Chapter 16: Happier

60.2K 2.4K 443
                                        


Pada sore hari di San Francisco, aku menatap keluar melalui jendela kamar pasien di rumah sakit. Tirai berwarna krem melambai tertiup angin yang masuk.

Aku merasa jauh lebih baik dibandingkan pagi tadi, saat kepalaku terasa pusing dan tubuhku menggigil hingga tak ada tenaga untuk bangkit dari tempat tidur. Aku menoleh ke tangan yang masih terpasang infus.

Biasanya, aku sering sekali keluar-masuk rumah sakit, jadi berada dalam kondisi seperti ini bukanlah hal yang asing bagiku. Kalau tanganku bisa bicara, mungkin ia sudah mengeluh, "Cukup, dong, ini sudah penuh luka."

Phi yang berada di kamar sebelah baru saja pergi dengan ekspresi tak puas setelah mengajukan banyak pertanyaan kepadaku tanpa henti. Aku baru saja berbicara dengan North, yang mengeluh bahwa aku terlalu ceroboh. North juga bilang kalau Phi di kamar sebelah sebenarnya merasa bersalah. Mungkin memang begitu, karena dia sudah meminta maaf kepadaku. Tapi ini bukan salahnya. Dia tidak memaksaku untuk melakukan apapun, kan?

Aku memang punya kebiasaan melakukan sesuatu dengan sepenuh hati, sampai sering lupa memikirkan diri sendiri. Dampak buruk seperti ini kerap terjadi. Ketika bekerja, aku selalu melakukannya dengan totalitas, sampai jatuh sakit entah berapa kali. Tapi meskipun sakit, aku tetap ingin bekerja. Itu adalah hal yang selalu dikeluhkan oleh orang-orang di sekitarku.

Aku sendiri tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku selalu merasa baik-baik saja dan yakin bisa melakukannya.

Aku berbaring santai selama setengah jam hingga dokter datang memeriksa dan mengatakan bahwa aku sudah boleh pulang karena kondisiku membaik. Setelah dokter keluar, aku berganti pakaian dan keluar dari kamar dan melihat Phi dari kamar sebelah sudah menungguku di luar.

Aku mengikutinya keluar rumah sakit setelah dia membantu membayar biaya perawatan dan mengambil obat. Langit mulai gelap. Saat sedang berkendara, dia tiba-tiba bertanya,

"Lalu, kau menemukannya tidak? Di pemakaman itu?"

"Tidak."

Dia tidak berkata apa-apa lagi, matanya tetap fokus pada jalan di depannya. Aku pun kembali menikmati pemandangan di luar jendela mobil. Tapi aku merasa aneh ketika melihat banyak arwah berjalan hilir-mudik di jalanan. Saat itu aku baru ingat kalau aku lupa memakai gelang yang seharusnya. Aku mencoba mencarinya di saku celana.

Tapi, aku tidak menemukannya. Aku ingat tadi pagi di pemakaman aku melepasnya dan memasukkannya ke dalam saku. Apa mungkin gelang itu jatuh saat aku pingsan atau ketika mengganti pakaian di rumah sakit?

...

...

Malam hari, aku melihat Phi kamar sebelah mengisap rokok yang diapit bibirnya sambil memetik gitar di tangannya.

Mungkin dia mendengar langkah kakiku, karena dia menoleh padaku.

"Kenapa tidak tidur?"

"Aku sudah bangun."

"Sudah sembuh?"

"Kupikir begitu," jawabku sambil memandangi tumpukan puntung rokok di asbak. Selain itu, beberapa kaleng bir kosong berserakan di sekitar, jumlahnya terlalu banyak untuk diminum atau dihisap oleh satu orang dalam waktu singkat.

"Kau sudah bisa mencari?" tanyanya lagi.

"Sekarang?"

"Ya."

"Sudah."

"Kau yakin?"

Aku mengangguk pelan, "Ya." Saat ini, aku merasa tubuhku sudah pulih sepenuhnya. Tidak ada lagi rasa lelah atau pusing. Mendengar jawabanku, dia meletakkan gitarnya dan bangkit berdiri. Wajahnya terlihat kelelahan, penuh kekhawatiran dan kebingungan yang hampir tak bisa ia sembunyikan.

[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STARCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang