"Kau mau menjatuhkanku, ya?"
"Bukan."
"..."
"Kau menggoda. Makanya aku suka."
"..."
"Aku sudah pernah bilang."
"Sial, aku ingin membuka baju dan langsung menyerang mu di sini," ucapku pelan sambil menahan diri. Kalau ini terjadi di kamar, pasti sudah bukan hanya bajuku yang kulepas, tapi juga celanaku. Sayangnya, sekarang kami masih di kuil.
Aku sampai kehilangan kendali sesaat, senyumku sulit ditahan. Hatiku berdebar kencang seperti mau mati. Tidak, tidak! Aku tidak bisa mati di sini. Aku bahkan belum jadi miliknya!
"Kita ada di kuil."
"Maksudnya, kalau di kamar boleh?"
"Bukan! Bukan itu maksudku," jawabnya cepat sambil menoleh. Aku tersenyum tanpa sadar melihat reaksinya. Sial, dia manis sekali. Orang macam apa ini?
"Kau ini bukan manusia."
"Apa maksudnya?"
"Terlalu manis, sialan."
"Kau memuji berlebihan."
"Bukan pujian. Kau memang benar-benar manis. Seumur hidupku, aku tidak pernah menemukan sesuatu yang terlihat manis. Aku bahkan tidak paham arti kata itu sebelumnya."
"..."
"Kau pasti sudah terbiasa sampai bosan, ya?"
"Bukan," ucapnya cepat lalu berhenti berjalan. Aku pun ikut berhenti sambil menatapnya bingung. "Aku tidak bosan. Sudah kubilang, kan?"
Dia berkata dengan wajah serius sebelum berjalan lagi.
"Kukira kau sudah terbiasa sampai bosan," ucapku sambil mengejar langkahnya.
Dia menggeleng pelan.
"Tidak. Kalau kau ingin mengatakannya, katakan saja."
"Shia, ini sinyal yang bagus," kataku sambil tersenyum lebar.
Seperti yang kau tahu, aku tipe orang yang selalu bicara berdasarkan perasaanku. Jadi, wajar saja kalau aku mengatakan 'aku mencintaimu, setiap setengah jam. Dan si pendek ini bilang dia tidak bosan mendengarnya. Meski sebelumnya dia bilang begitu, aku sempat khawatir kenyataannya berbeda. Tapi, apa yang dia katakan tadi adalah tanda yang bagus sekali.
"Hantu pun akan datang melihat ini."
"North, kau mengganggu saja."
"Kalian sedang mesra-mesraan?"
"Kau sedang memilih nomor lotre?" tanya si pendek sambil berjalan mendekati North yang sedang berdiri di depan papan lotre bersama Jo.
"Ya, bantu aku pilih nomor."
"Aku tidak pandai soal itu. Pilih saja angka yang kau suka."
"Aku bingung. Ada beberapa angka bagus. Phi Jo, menurutmu bagaimana?" tanyanya sambil menunjuk angka di papan lotre.
"Ambil satu nomor saja, North."
"Biar kuambil tiga sekaligus. Kalau hanya satu, nanti malah meleset. Masa aku hanya bertaruh pada satu angka?"
"Percayalah padaku. Berdasarkan pengalaman main lotre seumur hidup, orang yang serakah biasanya tidak akan menang."
"Tapi kau tetap berharap menang, kan? Apa-apaan ini?"
"Sudahlah, kau tidak paham urusan ini, jadi tutup mulut saja."
"Dasar menyebalkan," umpatku kesal. Anak ini memang suka cari masalah. "Kau tidak mau ikut? Biar kubelikan. Siapa tahu menang."
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STAR
Romansa=AUTHORIZED TRANSLATION= Ini adalah terjemahan Bahasa Indonesia yang sudah memiliki ijin resmi dari penulis ya 😊🫶🏻 ⭐️⭐️⭐️ Saat Arthit mengungkapkan persaannya, Daotok tidak tahu harus berbuat apa meskipun dia juga menyukainya. Tapi, yang terjadi...
![[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STAR](https://img.wattpad.com/cover/379050428-64-k883013.jpg)