Chapter 8: Konselor

67.7K 2.4K 446
                                        


Aku duduk bersandar sambil menopang dagu, memandang ke depan, melihat seorang dosen yang wajahnya tidak ramah terhadap mahasiswa. Saat ini sedang ada kuliah.

Sial, dosen ini sedang mengajar atau nge-rap? Kenapa seperti terburu-buru. Apa dia pikir semua orang bisa mengikuti seperti Fah atau Hill? Kasihanilah mahasiswa bodoh sepertiku ini.

"Bagian ini kita lewati, silahkan baca sendiri."

"Sial, dilewati lagi," gumamku sambil menggeser layar tablet ke slide berikutnya. Aku melirik Fah yang duduk di sebelahku. Dia sibuk mencatat dengan cepat, sementara aku? Mendengarkan saja belum selesai.

Ah, sudahlah. Tidak usah didengarkan. Nanti Fah saja yang mengajariku. Aku tinggal pinjam catatannya.

"Tolong ya, Fah," kataku sebelum menunduk dan tidur di meja. Suara rap dari dosen itu menjadi pengantar tidurku. Tidak butuh waktu lama hingga aku benar-benar tertidur lelap. Saat tersadar, seseorang membangunkanku dengan mengguncang tubuhku.

"Kelas sudah selesai, Thit."

"Hah?" Aku bersandar di kursi, melihat semua orang sedang membereskan barang mereka. "Slide-nya selesai semua hari ini?"

"Sudah selesai."

"Hebat, dosen ini memang rajin sekali."

"Besok ada kelas juga."

"Kelas lagi?" keluhku sambil menghela napas panjang. "Dosen itu gajinya berapa, ya? Kenapa rajin sekali sampai segitunya."

"Kau juga rajin mengeluh," kata Fah, sebelum kami berjalan keluar ruangan. Sekarang sudah hampir jam enam sore. Biasanya setelah kelas selesai, kami langsung pulang. Kadang-kadang kami makan bersama. Kalau makan bersama, biasanya ada aku, mereka, dan pacar-pacar mereka. Total tujuh orang. Kalau kau tanya siapa yang selalu duduk sendirian atau di ujung meja? Aku, tentu saja.

Saat turun, aku melihat pacar mereka sudah menunggu di depan. Sejak pertama kali melihat North mengenakan jas laboratorium, aku pernah bilang bahwa itu sama sekali tidak cocok untuknya. Dia membalas dengan mengatakan bahwa aku juga tidak cocok mengenakan jas dokter. Aku hanya bisa mengangguk setuju. Memang benar. Kenapa aku tidak memikirkan hal ini sejak awal sebelum masuk?

Aku menyapa North singkat, dan dia langsung mengajakku bermain game seperti biasa. Aku mampir makan sebentar di sekitar kampus sebelum kembali ke kamar. Setelah mandi dan mengganti pakaian, aku mulai bermain game. Tidak lama kemudian, North mengajakku bermain bersama.

(Phi, aku dengar kau membuat temanku menangis, ya?) tanyanya.

"Hah?" jawabku bingung.

(Ya kan? apa yang kau lakukan? Kau pasti sudah melakukan sesuatu yang membuat dia sangat kecewa.)

"Aku tidak melakukan apa pun."

(Kalau begitu, itu lebih buruk lagi. Temanku terlihat pendiam, tapi dia sangat kuat. Kalau sampai menangis, pasti kau melakukan sesuatu yang sangat menyakitkan. Jadi, apa yang sebenarnya kau lakukan?) desaknya.

"Tanya langsung padanya," jawabku dengan nada kesal.

(Dia tidak mau cerita. Katanya kau hanya diam, tapi dia terlihat sangat marah padamu. Apa yang sebenarnya terjadi?)

"Mana aku tahu. Aku bahkan tidak tahu apa yang membuatnya marah."

(Katanya kau membuat dia kecewa. Dia bilang sudah bertahun-tahun dia tidak menangis, tapi karena kau, dia menangis. Dia pasti merasa kesal."

"Sial, aku benar-benar tidak melakukan apa-apa. Dia yang kecewa sendiri, bukan salahku."

(Lalu, apa yang sebenarnya kau lakukan?)

[END] WEST : THE SUN FROM ANOTHER STARCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang