☆☆☆
Melalui pintu balkon yang terbuat dari kaca bening, aku melihat Phi pemilik rumah sedang berbicara di telepon dengan wajah yang tampak kacau, sambil berjalan mondar-mandir di balkon. Gerak-geriknya yang terlihat sibuk membuatku enggan untuk mengganggunya. Dari tempatku berdiri, aku tidak bisa mendengar suaranya, tapi sepertinya dia sedang berdebat dengan orang di ujung telepon.
Aku berada di sini karena mulai merasa lapar. Awalnya aku ingin bertanya kapan dia akan keluar untuk mencari makan, karena persediaan roti di dapur sudah habis. Kalau aku tidak makan tepat waktu, perutku akan sakit.
Melihat keadaannya, aku jadi ragu untuk membuka pintu dan keluar. Tapi, berdiri diam saja di sini sepertinya terlihat buruk, seperti aku sengaja menguping pembicaraannya, padahal aku tidak mendengar apa pun.
Aku memutuskan untuk membuka pintu dan melangkah keluar. Aku mendongak menatapnya, dia sedang memegang telepon di telinga sambil berbicara dengan nada kesal. Sepertinya mereka benar-benar bertengkar.
"Tidak, Fa. Itu tidak benar," katanya sambil menyentuh rambutnya dengan frustrasi.
"Hei," panggilku, tapi sepertinya dia tidak mendengar.
"Sudah kubilang bukan begitu! Sampai apa maksudnya..."
Dia tiba-tiba berhenti bicara dan menoleh padaku dengan ekspresi terkejut, lalu berubah menjadi kesal saat menyadari aku berdiri di sana.
"Sejak kapan kau ada di sini?"
"Baru saja."
"Baru saja? Kau menguping aku bicara di telepon?"
"Tidak. Aku hanya mau bertanya kapan kita akan makan."
Dia mengerutkan kening lebih dalam, terlihat semakin kesal, lalu kembali menempelkan telepon ke telinganya.
"Nanti kita bicarakan lagi." Dia menutup telepon dan menatapku.
"Apa yang kau dengar?"
"Tidak ada apa-apa."
"Jangan bohong."
"Serius."
"Hah, sial." Dia menghela napas panjang sambil menyentuh rambutnya lagi. "Jadi, ada apa?"
"Makan."
"Baiklah, tunggu di bawah." Dia melambaikan tangan, menyuruhku pergi. Aku pun berbalik dan turun ke sofa di lantai bawah seperti yang dia katakan.
Aku menunggu hampir sepuluh menit sampai dia akhirnya turun. Sepertinya suasana hatinya belum membaik. Aku mengikutinya menuju mobil, dan suasana di dalam mobil benar-benar sunyi. Tidak ada musik seperti biasanya. Tapi aku tidak merasa terganggu meski suasana di sekitarnya terasa menekan.
Sepertinya dia bertengkar dengan seseorang di telepon. Aku menduga itu adalah Phi pasangan Meow, karena aku sempat mendengar dia menyebut nama Fah. Kalau mereka memang bertengkar, aku harap itu tidak membuat Meow terlalu kepikiran.
Ngomong-ngomong, sekarang di Thailand sudah jam berapa ya? Jangan-jangan sudah larut malam. Mungkin Jhon sedang bersama Meow, mungkin mereka sudah tidur nyenyak sekarang.
Mobil berhenti di depan sebuah restoran. Aku mengikutinya masuk dan kami memesan makanan. Kami duduk di meja dekat pintu kaca. Aku melamun menatap pemandangan di luar, tapi kemudian merasa ada seseorang yang menatapku. Benar saja, orang yang duduk di depanku sedang menatapku dengan tajam.
"Ada apa?" tanyaku. Dia menopang dagu dengan tangan, mengerutkan kening, dan menatapku dengan ekspresi menyeramkan tanpa henti. Apa maksud tatapan itu? Apa dia sedang menyelidiki atau marah padaku?
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STAR
Romansa=AUTHORIZED TRANSLATION= Ini adalah terjemahan Bahasa Indonesia yang sudah memiliki ijin resmi dari penulis ya 😊🫶🏻 ⭐️⭐️⭐️ Saat Arthit mengungkapkan persaannya, Daotok tidak tahu harus berbuat apa meskipun dia juga menyukainya. Tapi, yang terjadi...
![[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STAR](https://img.wattpad.com/cover/379050428-64-k883013.jpg)