☆☆☆
Aku melihat diriku sendiri di cermin kamar mandi, mengenakan kaus kebesaran yang panjangnya hampir mencapai paha. Setelah selesai mandi, tubuhku terasa sedikit lebih segar setelah menghabiskan waktu lama fokus pada pekerjaan. Saat aku melipat lengan baju, terdengar suara ketukan di pintu kamar mandi diikuti suara pemilik kamar.
"Bagaimana? Kau baik-baik saja? Masih sakit di pergelangan kaki?"
"Tidak apa-apa," jawabku. Pergelangan kakiku masih terasa sakit, bahkan sedikit lebih parah setelah berdiri terlalu lama untuk mandi. Tapi aku masih bisa menahannya. Aku memilih mandi sambil berdiri karena malas berendam di bathtub. Untungnya, lantai kamar mandi tidak licin, jadi aku bisa mandi tanpa masalah.
Perlahan, aku melangkah keluar dari kamar mandi dan melihat pemilik kamar berdiri menungguku. Satu tangannya memegang ponsel, berbicara dengan seseorang dalam bahasa Inggris. Alisku mengernyit heran ketika menyadari ponsel itu adalah milikku.
"Kau sedang bicara dengan siapa, kenapa pakai ponselku?"
"Oh, aku sedang bicara dengan Daddy-mu. Ah, yes, you're right, we are the winners! Hey—!" Ucapannya terputus ketika aku merebut kembali ponselku.
"Dad! Sedang apa kau? Kenapa bicara dengan dia?"
Aku langsung bertanya pada orang di telepon dengan nada tidak mengerti. Menerima telepon tidak masalah, tapi kenapa dia tampak begitu santai berbicara dengan Daddy-ku? Bahkan terdengar seperti mereka sedang bercanda.
"Oh, I like this guy. He said he loves you, and I think, wow, he is a big fan of Manchester United. Same as me!"
"Kenapa kau bicara dengan Dad?" tanyaku kepada Phi Arthit, karena Daddy-ku tidak memberikan jawaban yang jelas. Bukannya menjelaskan, dia malah berkata bahwa mereka menyukai tim sepak bola yang sama, sambil tertawa puas.
"Daddy-mu yang menelepon."
"Lalu kau jawab?"
"Ya."
"Dan kau bilang kau mencintaiku?"
"Emm... yes, I said I love you so much. I want you to be my wife. I mean it."
"Tunggu sebentar," aku mengangkat tangan, meminta waktu. "Kau bilang ke Daddy-ku bahwa kau ingin aku menjadi... istrimu?"
"Iya, dan Daddy-mu setuju."
"Serius?"
"Absolutely," jawabnya sambil mengangkat alis kecil.
"Kau benar-benar gila..." gumamku pelan sambil menghela napas panjang, lalu berjalan ke sudut lain untuk bicara dengan Daddy-ku.
"Michael, kau sudah selesai mandi?"
"Ah, Dad... aku ada alasan tertentu harus tinggal bersamanya. Tadi aku sedang mandi."
"Tak apa, kau tidak perlu menjelaskan. Dad sudah tahu. Dan Dan aku tidak keberatan. Aku suka dia. Dia adalah pria paling jujur yang pernah Dad temui."
"Dad suka dia karena dia mendukung tim sepak bola yang sama denganmu?"
"Itu salah satu alasannya. Kebetulan sekali, dia juga mengajakku bermain sepak bola bersama. Kalau ada waktu, Dad ingin pergi. Aku sudah lama tidak bermain sepak bola dengan anak-anak muda."
"Dad..." aku hanya bisa menghela napas panjang.
"Kenapa menghela napas? Kau belum menerima cintanya?"
"Tidak! Dad, dia bilang apa padamu?"
"Dia bilang dia ingin kau menjadi istrinya."
"Lalu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STAR
Romance=AUTHORIZED TRANSLATION= Ini adalah terjemahan Bahasa Indonesia yang sudah memiliki ijin resmi dari penulis ya 😊🫶🏻 ⭐️⭐️⭐️ Saat Arthit mengungkapkan persaannya, Daotok tidak tahu harus berbuat apa meskipun dia juga menyukainya. Tapi, yang terjadi...
![[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STAR](https://img.wattpad.com/cover/379050428-64-k883013.jpg)