Aku meletakkan botol air sambil tetap memandang ke arah yang sama. Meski wajahnya tampak lelah dan mengantuk, dia tetap berusaha untuk tidak terlelap, dengan ekspresi cemberut yang menurutku terlihat menggemaskan.
Menggemaskan?
Seumur hidupku, aku tidak pernah menganggap sesuatu menggemaskan. Tapi dengan dia, perasaan-perasaan seperti ini terus muncul, dan aku tidak lagi merasa aneh. Ini seperti pengalaman pertama untuk banyak hal dalam hidupku.
"Uh," dia menggumam pelan, tampak tidak senang ketika aku mengacak-acak rambutnya lagi karena gemas. Wajah mengantuk itu berubah masam, membuatku ingin memeluknya saat itu juga. Gerakan kecil yang dia lakukan membuatku tak bisa menahan senyum.
"Kenapa kau sangat menggemaskan!" gumamku tanpa sadar.
Orang yang kuajak bicara tidak terlalu bereaksi, tapi reaksi yang lebih besar datang dari North yang duduk di sebelahku. Matanya membelalak seperti hendak keluar dari rongganya. Bahkan Joe, yang berdiri di dekat kami, tampak tertegun.
"Apa? Kenapa kalian terkejut seperti itu?" tanyaku heran.
"Bukan apa-apa, Phi. Aku cuma perlu waktu untuk menyesuaikan diri. Aku tidak menyangka Phi-ku yang biasanya dingin bisa berubah seperti ini," ujar North sambil mengusap wajahnya. "Reaksi paling besar memang datang dari kami. Tapi lihat temanku itu."
"Dia juga terlihat terkejut, kan? Meski hanya sedikit." Aku menoleh ke arah orang yang sedang duduk. "Hei, kau terkejut, kan? Tersipu sedikit karenaku?"
"Hmm."
"Jadi, senyummu itu apa?"
"Terkejut."
"Kalau malu?"
"Hmm..." Dia mengerutkan kening, seolah mencoba berpikir.
"Kau harus berpikir dulu untuk tahu apakah kau malu atau tidak?" North bertanya, bingung.
"Aku sudah lupa bagaimana rasanya tersipu," jawabnya.
Aku menghela napas panjang. "Baguslah kalau begitu. Mungkin dia memang tersipu tapi tidak tahu. Ini seperti mengajari robot untuk merasa, kan? Sebentar lagi, aku pasti biasa."
"Baiklah, North, ajari temanmu bagaimana caranya merasa malu," ujarku sambil menatap Joe. "Ayo lanjutkan. Aku harus mencetak lima poin sebelum pulang."
"Kau serius? Satu poin saja sudah cukup," balas Joe.
"Jangan meremehkanku. Meski basket bukan olahraga utamaku, aku tetap bisa."
"Kalau begitu, bagaimana dengan pertandingan sepak bola sore nanti? Kalau kau ingin mengandalkan keahlianmu," tantangnya.
"Baiklah. Kalau aku kalah di basket, aku akan mengaku kalah total."
"Dan kalau aku kalah di sepak bola, aku akan melakukan hal yang sama," tambah Joe.
Pertarungan kami akhirnya berakhir dengan lelucon dan ejekan. Kenyataannya, basket adalah olahraga utama Joe, sedangkan aku lebih sering bermain sepak bola dan menjadi kapten tim. Jika bertanding secara individu dan kalah, aku tak punya alasan selain mengakui kekalahan.
Berbicara soal sepak bola, aku masih kesal dengan pertandingan yang lalu, meski sudah setahun berlalu. Timku kalah bukan karena aku tidak cukup baik, tapi karena permainan ini adalah olahraga tim. Lawan kami memusatkan perhatian pada diriku seolah mereka sudah merencanakannya selama bertahun-tahun. Setelah pertandingan itu, aku sangat lelah hingga harus minum-minum untuk melupakan rasa kesal.
Sementara kami saling bergantian mencetak poin, pembicaraan kami berubah menjadi obrolan santai tentang olahraga. Hill dan Joe, yang juga aktif bermain, berbagi cerita tentang bagaimana mereka melatih diri masing-masing.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STAR
रोमांस=AUTHORIZED TRANSLATION= Ini adalah terjemahan Bahasa Indonesia yang sudah memiliki ijin resmi dari penulis ya 😊🫶🏻 ⭐️⭐️⭐️ Saat Arthit mengungkapkan persaannya, Daotok tidak tahu harus berbuat apa meskipun dia juga menyukainya. Tapi, yang terjadi...
![[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STAR](https://img.wattpad.com/cover/379050428-64-k883013.jpg)