun, semuanya bisa datang dan akan ku hadapi.
Ya, meskipun itu hanya omong kosong belaka. Mana mungkin seseorang bisa langsung sembuh secepat itu? Beri aku waktu. Menerima kenyataan tidak berarti bisa langsung melupakan semuanya. Luka ini mungkin tidak akan sembuh seratus persen, tapi setidaknya aku bisa berdiri di atas kenyataan tanpa merasa terlalu sakit lagi.
Aku bangun sekitar pukul sembilan lebih, mandi, dan bersiap dengan cepat seperti biasa. Setelah itu, aku turun mencari sesuatu untuk mengganjal perut, lalu naik kembali ke lantai atas. Aku membuka pintu salah satu kamar yang sering kutempati, yaitu ruang musik.
Seperti yang kalian tahu, aku memainkan drum. Ceritanya dimulai sejak masa SMA. Karena suka musik rock, aku belajar bermain drum. Direk membelikanku satu set drum dan membuat ruang kedap suara supaya tidak mengganggu orang lain. Ketika teman-temanku tahu aku bermain drum, kami membentuk sebuah band. Kami bermain musik hanya untuk bersenang-senang, menciptakan lagu-lagu yang tidak terlalu bagus untuk didengar sendiri. Tapi tiba-tiba, band kami jadi terkenal. Kami sangat populer di sekolah dan sekitarnya. Namun, ketika kami lulus, semuanya berakhir begitu saja.
Aku melihat ruang musikku dengan drum set lama yang masih ada di sana. Ada juga alat musik lain yang Direk beli untukku, kalau-kalau aku ingin mencoba suasana baru. Aku memang pernah mencobanya, tapi aku tidak terlalu suka. Yang paling kusukai adalah drum, dan setelah itu gitar.
Aku memeriksa perlengkapanku dan memastikan bahwa drumnya tidak ada masalah. Direk selalu menyuruh orang untuk merawat alat-alat musikku secara rutin. Setiap kali aku kembali, semuanya selalu dalam kondisi baik dan berada di tempat yang sama. Aku menyambungkan ponselku ke speaker Bluetooth, memilih sebuah lagu, dan alunan musik rock yang akrab mulai terdengar. Aku memutar stik drum di tanganku secara refleks dan memukul drum di depanku.
Aku membiarkan tubuhku bergerak mengikuti irama lagu tanpa berpikir, seolah-olah semua beban lepas bersama melodi yang berat. Aku memukul drum tanpa menahan diri sedikit pun. Setelah beberapa lagu, aku mulai lelah dan harus istirahat. Aku meneguk air, menyeka rambut yang jatuh di wajahku dengan kesal. Wajahku penuh dengan keringat meskipun AC sudah menyala.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STAR
Romantik=AUTHORIZED TRANSLATION= Ini adalah terjemahan Bahasa Indonesia yang sudah memiliki ijin resmi dari penulis ya 😊🫶🏻 ⭐️⭐️⭐️ Saat Arthit mengungkapkan persaannya, Daotok tidak tahu harus berbuat apa meskipun dia juga menyukainya. Tapi, yang terjadi...
![[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STAR](https://img.wattpad.com/cover/379050428-64-k883013.jpg)