Aku mengalihkan pandangan dari tumpukan dokumen di depanku dan memperhatikan ponsel ketika ada panggilan masuk.
[Anak Bandel]
"Ada apa?"
(Direk, petugas keamanan, tidak mengizinkan ku masuk ke perusahaan.)
"Kenapa?"
(Tidak tahu, dia orang baru atau apa, dia bilang tidak mengenalku.)
"Mungkin. Biar ku urus."
Aku menutup panggilan itu dan segera menelpon sekretaris.
(Ya, Pak?)
"Anakku berada di depan perusahaan, petugas keamanan tidak mengizinkannya masuk. Tolong bantu."
(Maaf, Pak, petugasnya keamanan baru. Aku pikir mereka mungkin tidak mengenal Tuan Arthit. Aku akan mengurusnya.)
"Hmm, tolong beritahu mereka juga."
(Baik, aku akan memperingatkan mereka. Perlukah aku potong gaji mereka?)
"Tidak perlu. Aku yakin anakku sudah memarahi mereka cukup banyak."
(Dimengerti, Pak.)
Tak lama kemudian, anakku masuk ke ruang kerjaku dan duduk. Melihat dari penampilannya, tidak heran jika petugas keamanan melarangnya masuk. Lihat saja pakaiannya—kaos tanpa lengan warna hitam, celana pendek sebatas lutut, sandal jepit, rambut acak-acakan, tato di lengan dan kaki, bahkan kumisnya tidak dicukur. Mirip seperti penjahat.
"Pakaian macam apa ini?" tanyaku.
"Kenapa memang? Direk, kau kan pemilik perusahaan. Kenapa memangnya? Dan ada apa dengan mereka? aku sudah bilang kalau aku anak pemilik perusahaan, tapi mereka tidak percaya."
"Kalau aku jadi petugas keamanan, aku juga pasti tidak akan membiarkanmu masuk," jawabku. Aku kembali menyelesaikan dokumen sebelum mengajaknya keluar dari ruangan dan melirik ke arah sekretaris yang duduk, sementara dia segera berdiri. "Kau sudah memesan restoran yang kubilang, kan?"
"Sudah, Pak."
"Aku mungkin baru kembali ke perusahaan sore nanti."
"Baik, selamat menikmati makan siang anda, Pak."
Dia membungkuk sopan. Aku dan Arthit berjalan keluar dari perusahaan, dan di sepanjang jalan aku memperhatikannya. Ya ampun, bisakah dia berpakaian lebih rapi sedikit? Dia adalah anak satu-satunya pemilik perusahaan!
"Kita naik mobil siapa?"
"Mobilmu."
"Direk kau akan menyetir mobilku?"
"Kau mau menyetir untukku?"
"Wah, kukira aku akan mendapatkan tumpangan dari pemilik perusahaan," katanya sambil menghela napas. Arthit berjalan mengitari mobil, membuka pintu dan mempersilahkanku masuk. Aku duduk di kursi penumpang, sementara dia di kursi pengemudi. Mobil ini hampir seharga tiga puluh juta, tapi lihat saja cara berpakaiannya.
"Lain kali kalau mau datang, berpakaianlah lebih baik."
"Kenapa?"
"Lihat saja aku dan kau," ujarku, sambil melirik pakaianku yang rapi dengan setelan jas.
"Kau tertarik ganti baju seperti bajuku? Kenapa aku harus mengikuti gaya bajumu?
"Setidaknya, jagalah citraku juga. Bagaimanapun aku pemilik perusahaan, meski aku ayahmu."
"Kita makan di mana?"
"Restoran yang kita kunjungi sebelumnya."
"Baik, Pak CEO," jawab Arthit sambas menyalakan mobil dan mulai mengemudi.
Mobil mendadak melaju cepat, membuatku terdorong ke belakang. Aku spontan menjulurkan tangan untuk menepuk kepalanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STAR
Romance=AUTHORIZED TRANSLATION= Ini adalah terjemahan Bahasa Indonesia yang sudah memiliki ijin resmi dari penulis ya 😊🫶🏻 ⭐️⭐️⭐️ Saat Arthit mengungkapkan persaannya, Daotok tidak tahu harus berbuat apa meskipun dia juga menyukainya. Tapi, yang terjadi...
![[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STAR](https://img.wattpad.com/cover/379050428-64-k883013.jpg)