Chapter 22: Around you

90.4K 2.5K 668
                                        


Hampir jam lima pagi, matahari belum terbit, dan suasana di luar masih redup. Udara pagi ini sedikit dingin, khas mendekati musim dingin. Aku keluar dari kamarku dengan pakaian olahraga: jaket dan celana olahraga.

Pagi ini, aku memutuskan untuk lari pagi. Sudah cukup lama aku tidak berolahraga karena tidak punya waktu. Namun, setiap kali punya waktu luang, aku pasti berolahraga. Kebiasaan ini terbawa sejak aku tinggal di San Francisco. Tubuh seperti ini tidak didapat hanya dengan duduk santai dan makan camilan, tahu.

Aku berhenti di depan pintu kamar sebelah, mengetuk beberapa kali hingga pemilik kamar itu keluar. Dia juga sudah siap dengan pakaian olahraga. Semalam, North meneleponku. Awalnya aku pikir dia akan menanyakan soal aku dan si pendek, tapi ternyata tidak. Dia mengajakku olahraga bersama Joe, dan aku yang memang sudah berniat pergi, langsung setuju. North bilang dia akan mengajak si pendek juga.

Siapa sangka, setelah semalam aku mengungkapkan semua perasaanku, keesokan paginya aku harus bangun pagi-pagi untuk olahraga bersama. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan semalam setelah aku pulang, tapi kurasa dia hanya kembali bekerja seperti biasa.

Jujur, aku suka keadaan ini. Tentu saja, aku suka dia. Aku pikir dia benar-benar orang yang luar biasa. Bahkan saat aku tidak mau melepaskan tangannya semalam, dia tetap melanjutkan pekerjaannya dengan tangan satunya. Kalau aku ingin menggenggamnya, dia membiarkan saja. Kebiasaan aneh yang tidak dimiliki siapa pun di dunia ini—itulah yang membuatnya istimewa.

Semalam, aku mengungkapkan semua perasaanku dengan jujur, tanpa memikirkan cara merangkai kata-kata yang indah. Satu, karena aku tidak pandai berkata-kata. Dua, karena aku malas dan merasa itu merepotkan. Apa yang kupikirkan dan kuinginkan, aku langsung katakan. Itu yang paling mudah.

Sebelumnya, aku sempat berpikir untuk memeluknya. Dan ketika akhirnya aku benar-benar melakukannya kemarin, rasanya luar biasa. Itu sebabnya aku memeluknya erat dan lama. Bahkan saat harus melepaskannya, aku merasa sangat menyesal. Jadi, aku memilih untuk duduk di lantai hanya agar tetap bisa menggenggam tangannya.

Aku sudah memutuskan bahwa bagaimanapun caranya, aku akan tetap berada di sisinya. Penolakan darinya tidak berarti apa-apa bagiku. Bahkan jika dia punya seribu alasan, itu tidak akan masuk akal di telingaku. Aku ingin bersamanya, maka aku harus bersama dia. Aku memang orang yang keras kepala. Dan itu masuk akal, bukan? Dia sendiri bilang bahwa dia tidak akan punya siapa-siapa seumur hidup. Jadi, tidak ada salahnya jika aku menjadi satu-satunya orang yang berada di dekatnya.

Malam tadi, aku sempat mengecup keningnya. Itu sedikit keuntungan bagiku. Setelah kembali ke kamarku, aku melanjutkan persiapan presentasi hingga larut malam. Lalu, North mengajakku olahraga, jadi aku bangun pagi-pagi tanpa masalah.

North bilang dia berhasil membujuk si pendek untuk ikut olahraga. Setelah itu, dia langsung tidur lebih awal, katanya. Sebagai seorang dokter, dia selalu menyarankan orang lain untuk cukup istirahat. Tapi pada kenyataannya, dia sendiri hanya tidur beberapa jam. Kalau begini terus, aku yang akan mati duluan dibanding pasien-pasiennya.

Orang di depanku keluar dari kamarnya dan mengunci pintu. Penampilannya tidak jauh berbeda dari biasanya, hanya saja dia terlihat sangat mengantuk.

"Sudah siap?" tanyaku. Dia mengangguk. "Kita akan lari, ya."

"..."

"Lari dari apartemen ke fakultasku," tambahku.

Dia mengerutkan alis, tampak tidak percaya. Tapi aku tidak bercanda. Kalau mau olahraga, ya harus lari. Kalau pakai mobil, itu bukan olahraga namanya.

"Lari ini hanya beberapa menit saja," kataku sambil tersenyum.

Dia hanya membalas dengan senyuman kecil, lalu mengikuti langkahku ke bawah. Kami memulai dengan pemanasan bersama.

[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STARCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang