Aku mulai lebih tenang setelah berbicara dengan Direk. Setidaknya, aku berhasil menarik kembali kesadaranku. Aku mencoba untuk tidak terlalu yakin seratus persen bahwa orang yang anak itu ajak bicara adalah ibu. Nama "Emma" bukan satu-satunya nama di dunia ini. Lagipula, jika ibuku masih ada, kenapa dia tidak mencariku atau Direk? Selain itu, anak itu berbicara dengan "Emma" dalam bahasa Thai, sedangkan ibuku sama sekali tidak bisa berbahasa Thai.
Tapi karena kasus Donut dan anak itu terjadi hampir bersamaan, aku sempat terguncang cukup lama sebelum bisa kembali normal. Aku tidak bertanya, tidak ingin terlibat dengan anak itu, dan akhirnya melupakan soal "Emma."
Aku kembali menjalani hidup membosankan seperti biasanya.
Direk mungkin sedikit lebih baik dariku karena dia sudah menerima kematian ibu. Dia hampir seratus persen yakin bahwa ibu sudah tiada. Tapi aku? Aku hanya percaya setengahnya. Entahlah, mungkin alasanku masih mudah rapuh soal ini adalah karena aku tidak percaya begitu saja pada ucapan orang asing yang mengatakan bahwa ibuku sudah meninggal. Jujur saja, para peramal yang Direk datangi itu, seberapa bisa mereka dipercaya? Kenapa aku harus menerima begitu saja ucapan mereka bahwa ibu sudah tiada?
Hatiku masih ingin percaya bahwa dia ada. Meski aku tahu di lubuk hati, itu tidak mungkin. Aku hanya ingin bertemu, ingin berbicara, tapi karena itu mustahil, aku mencoba untuk tidak memikirkannya. Aku berusaha melupakan dan terus mengingatkan diri sendiri bahwa itu tak mungkin lagi. Tapi terkadang, harapan kecil itu muncul kembali. Benar-benar kontradiktif dan menyebalkan.
Aku masih seperti orang yang belum bisa menerima kenyataan. Jika aku sudah bisa menerimanya, mungkin semuanya akan lebih mudah, kan?
Tapi, ini diperparah lagi karena aku malah bisa bertemu dengan hantu. Itu membuatku sadar bahwa masih ada kemungkinan orang yang sudah meninggal tetap ada. Aku tahu ibu sudah melewati batas usianya, tapi aku tetap tidak ingin percaya. Dan terakhir, aku malah berharap bahwa "Emma" yang anak itu ajak bicara adalah ibuku.
Kenyataan seolah sudah jelas di depan mataku, tapi aku terus saja membohongi diri sendiri. Setiap kali aku bermimpi tentang ibu, aku selalu berpikir bahwa dia masih hidup, padahal itu hanya mimpi, dan mimpi hanyalah bagian dari pikiran kita.
Aku menghilang selama tiga hari karena pergi menjahit luka hatiku di Bali. Aku baru saja kembali menginjakkan kaki di Thailand. Aku yakin akan dimarahi habis-habisan. Tapi sudahlah, setidaknya aku merasa jauh lebih baik sekarang.
Tapi, siapa sebenarnya "Emma" yang dia ajak bicara? Biar kutegaskan, nama itu ada jutaan di luar sana, tapi kenapa harus sama dengan nama ibuku? Ibu yang dulu merokok sampai kanker memakan setengah paru-parunya. Butuh waktu lama bagiku untuk melupakan kejadian itu.
Aku menyeret tubuh lelahku kembali ke kondominium setelah perjalanan panjang dari Bali. Setelah menyimpan barang-barang, aku keluar dan mengetuk pintu kamar sebelah. Tak lama, pemilik kamar membuka pintu.
"Siapa Emma?"
"..." Dia tidak menjawab, hanya tampak bingung.
"Ah, sudahlah. Tapi, kalau kau ingin bicara dengannya, panggil dia dengan nama lain."
"Kenapa?"
"Entahlah, pilih saja nama lain. Jangan panggil dia Emma."
"... Kau mendengarnya?"
"Ya."
"Kapan?"
"Beberapa hari yang lalu."
"Ah, kau kelewatan."
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa," jawabnya singkat sebelum menutup pintu. Tapi aku segera menahan pintu dengan tanganku. Dia tampak bingung dan kembali menatapku.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STAR
Romansa=AUTHORIZED TRANSLATION= Ini adalah terjemahan Bahasa Indonesia yang sudah memiliki ijin resmi dari penulis ya 😊🫶🏻 ⭐️⭐️⭐️ Saat Arthit mengungkapkan persaannya, Daotok tidak tahu harus berbuat apa meskipun dia juga menyukainya. Tapi, yang terjadi...
![[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STAR](https://img.wattpad.com/cover/379050428-64-k883013.jpg)